TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Peningkatan kepekatan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu operasional penerbangan di Bandara Juwata Tarakan, Kalimantan Utara.
Penurunan jarak pandang hingga batas ekstrem pada Senin (31/8/2026) siang memaksa dua pesawat komersial mengalihkan pendaratan (divert) dan tertahan di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan.
Dua armada yang terdampak adalah pesawat Super Air Jet nomor penerbangan IU 535 rute Balikpapan–Tarakan dan Batik Air nomor penerbangan ID 6675 rute Jakarta–Tarakan.
Kepala Bidang Teknik dan Operasi Kantor UPBU Juwata Tarakan, Fahruddin Rahmat, mewakili Kepala Bandara Juwata Tarakan Bambang Hartato, menjelaskan kabut asap yang menyelimuti Bumi Paguntaka dipicu karhutla di sejumlah kawasan Kalimantan yang terbawa pergerakan angin.
"Namun demikian, seperti kita ketahui, karena memang anginnya bergerak dari arah selatan menuju ke utara, jadi dampak yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut adanya asap yang bergerak dan terdampak juga sampai ke wilayah Kota Tarakan," ujarnya saat diwawancarai di kantornya, Senin (31/8/2026) sore.
Penurunan visibilitas akibat paparan asap, kata Fahruddin, sebenarnya sudah terpantau sejak 10 Agustus 2026, namun dampaknya kian signifikan dalam dua hari terakhir.
Pada Minggu (30/8/2026), jarak pandang sempat berada di bawah ambang batas aman pada siang hari. Kendati demikian, jadwal penerbangan belum terganggu karena tidak ada pesawat yang dijadwalkan masuk pada jam tersebut.
Jarak pandang kemudian kembali membaik hingga 3.000 meter pada sore hari sehingga penerbangan malam berjalan lancar.
Baca juga: Tebal Sekali Kabut Asapnya Kesaksian Penumpang Super Air Jet yang Gagal Mendarat di Tarakan
Namun, situasi cuaca memburuk drastis pada Senin siang. Sekitar pukul 14.00 WITA, jarak pandang merosot hingga 1.000 meter, bahkan menyusut hingga tersisa 500 meter pada pukul 14.30 WITA.
Kondisi ini membuat proses pendaratan pesawat tidak dapat dilakukan demi keselamatan penerbangan.
Penerbangan Super Air Jet IU 535 yang dijadwalkan mendarat pukul 13.05 WITA sempat melakukan holding di udara selama kurang lebih 25 menit. Karena jarak pandang tidak kunjung membaik, pilot mengambil keputusan untuk divert balik ke Balikpapan.
"Sampai saat ini masih menunggu di Balikpapan perkembangan lebih lanjut cuaca dan jarak pandang yang ada di Bandara Juwata," ucap Fahruddin.
Nasib serupa dialami penerbangan Batik Air ID 6675 dari Jakarta. Setelah sempat melayang memutari udara Tarakan (holding) selama 20 menit dari jadwal pendaratan pukul 14.06 WITA, pesawat akhirnya mengalihkan pendaratan ke lokasi yang sama.
"Saat ini juga masih menunggu perkembangan. Jadi penumpang yang ada di onboard di pesawat tersebut kami dapat info bahwa turun dari pesawat dan masih sambil menunggu perkembangan kondisi cuaca di Bandara Juwata membaik," jelasnya.
Baca juga: Pesawat Super Air Jet Gagal Mendarat di Tarakan Gegara Kabut Asap, Penumpang Kembali ke Balikpapan
Berbeda dengan siang hari, penerbangan pada Senin pagi seperti Citilink, Super Air Jet, dan Lion Air sempat beroperasi normal karena jarak pandang masih memenuhi kriteria standar keselamatan minimum.
Pihak otoritas bandara terus memantau dinamika cuaca secara ketat bersama BMKG dan AirNav Tarakan. Pada pukul 16.00 WITA, jarak pandang dilaporkan mulai berangsur membaik ke kisaran 1.000 meter.
Terkait kelanjutan penerbangan yang tertahan di Balikpapan, pihak maskapai Batik Air dilaporkan telah mengajukan slot masuk susulan ke Tarakan sembari menunggu kepastian kondisi visual di area landasan pacu secara menyeluruh.
"Laporan terakhir, alhamdulillah ini pukul 16.00 Waktu Indonesia Tengah sudah mulai membaik, jarak pandang saat ini sudah kurang lebih di 1.000 meter. Jadi harapannya semoga semakin membaik dan asap yang saat ini terdapat di Kota Tarakan ini bisa hilang, harapannya begitu," jelas Fahruddin.
(*)
Penulis: Andi Pausiah