TRIBUNWOW.COM – “Tet, tet, tet.”
Bel istirahat berbunyi dari speaker yang terdengar di sudut-sudut ruang kelas. Anak-anak segera beranjak dari bangku masing-masing. Bekal yang dibawa dari rumah mulai dibuka.
Di antara riuh suara mereka, telur menjadi salah satu makanan yang disantap bersama.
“Nasinya dimakan, telurnya dihabiskan.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, tidak ada guru yang harus berulang kali mengingatkan. Anak-anak justru saling mengingatkan agar makanan mereka dihabiskan.
Bagi Tamara Karent, fasilitator JAPFA for Kids, kebiasaan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas selama mendampingi program di Lampung Selatan.
Sejak pertama turun ke lapangan, langkah dari satu sekolah ke sekolah lain menjadi bagian dari kesehariannya. Tidak semua sekolah mudah dijangkau. Jalan berbatu masih harus dilewati. Perjalanan panjang pun menjadi hal biasa.
Tetapi, rasa lelah itu terbayar ketika tiba di sekolah dan melihat anak-anak menyambut program dengan antusias, terutama saat waktu makan bersama.
“Yang paling berkesan bagi saya bukan hanya perjuangan melewati jalan menuju sekolah, tetapi melihat perubahan pada anak-anak. Mereka begitu antusias makan telur, bahkan saling mengingatkan untuk menghabiskan makanan,” ujar Tamara kepada TribunWow.com, Jumat (28/8/2026).
Apa yang dilihat Tamara menunjukkan bahwa program pemenuhan gizi tidak berhenti pada makanan yang diberikan. Di sekolah, ada kebiasaan baru yang mulai terbentuk.
Dari Sebuah Sekolah yang Runtuh
Cerita lain tentang perjalanan JAPFA mendampingi generasi muda datang dari SD Negeri Segoroyoso, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sekolah tersebut pernah mengalami masa sulit setelah gempa bumi mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Bangunan sekolah mengalami kerusakan parah hingga roboh.
Tim PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk kemudian datang ke Bantul untuk melihat kondisi masyarakat dan fasilitas pendidikan yang terdampak. JAPFA membantu membangun kembali sekolah tersebut.
Sekitar tiga bulan kemudian, bangunan yang sebelumnya roboh kembali berdiri dan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Namun, bantuan tidak berhenti setelah bangunan selesai dibangun.
“Setelah pembangunan kembali sekolah selesai, hubungan antara JAPFA dan SD Negeri Segoroyoso tidak berhenti pada pembangunan gedung semata,” kata Rina Idarini, guru SD Negeri Segoroyoso kepada TribunWow.com, Jumat (28/8/2026).
Dukungan berikutnya hadir dalam berbagai bentuk. Sekolah mendapatkan komputer, perangkat gamelan, perlengkapan sekolah, peralatan olahraga, hingga fasilitas untuk kegiatan jurnalistik.
Di bidang kesehatan dan gizi, sekolah juga mendapat pendampingan melalui JAPFA for Kids. Program yang diberikan antara lain edukasi budaya 5S, gizi seimbang, pemantauan berat badan siswa, program telurisasi, serta pengembangan kantin sekolah.
Menurut Rina, pendampingan tersebut memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan bantuan fasilitas.
Guru mendapatkan pengetahuan baru. Siswa mulai mengenal kebiasaan hidup sehat. Perlahan, kepercayaan masyarakat terhadap sekolah juga ikut tumbuh.
“Yang kami harapkan bukan hanya bantuan secara fisik, tetapi bimbingan, motivasi, dan pendampingan yang membantu guru maupun siswa meningkatkan kualitas diri,” ujar Rina.
Satu Telur, Banyak Tangan yang Terlibat
Kondisi tersebut tidak terlepas dari persoalan gizi yang masih dihadapi anak-anak Indonesia.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11,9 persen anak usia 5-12 tahun mengalami gizi lebih dan 7,8 persen mengalami obesitas. Pada kelompok usia yang sama, 11 persen anak tercatat mengalami gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator IMT/U.
Artinya, persoalan gizi pada anak usia sekolah tidak hanya berkaitan dengan kekurangan asupan. Pada saat yang sama, terdapat pula anak yang menghadapi persoalan gizi lebih dan obesitas.
Gambaran serupa ditemukan dalam pelaksanaan JAPFA for Kids.
Data yang dikumpulkan tim Social Investment JAPFA bersama puskesmas di sembilan lokasi pelaksanaan program pada 2025 menunjukkan, sebanyak 1.034 dari 15.498 siswa atau sekitar 6,7 persen tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk.
Angka tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai kondisi anak di wilayah pelaksanaan program. Di lapangan, persoalan itu kemudian dihadapi melalui pendampingan yang melibatkan sekolah, keluarga, fasilitator, dan tenaga kesehatan.
Tamara menjadi salah satu orang yang terlibat dalam proses tersebut.
Di Lampung Selatan, ia mulai turun ke sekolah dan mendampingi program. Hampir setiap hari, ia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya.
