TRIBUNWOW.COM - Potongan kain yang tersisa dari produksi pakaian biasanya berakhir di tempat sampah. Namun, bagi Fila, kain-kain tersebut masih bisa dipakai.
Potongan kain berbahan rayon yang datang kepadanya dipilah terlebih dahulu. Ada yang masih bisa digunakan, ada pula yang harus disisihkan karena tidak memungkinkan untuk dijahit.
Fila kemudian menyatukan potongan-potongan tersebut menjadi daster. Motifnya dibuat sedemikian rupa agar tetap enak dipandang ketika sudah menjadi pakaian.
“Kalau dari bahannya itu, yang penting bahannya rayon. Kalau saya produksinya khusus bahannya rayon. Terus untuk ukurannya biasanya itu campur. Jadi kita tetap dipilih lagi, mana yang bisa jadi, mana yang enggak dibuang,” ujar Fila Ayu Ningsih kepada TribunWow.com, Senin (31/8/2026).
Tidak semua kain yang datang bisa langsung digunakan. Motifnya pun kadang masih bercampur.
“Pertama kan kain itu motifnya disamakan dulu. Kadang kalau datang itu ada sih motifnya masih pencar-pencar. Jadi bajunya kan serasi, maksudnya semotif bagus,” katanya.
Setelah motif dipilih dan disesuaikan, kain dirapikan. Potongan-potongan itu kemudian masuk ke proses jahit hingga menjadi daster.
“Pokoknya dirapikan dulu bentuknya, dijahit. Itu bisa jadi baju,” ujar Fila.
Bagi Fila, proses tersebut sederhana. Tetapi dari potongan kain yang tersisa itu, lahir produk yang kemudian dijual dan menghasilkan uang.
Usaha daster sambung yang dijalankan Fila kini tidak lagi dikerjakan seorang diri. Ada 29 penjahit yang terlibat dalam proses produksi dan satu orang admin.
Menariknya, para penjahit tersebut tidak harus datang ke satu tempat untuk bekerja. Fila mengantarkan bahan yang akan dikerjakan ke rumah masing-masing penjahit. Seminggu kemudian, pakaian yang sudah selesai diambil kembali.
“Kita ngantar bahan, terus setiap minggu ngambil yang jadi. Proses cutting sampai finish itu ibu-ibu itu sendiri. Jadi satu orang itu sudah bisa cutting sampai finish,” tutur Fila.
Sistem tersebut membuat pekerjaan bisa menyesuaikan dengan aktivitas para penjahit yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga.
“Kerjanya masing-masing fleksibel. Karena ngerjainnya di rumah, jadi mereka kayak bebas. Pagi bisa bersantai dulu. Nanti kerjanya kalau sudah longgar, baru kerja. Enggak dituntut sampai malam juga. Yang penting seminggu sekali setor,” katanya.
Penghasilan dari menjahit daster itu pun digunakan untuk berbagai kebutuhan keluarga.
“Rata-rata soalnya gini, anaknya masih kecil-kecil. Terus itu rata-rata bisa buat biaya sekolah. Terus yang ikutnya udah agak lama itu bisa buat beli motor anaknya soalnya udah SMA,” ujar Fila.
Jadi, kain yang sebelumnya hanya berupa sisa potongan tidak berhenti sebagai bahan yang terbuang. Setelah melalui proses pemilahan dan jahit, kain tersebut berubah menjadi pakaian.
Sebelum memproduksi daster sendiri, Fila lebih dulu mengenal dunia perdagangan sebagai reseller fashion perempuan.
Ia mulai bergabung dengan Shopee sekitar 2016 atau 2017. Saat itu, menurut Fila, banyak pembelinya berasal dari luar daerah. Kondisi tersebut membuatnya mencoba memperluas penjualan melalui Shopee.
“Join Shopee itu kalau enggak salah 2017 atau 2016. Dulu aku reseller Mbeting, fashion cewek. Awalnya buka Shopee itu karena pembelinya di luar-luar banyak, akhirnya coba jualan di Shopee,” katanya.
Pada awalnya, penjualan belum banyak. Bahkan setelah usaha reseller yang dijalankannya mulai macet sekitar masa pandemi, Fila kembali mencoba mengandalkan penjualan melalui platform digital.
“Sampai 2019, Corona itu, reseller Mbeting macet, sudah enggak ada pembelinya. Akhirnya ya nyoba jualan dan tersambung di Shopee itu. Tapi lakunya baru paling satu, dua, terus seminggu belum tentu laku,” ujar Fila.
Pelan-pelan, permintaan mulai muncul. Bukan hanya dari pembeli online, tetapi juga dari pelanggan offline.
Dari situ muncul keberanian untuk memproduksi sendiri.
“Terus lama-lama banyak permintaan dari offline juga ada. Nah, itu berani jahit sendiri, produksi itu,” katanya.
Keputusan tersebut kemudian membawa Fila pada produk yang sekarang menjadi ciri khas usahanya: daster sambung berbahan kain perca.
Penjualan daster melalui Shopee belum langsung ramai. Fila baru mulai lebih serius melakukan live pada 2024.
“Rame-ramenya Shopee-ku itu naik daster baru tahun 2024, enggak salah. Akhirnya bulan Juni aku akal-akalan live,” tuturnya.
Pada minggu pertama, live yang dilakukan setiap hari belum mendatangkan penonton.
“Coba tiap hari live. Selama seminggu pertama enggak ada yang nonton. Terus tak rutini terus. Meledaknya ya 2025 kemarin itu sampai sekarang,” katanya.
