Tribunlampung.co.id, Pringsewu - Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Baca juga: BMKG Ingatkan Waspada Kekeringan dan Karhutla di Lampung Selama Puncak Kemarau
Sekitar 170 hektare pertanaman dilaporkan terancam gagal panen atau puso akibat kekurangan pasokan air.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pringsewu, Luky Ardrian, mengatakan dampak kekeringan paling dirasakan pada lahan sawah tadah hujan.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi ketersediaan air yang sangat bergantung pada curah hujan.
Saat musim kemarau berlangsung panjang, tanaman padi menjadi lebih rentan mengalami kekurangan air hingga gagal panen.
“Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang, yang salah satunya dipengaruhi fenomena El Nino, memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Pringsewu,” kata Luky kepada Tribun Lampung, Senin (31/8/2026).
Ia menjelaskan, kekurangan air dapat menyebabkan produktivitas tanaman menurun, terutama ketika tanaman memasuki fase generatif.
Pada fase tersebut, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mendukung pembentukan dan pengisian bulir padi.
Jika kekeringan berlangsung dalam waktu lama tanpa penanganan, kondisi tanaman dapat semakin memburuk hingga mengalami puso.
Berdasarkan laporan petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), saat ini terdapat sekitar 170 hektare pertanaman yang terancam gagal panen akibat kekeringan.
Untuk mengurangi dampaknya, pemerintah telah melakukan sejumlah upaya penanganan, di antaranya melalui pemanfaatan sumur bor dan pompanisasi untuk menyediakan serta mendistribusikan air ke lahan pertanian.
“Dari luasan yang terancam tersebut, kurang lebih 60 hektare telah mendapatkan penanganan melalui upaya penyediaan dan distribusi air dari kegiatan sumur bor dan pompanisasi,” jelasnya.
Meski terdapat lahan yang terdampak, Luky menyebut kondisi pertanian di Kabupaten Pringsewu secara umum masih cukup baik.
Produksi pertanian masih berada pada tingkat yang cukup tinggi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Namun, bagi petani yang tanaman padinya mengalami puso, kekeringan tetap menimbulkan kerugian ekonomi. Petani kehilangan potensi hasil panen sekaligus pendapatan yang seharusnya diperoleh saat musim panen.
Di sisi lain, sebagian petani telah melakukan penyesuaian pola tanam menghadapi musim kemarau.
Khususnya pada musim tanam kedua yang bertepatan dengan masuknya musim kemarau, sejumlah petani memilih tidak menanam padi dan beralih ke komoditas yang membutuhkan lebih sedikit air.
Beberapa di antaranya memilih tanaman hortikultura atau sayuran berumur pendek yang dapat dipanen lebih cepat.
Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi ketersediaan air sekaligus menjaga agar petani tetap memperoleh pendapatan dari lahan yang dimiliki.
Luky menambahkan, pencegahan risiko gagal panen akibat kekeringan membutuhkan sinergi berbagai pihak.
Langkah tersebut perlu dilakukan mulai dari sosialisasi hingga pelaksanaan gerakan percepatan tanam.
Selain itu, petani perlu didorong menggunakan varietas atau benih berumur genjah dan memiliki toleransi terhadap kondisi kekeringan.
Penguatan infrastruktur dan sumber daya air pertanian juga dinilai penting, termasuk perbaikan maupun pembangunan jaringan irigasi, pembangunan sumur bor, serta pompanisasi pada wilayah yang memiliki potensi mengalami kekeringan.
“Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan produktivitas pertanian tetap terjaga dan petani dapat terlindungi dari risiko kerugian akibat dampak musim kemarau yang berkepanjangan,” pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Oky Indrajaya)