Jalan yang tidak selalu mulus menjadi bagian dari proses. Ada medan berbatu yang harus dilewati. Namun, setibanya di sekolah, perhatian Tamara kembali tertuju kepada anak-anak.
Saat jam makan tiba, beberapa anak berkumpul dan makan bersama. Suasana makan bersama membuat anak yang sebelumnya kurang bersemangat makan menjadi lebih tertarik. Anak-anak yang masih duduk di kelas dua dan tiga pun mulai saling mengingatkan.
“Nasinya dimakan, telurnya dihabiskan.”
Bagi Tamara, kebiasaan tersebut menjadi salah satu tanda bahwa anak-anak mulai memahami apa yang dilakukan.
“Yang paling berkesan bagi saya bukan hanya perjuangan melewati jalan menuju sekolah, tetapi melihat perubahan pada anak-anak. Mereka begitu antusias makan telur, bahkan saling mengingatkan untuk menghabiskan makanan,” ujarnya.
Namun, pekerjaan fasilitator tidak berhenti ketika telur sudah sampai di tangan anak.
Bukan Sekadar Memberikan Telur
Dalam enam hari setiap pekan, fasilitator berkeliling ke sekolah untuk memantau konsumsi telur sekaligus pola makan siswa penerima manfaat.
Yang diperhatikan bukan hanya apakah telur dimakan. Fasilitator juga melihat makanan lain yang dikonsumsi anak, mulai dari sumber karbohidrat, protein, sayur, hingga buah.
Setiap Sabtu, kegiatan Hari Sehat JAPFA digunakan untuk memberikan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Anak-anak mendapatkan materi mengenai empat pilar gizi seimbang, mencuci tangan menggunakan sabun, pemeriksaan kebersihan kuku, hingga makan bekal bersama.
Guru ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Orang tua juga dilibatkan untuk memantau kebiasaan makan anak di rumah.
Komunikasi antara sekolah, orang tua, dan fasilitator dilakukan melalui grup WhatsApp. Dari sana, fasilitator dapat mengetahui bekal yang dibawa anak dan kebiasaan makan mereka di rumah.
Pemantauan kondisi anak juga dilakukan setiap bulan melalui pemeriksaan berat dan tinggi badan.
Dengan pola tersebut, pemenuhan gizi tidak dibebankan kepada satu pihak. Anak, guru, orang tua, fasilitator, dan tenaga kesehatan memiliki peran masing-masing.
Telur memang menjadi bagian yang paling terlihat dari program tersebut. Namun, di baliknya ada proses yang melibatkan banyak pihak. Guru mendampingi anak di sekolah, orang tua memperhatikan kebiasaan makan di rumah, fasilitator berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, sementara tenaga kesehatan memantau pertumbuhan anak. JAPFA berperan menghubungkan berbagai pihak tersebut agar pendampingan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Yang kami pantau bukan hanya apakah anak makan telur atau tidak. Kami ingin melihat mereka tumbuh sehat, makan dengan gizi seimbang, dan terbiasa menjalani hidup bersih. Tujuan akhirnya bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi memastikan anak-anak punya bekal kesehatan yang baik untuk masa depan,” ungkap Tamara.
Untuk menjalankan proses tersebut, Tamara bahkan memilih berhenti sementara dari dunia model. Ia ingin fokus menjalankan tugasnya sebagai fasilitator JAPFA.
Selama 18 tahun berjalan, cakupan program pun terus meluas.
Berdasarkan data JAPFA, sejak 2008 hingga 2026, JAPFA for Kids telah dilaksanakan di 28 provinsi dan 106 kabupaten/kota. Program tersebut menjangkau 1.308 sekolah, 14.713 guru, dan 217.706 siswa.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa pengalaman yang ditemui Tamara di Lampung Selatan merupakan bagian kecil dari proses yang telah berlangsung selama hampir dua dekade.
Program itu pun tidak berhenti di sekolah dasar.
Dari Anak yang Belajar Makan, hingga Anak Muda yang Belajar Bermimpi
Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, upaya mendampingi generasi muda hadir dalam bentuk yang berbeda. Salah satunya melalui Beasiswa JAPFA.
Bagi Andhika Dwinugroho, salah satu penerima beasiswa, keputusan mendaftar awalnya sederhana. Ia ingin membantu meringankan beban keluarga sekaligus mencari kesempatan untuk mengembangkan dirinya.
Kondisi keluarga yang tergolong kelas menengah membuatnya harus mencari jalan lain agar bisa terus berkembang.
“Waktu itu saya hanya berpikir, boleh juga, coba saja. Saya mendaftar dengan modal nekat dan berikhtiar terlebih dahulu,” ungkap Andhika saat berbincang dengan TribunWow.com melalui Zoom, Selasa (11/8/2026).
Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, Andhika harus melewati tiga tahapan, yakni seleksi administrasi, psikotes, dan Leaderless Group Discussion (LGD).
Dari proses tersebut, ia mendapatkan pengalaman yang menurutnya tidak kalah penting dari bantuan pendidikan yang diterima.
“Menurut saya, beasiswa bukan hanya tentang menerima bantuan, tetapi juga tentang apa yang bisa kita berikan kembali,” katanya.
“Saya Dulu Orang yang Biasa Saja”
Andhika tidak datang dengan daftar panjang prestasi akademik.
Ia mengaku sejak SD hingga SMA bukan termasuk siswa yang menonjol dalam bidang akademik. Perubahan justru mulai dirasakan ketika ia mengikuti organisasi dan berbagai kegiatan.
Salah satunya ketika menjadi panitia Summit Internasional.
Dari berbagai kegiatan tersebut, ia mulai berani mencoba hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.
Kesempatan kemudian datang ketika ia mengetahui adanya Beasiswa JAPFA.
“Saya dulu merupakan orang yang biasa saja. Tapi dari berbagai kesempatan, saya mulai menemukan bahwa ternyata saya juga mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan,” ujarnya.
Dari 6.500 orang yang mendaftar, Andhika menjadi salah satu penerima beasiswa.
Ketika mengetahui namanya masuk dalam daftar penerima, ada satu kalimat yang terlintas di pikirannya “Ternyata saya bisa juga.”
Bagi Andhika, pengalaman tersebut bukan hanya tentang berhasil mendapatkan beasiswa. Ia justru mulai melihat bahwa kesempatan dapat membuat seseorang berani mencoba sesuatu yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan.
Beasiswa yang Tidak Berhenti di Penerima
Setelah menjadi penerima Beasiswa JAPFA, Andhika mendapatkan lebih dari dukungan finansial.
Ada pelatihan, kesempatan mengenal industri, pengembangan karier, hingga pengalaman terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat.
Salah satunya melalui Proyek Aksi untuk Nusantara. Dalam program tersebut, awardee diberi ruang untuk menentukan sendiri bentuk kontribusi yang ingin dilakukan.
“Melalui Proyek Aksi untuk Nusantara, awardee seperti saya diberi kesempatan menentukan sendiri bentuk kontribusi yang ingin dilakukan dengan menyusun proposal berdasarkan persoalan yang ingin diselesaikan di daerah tertentu,” jelas Andhika.
Program lain seperti JAPFA Career Talk dan Industry Visit juga memberikan kesempatan kepada penerima beasiswa untuk mengenal dunia kerja. Mereka juga mendapatkan peluang magang.
Bagi Andhika, pengalaman tersebut membuat beasiswa memiliki arti yang lebih panjang daripada sekadar bantuan pendidikan.
18 Tahun, dan Perjalanan yang Belum Selesai
Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs JAPFA, mengatakan JAPFA for Kids selama 18 tahun menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.
“Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” ujar Rachmat.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut tidak hanya mengandalkan pemberian makanan.
Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA, mengatakan program dijalankan melalui sejumlah kegiatan yang saling melengkapi, mulai dari pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan berat dan tinggi badan, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat.
“Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA,” kata Retno.
Edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, dan monitoring berkala menjadi bagian lain dari program tersebut.
Prof. Sandra Fikawati menilai edukasi mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk media.
“Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak. Media memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat, terutama mengenai pentingnya konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, serta pembiasaan perilaku hidup sehat sejak usia dini,” ujar Prof. Sandra.
Perubahan itu tidak selalu terlihat dalam angka. Di sekolah, perubahan bisa muncul dari hal sederhana: anak-anak mulai saling mengingatkan saat makan, guru ikut memperhatikan, dan orang tua mengetahui apa yang dibawa anak dari rumah.
Bagi JAPFA, pola tersebut menjadi bagian dari pendampingan yang tidak berhenti pada pemberian telur. Ada guru yang mendampingi di sekolah, orang tua yang memantau di rumah, fasilitator yang datang dari satu sekolah ke sekolah lain, serta tenaga kesehatan yang ikut melihat perkembangan anak.
Selama 18 tahun, JAPFA for Kids telah hadir di 28 provinsi, 106 kabupaten/kota, 1.308 sekolah, serta menjangkau 14.713 guru dan 217.706 siswa.
Di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kesempatan itu berlanjut melalui Beasiswa JAPFA. Bagi Andhika, kesempatan tersebut membuatnya berani mencoba dan menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak ia sadari.
Dua cerita itu memang berbeda. Namun, keduanya menunjukkan hal yang sama: apa yang diberikan hari ini dapat menjadi bekal untuk langkah berikutnya.
Bel istirahat mungkin hanya berbunyi beberapa menit. Setelah itu, anak-anak kembali ke kelas. Tetapi kalimat “Nasinya dimakan, telurnya dihabiskan” masih tertinggal sebagai kebiasaan yang mereka bangun bersama.
Dari kebiasaan sederhana itu, 18 tahun JAPFA for Kids menemukan maknanya: bukan hanya tentang apa yang diberikan kepada anak, tetapi tentang siapa saja yang ikut mendampingi mereka sampai mampu tumbuh dan menentukan langkahnya sendiri.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)