TRIBUNMANADO.COM, MANADO – Kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino tahun ini tidak hanya berdampak pada lahan pertanian di daratan Sulawesi Utara.
Di wilayah kepulauan Kota Manado, krisis air bersih kini menjadi persoalan nyata yang dirasakan warga Pulau Bunaken dan Pulau Manado Tua.
Sejak awal Agustus 2026, sejumlah sumur warga di dua pulau tersebut dilaporkan mulai mengering.
Debit air tanah menurun drastis, sementara kebutuhan air untuk mandi, memasak, dan minum terus meningkat.
Baca juga: BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca 3 Hari untuk Sulawesi Utara, Sejumlah Wilayah Waspada Angin Kencang
Kondisi tersebut memaksa warga mengandalkan distribusi air bersih yang dikirim menggunakan kapal tangki.
Namun, bantuan yang datang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan warga secara menyeluruh.
Baru-baru ini, Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulut menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 72 ribu liter ke Pulau Manado Tua.
Bantuan tersebut disambut baik oleh masyarakat. Meski demikian, warga menilai distribusi air bersih yang dilakukan masih bersifat sementara dan belum menjawab kebutuhan jangka panjang.
Pemerintah kecamatan setempat juga rutin mendistribusikan air bersih setiap minggu.
Namun, keterbatasan kapasitas membuat bantuan tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh kepala keluarga.
“Kami bersyukur kecamatan masih membantu mengirim air setiap minggu. Tapi satu kapal tangki itu harus dibagi untuk ratusan rumah. Antriannya panjang, dan kadang tidak kebagian,” ujar Rina Damanis, warga Pulau Bunaken, saat dihubungi via telepon Senin (31/8/2026).
Keluhan serupa disampaikan Jefri, warga Pulau Manado Tua.
Jefry mengaku terpaksa membeli air dari pengepul dengan harga hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal.
“Kalau hanya mengandalkan bantuan kecamatan dan sesekali dari Polairud, kami kewalahan. Kalau kemarau terus sampai Oktober seperti prediksi BMKG, kami butuh solusi yang lebih pasti dari Pemkot dan PDAM,” katanya.
Jefri berharap Pemerintah Kota Manado tidak hanya mengandalkan distribusi air dari pihak kecamatan. Menurutnya, Pemkot bersama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) perlu turun langsung mencari solusi untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat kepulauan.
“Kami minta Pemkot Manado dan PDAM segera memperhatikan kondisi kami. Jangan sampai krisis ini semakin parah dan memicu masalah kesehatan karena warga terpaksa menghemat air terlalu berlebihan,” tegas Jefri.
Menanggapi keluhan warga, Wakil Ketua DPRD Kota Manado, Meikel Damopolii atau yang akrab disapa Teba, menegaskan persoalan krisis air bersih di wilayah kepulauan harus segera ditangani secara serius.
“Ini sudah masuk kategori darurat. Kita tidak bisa hanya mengandalkan distribusi tangki dari kecamatan dan bantuan sesekali. Pemkot bersama PDAM harus hadir dengan program yang pasti,” tutur Teba.
Meikel mengungkapkan DPRD Kota Manado telah menerima aspirasi warga dan akan terus berkoordinasi dengan Pemkot Manado serta PDAM untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.
“Kami di DPRD menerima aspirasi warga. Kami tengah berkoordinasi dengan PDAM dan Pemkot Manado. Saat ini kita tengah mencari solusi jangka pendek untuk sekarang, sekaligus merancang solusi jangka panjang agar kejadian ini tidak berulang setiap musim kemarau,” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Teba ini mendorong Pemkot Manado untuk mulai mengkaji pembangunan infrastruktur pendukung penyediaan air bersih di wilayah kepulauan.
“Ke depan kita harus berani bicara soal tandon komunal, pipa bawah laut, bahkan opsi desalinasi. Warga di pulau juga warga Kota Manado. Hak mereka atas air bersih harus dijamin negara,” tegasnya.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini