Kenduri Memetri Keistimewaan DIY, Budaya Didorong Sebagai Landasan Menjawab Persoalan Zaman
Muhammad Fatoni August 31, 2026 07:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak boleh berhenti sebatas status dan seremoni.

Nilai-nilai yang terkandung dalam keistimewaan harus terus dihidupkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Kenduri Memetri Keistimewaan yang digelar di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Sleman, Senin (31/8/2026).

Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, yang mewakili Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan Kenduri Memetri Keistimewaan menjadi momentum untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, membaca kondisi saat ini, sekaligus memandang masa depan keistimewaan DIY.

Menurut dia, keistimewaan tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah status yang melekat pada Yogyakarta.

“Kita perlu terus mengingat bahwa keistimewaan tidak berhenti pada status,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebudayaan juga tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai tontonan atau kegiatan seremonial.

Lebih dari itu, kebudayaan harus menjadi cara berpikir, cara bekerja, hingga landasan dalam membangun kehidupan bersama.

Nilai Hamemayu Hayuning Bawana, misalnya, dinilai semakin relevan di tengah persoalan lingkungan dan pembangunan.

Nilai tersebut dapat menjadi pijakan dalam menjaga kelestarian lingkungan, menciptakan keseimbangan pembangunan, hingga menumbuhkan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Begitu pula dengan semangat sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh yang dapat terus dihidupkan sebagai etos dalam menjalankan tanggung jawab.

Sawiji mengajarkan fokus dan kesungguhan, greget menumbuhkan semangat dalam bekerja, sementara sengguh mengajarkan kepercayaan diri tanpa kehilangan kerendahan hati.

Adapun ora mingkuh menjadi pengingat agar tidak menghindar dari tanggung jawab.

Ariyanti mengatakan, keistimewaan harus semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, baik di desa maupun kota.

Nilai tersebut harus hadir dalam ruang budaya, ekonomi, pendidikan, pengelolaan lingkungan, pelayanan publik, hingga upaya menciptakan kehidupan yang adil, tenteram, dan bermartabat.

“Keistimewaan harus mampu menjadi instrumen untuk menjawab persoalan nyata, memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat, menjaga ruang hidup, merawat lingkungan, mengembangkan kebudayaan, serta memperkuat kehidupan bersama,” katanya.

Menurutnya, memetri berarti merawat nilai dan memahami akar, sekaligus memastikan nilai tersebut tetap hidup serta relevan ketika zaman terus berubah.

Di tengah perkembangan teknologi, perubahan sosial, tekanan terhadap lingkungan dan tata ruang, hingga persoalan ekonomi yang semakin kompleks, nilai-nilai yang tumbuh dari kebudayaan Yogyakarta harus mampu menjadi sumber daya untuk menemukan jawaban.

Melalui Kenduri Memetri Keistimewaan, masyarakat pun diajak memperbarui komitmen bersama untuk tidak hanya mensyukuri keistimewaan, tetapi juga merawat nilai-nilai yang memperluas manfaat keistimewaan bagi masyarakat.

Baca juga: Sukseskan HUT ke-14 UU Keistimewaan DIY, LPS Hadir Dekatkan Diri dengan Masyarakat dan UMKM

Lima Jodhang, Simbol Keistimewaan Milik Bersama

Semangat bahwa keistimewaan merupakan milik seluruh masyarakat Yogyakarta juga diwujudkan dalam rangkaian kenduri tersebut.

Lurah Tamanmartani, R Gandang Hardjanata, mengatakan keistimewaan DIY bukan hanya milik pemerintah daerah ataupun Keraton, melainkan milik seluruh warga Yogyakarta.

Hal itu salah satunya disimbolkan melalui penyerahan lima jodhang berisi hasil bumi dan hasil masyarakat.

Lima jodhang tersebut mewakili empat kabupaten dan satu kota di DIY.

Dengan demikian, masyarakat dari berbagai wilayah turut mengambil bagian dalam memaknai dan merayakan keistimewaan Yogyakarta.

“Keistimewaan itu wujud nyata bahwa bukan hanya milik pemerintah daerah ataupun Keraton, tetapi milik masyarakat Jogja,” ujar Gandang.

Menurut dia, isi jodhang berupa hasil bumi menjadi simbol keterlibatan masyarakat dalam merawat dan menghidupkan nilai keistimewaan.

Dari Sinau Keistimewaan hingga Wowongan Sawah

Kenduri Memetri Keistimewaan di Tamanmartani juga diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat lintas generasi.

Pada pagi hari, digelar kegiatan sinau bersama yang diikuti pelajar SMA dan SMK.

Dalam kegiatan itu, para peserta diajak memahami sejarah Yogyakarta dan perjalanan panjang yang menjadikan daerah tersebut memiliki status istimewa.

“Anak-anak SMA dan SMK tadi kita ajak belajar sejarah tentang Jogja, bagaimana Jogja itu bisa menjadi istimewa,” kata Gandang.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya pada sore hari.

Kirab tersebut melibatkan warga dari 22 pedukuhan di Kalurahan Tamanmartani.

Antusiasme warga terlihat dari keikutsertaan masing-masing wilayah untuk menampilkan ekspresi dan kreativitas dalam perayaan tersebut.

Selain kirab, sejumlah permainan dan tradisi lokal juga dihidupkan kembali, seperti lomba wiru jarik, dakon, hingga festival wowongan sawah.

Wowongan sawah merupakan bentuk tradisional yang selama ini digunakan petani untuk mengusir burung dari area persawahan.

Berbeda dengan penggunaan pestisida atau bahan kimia, cara tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat agraris.

Dalam festival kali ini, warga dari 22 pedukuhan diberi ruang untuk berkreasi membuat wowongan sawah dengan berbagai bentuk dan tampilan.

“Dulu itu digunakan untuk mengusir burung di sawah. Sekarang kita festival-kan, warga dari pedukuhan bisa berkreasi,” ujar Gandang.

Rangkaian Kenduri Memetri Keistimewaan akan ditutup dengan pertunjukan kesenian pada malam hari.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, peringatan keistimewaan tidak hanya dikemas dalam bentuk seremoni, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar sejarah, mengekspresikan kebudayaan, sekaligus merawat tradisi yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari.

Sebab, memetri keistimewaan pada akhirnya bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi memastikan nilai-nilai yang diwariskan tetap hidup dan mampu menjawab tantangan Yogyakarta di masa depan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.