TRIBUNJOGJA.COM - Ada tiga pesan utama yang datang dari Banyuwangi dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Isthigotsah Bersama Untuk Bangsa dan Negara.
Yang pertama terkait dengan ajaran utama yakni Ukhuwah Wathaniyah dan Uhuwah Basyariah, yang kedua adalah soal kerakyatan dan yang ketiga soal etika politik.
Pesan tersebut disampaikan Kyai Khos pengasuh Ponpes Mansyaul Huda, KH Fathulloh Suyuti Toha, saat memimpin perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Istighosah Jama’ah Dzikir Nurul Wathon bersama TNI, Polri dan Habaib serta Masyarakat untuk Keselamatan Bangsa dan Negara di Pondok Pesantren Mansyaul Huda, Tegal Dlimo, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (28/08/2026).
Acara isthigotsah ini juga mengundang para perwakilan lintas iman.
KH Suyuti Toha yang akrab dipanggil Mbah Yai itu, mengingatkan kembali Jamaah Dzikir Nurul Wathon untuk terus memegang teguh dua nilai Nurul Wathon yang meliputi Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basyariah.
Ukhuwah Wathaniyah yakni persaudaraan atau ikatan kasih sayang antar sesama warga negara yang hidup di dalam satu wilayah dan negara yang sama, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun golongan.
Sedangkan Ukhuwah Basyariyah yakni persaudaraan universal antarsesama umat manusia.
Persaudaraan ini bersifat inklusif dan tidak mengenal diskriminasi.
“Ukhuwah Wathaniyah ini, menurunkan tiga prinsip Nurul Wathon. Yang pertama terkait dengan kebangsaan. Nurul Wathon konsisten dan proaktif mempertahankan NKRI sebagai wujud bela negara bagi bangsa Indonesia. Ukhuwah Wathaniyah menyangkut hal-hal yang sifatnya muamalah kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan. Kita sebagai sesama warga negara, siapapun memiliki kesamaan derajat dan tanggung jawab untuk mengupayakan keselamatan bangsa dan negaranya dan mempunyai tanggung jawab mengupayakan kesejahteraan dalam kehidupan bersama,” jelas Mbah Yai,
Terkait dengan nilai kerakyatan, mbah Yai menjelaskan lebih lanjut, Nurul Wathon konsisten dan proaktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun.
Sikap itu merupakan tanggung jawab Nurul Wathon.
Dalam pesan ketiganya, Mbah Yai menegaskan bahwa Nurul Wathon akan terus menanamkan etika politik kepada generasi muda, masyarakat dan bangsa pada umumnya.
Dengan cara ini, diharapkan, tercipta kehidupan politik yang santun dan bermoral, dan tidak menghalalkan berbagai macam cara.
“Etika politik harus ditanamkan agar kehidupan politik bermoral, berakhlakul karimah tidak menghalalkan segala macam cara,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Mbah Yai meminta Ketua Dewan Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathon, Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputra untuk berkeliling Indonesia agar ketiga misi Nurul Wathon tersebut terwujud.
Sebagai konsekuensinya adalah jamaah Nurul Wathon diberbagai propinsi, kabupaten seluruh Indonesia akan dilantik.
Baca juga: Sepak Terjang Gus Kikin yang Terpilih Menjadi Ketua Umum PBNU Periode 2026-2031
Dalam kesempatan yang sama, Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputra, mengungkapkan bahwa mengungkapkan KH Suyuti Toha dan Presiden Prabowo Subianto pernah mengatakan bahwa mengisi kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan perjuangan fisik tetapi juga dilakukan dengan perjuangan rohani.
Oleh karena itu, semua jamaah Nurul Wathon harus memegang teguh persatuan dan kesatuan bangsa dan NKRI itu harga mati.
Oleh karena itu, Nurul Wathon mengambil sikap tidak berpolitik.
“Kita menganggap semua anggota masyarakat dan warga negara apapun agamanya, sukunya, harus bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan. Para pahlawan dan pejuang yang sudah bersusah payah menyerahkan harta, bahkan jiwa raganya untuk kemerdekaan harus kita lanjutkan dengan menjaga dan mempertahankan NKRI. Tugas kita melanjutkan pembangunan,” ujarnya.
Menyangkut prinsip kerakyatan, lanjut Herianto, Nurul Wathon turut serta mengupayakan berbagai kegiatan yang sifatnya untuk kepentingan Masyarakat terutama dalam rangka meningkatkan kesejahteraan.
“Apa yang bisa dilakukan oleh Nurul Wathon ke depan InsyaAllah bisa membantu pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan Masyarakat,” katanya.
Terkait dengan etika politik, ditegaskan Herianto Syahputra bahwa Nurul Wathon tidak berpolitik.
“Namun kita harus menjaga program-program pemerintah yang baik tetap bisa berjalan dan tidak mendapat gangguan dari pihak-pihak yang tidak memiliki etika politik,” tandasnya.
AM Putut Prabantoro, alumnus Lemhannas PPSA XXI, pegiat kebangsaan dan pengajar ideologi menyatakan bersyukur bisa mengikuti acara Istighotsah dan dzikir bersama untuk bangsa dan negara. Ia menilai Nurul Wathon memiliki semangat sama yang selama ini ia perjuangkan yakni membangun negara, memelihara persatuan Indonesia melalui gerakan kerukunan lintas iman.
“Saya bukan tokoh agama, saya masyarakat biasa namun memiliki berbagai aktivitas yang melibatkan tokoh lintas iman,“ ujar Putut, pendiri dan penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) ini.
Untuk diketahui, Putut pernah membawa rombongan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke Vatikan, dan para pimpinan atau ketua umum organisasi kepemudaan lintas iman.
Mereka antara lain, Ketum GP Ansor Addin Jauharudin, Ketum Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma, Ketum Pemuda Muhammadiyah Dzulfikar Ahmad Tawalla, Ketum Pemuda Kristen GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat, dan Ketum Pemuda hindu Peradah, I Gede Ariwan.
Putut meyakini bahwa semua yang hadir di Ponpes Mansyaul Huda memiliki spirit yang sama dengan spirit Nurul Wathon yaitu menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.
“Kekuatan Pancasila ada pada sila ketiga yakni Persatuan Indonesia yang terbentuk dari berbagai latar belakangnya yakni suku, agama, ras, budaya dll. Jadi kalau mau menghancurkan Indonesia sikat sila ketiga saja. Namun semua itu diikat oleh sesanti Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya.
Putut mengaku mendapatkan suatu berkah nilai dari Mbah Yai dan seluruh yang hadir yang mau bersama-sama membangun, memelihara, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
“Lagu tadi, lagunya Buya Hamka menyampaikan tiga hal yang harus ditegakkan, demi negara, demi bangsa, dan demi kemakmuran. Tanpa tiga hal ini persatuan yang kita bangun tidak ada gunanya. Jadi kemakmuran harus muncul dari persatuan itu,” jelasnya. (*)