Konsistensi itu akhirnya membuahkan hasil. Pesanan yang masuk mulai berupa paket grosir dalam jumlah besar.
“Alhamdulillah, orderan malah paket besar-besar, isi 50, isi 100. Jadi kadang paketnya sehari itu paling banyak 10, kadang lima, tapi isinya banyak,” ujar Fila.
Setelah Lebaran, produksi bahkan pernah mencapai 500 hingga 600 daster dalam sehari.
“Habis Lebaran kemarin sehari bisa ngeluarin daster itu 500 sampai 600 piece. Tapi ya itu, live-nya rutin banget,” katanya.
Fila biasanya melakukan live pada malam hari setelah anak-anaknya tidur. Siaran bisa berlangsung hingga tengah malam.
“Aku biasa live-nya nunggu anak-anak tidur. Jadi jam 8 itu kadang sampai jam 1,” ujarnya.
Daster sambung yang ditawarkan juga memiliki pasar tersendiri. Harganya relatif terjangkau, sementara motifnya mengikuti selera konsumen.
“Soalnya dari sisi anak muda, motifnya kekinian cuma harganya murah. Jadi mereka, misalnya mau dijual lagi, masih bisa,” katanya.
Bahkan ada reseller yang rutin mengambil produk Fila dalam jumlah besar. Setiap minggu, permintaannya bisa mencapai 800 hingga 1.000 potong untuk daster dewasa.
“Setiap minggu dia minta sekitar 800 sampai 1.000 piece yang dewasa. Kalau anak biasanya 500 sampai 600 piece,” ujar Fila.
Reseller tersebut sudah bekerja sama dengan Fila sejak 2021.
Bagi Fila, memanfaatkan kain perca bukan semata-mata soal membuat produk yang murah. Ada bahan yang memang masih bisa dimanfaatkan sehingga tidak langsung dibuang.
Namun, ia juga tidak memaksakan semua potongan kain untuk digunakan. Kain tetap dipilih berdasarkan kondisi, ukuran, dan motif.
Kisah Fila juga sejalan dengan dorongan pemerintah terhadap pengembangan UMKM yang lebih berkelanjutan.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman sebelumnya mendorong penguatan UMKM melalui akses pembiayaan, peningkatan kapasitas, digitalisasi hingga perluasan pasar. Pemerintah juga mulai mendorong pengembangan UMKM hijau sebagai bagian dari upaya menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Bagi Fila, praktik tersebut tidak lahir dari istilah UMKM hijau. Ia hanya berangkat dari kebutuhan usaha, bahan yang masih bisa dipakai jangan sampai terbuang percuma.
Pertumbuhan usaha Fila juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara orang berbelanja.
Shopee hadir sebagai bagian dari perjalanan Fila untuk menjangkau pembeli. Ia mengaku sudah merasa nyaman menggunakan platform tersebut karena pembeli lebih mudah ditemukan dibandingkan sejumlah platform lain.
“Karena sudah lama pakai. Terus sudah nyaman di Shopee ini. Pembeli malah mudah dapatnya di Shopee kalau saya daripada yang lain,” kata wanita berusia 34 tahun tersebut.
Ketika pesanan mulai meningkat, dampaknya ikut terasa pada orang-orang yang bekerja bersamanya.
Salah satunya Adelia Salsabila, 21 tahun, yang bergabung bersama Fila sejak Juli 2025.
Bagi Adelia, pekerjaannya bukan sekadar membantu packing atau pekerjaan administrasi. Ia juga mulai belajar bagaimana menjalankan usaha.
“Saya pribadi itu kayak ngebantu aku buat belajar bisnis. Jadi pelan-pelan aku itu ngikutin Kak Fila kayak dagang. Di lingkungan aku sendiri, aku promosi daster-daster itu,” ujar Adelia.
Adelia masuk ketika penjualan melalui TikTok mulai menurun. Fila kemudian mencoba mengembangkan penjualan melalui Shopee.
Pada awalnya, mereka harus melakukan live berjam-jam tanpa banyak pesanan.
“Pas di Shopee itu kita dari pagi sampai sore nge-live. Itu belum ada penjualan. Istilahnya kayak babat alas,” katanya.
Pesanan yang masuk hanya satu atau dua.
Setelah sekitar dua bulan dilakukan secara rutin, jumlah pesanan mulai berubah.
“Nah, setelah kita babat alas dua bulanan itu, alhamdulillah kencang banget orderannya sampai tembus 25 paket,” ujar Adelia.
Karena Fila menjual secara grosir, 25 paket tersebut berarti jumlah pakaian yang jauh lebih banyak.
“Kita itu grosiran, jadi satu paketnya 10. Kalau dikalikan 25 itu sudah lumayan banget,” katanya.
Ketika Pesanan Bertambah, Pekerjaan Ikut Terbuka
Pertumbuhan penjualan membuat kebutuhan produksi ikut naik. Dari sinilah Fila kemudian melibatkan semakin banyak penjahit rumahan.
Sekarang ada 29 penjahit dan satu admin yang terlibat dalam usahanya.
Bagi para penjahit, pekerjaan tersebut bisa dilakukan tanpa meninggalkan rumah terlalu lama. Mereka bisa menyesuaikan waktu mengerjakan pesanan dengan pekerjaan rumah tangga.
Bagi Fila sendiri, hasil usaha belum seluruhnya digunakan untuk kebutuhan pribadi.
“Untuk saat ini sih dapat apa ya, Mas? Cuma masih bisa nambah tabungan,” katanya.
“Uangnya selama ini masih tak putar-putar terus. Putar di situ. Cuma paling ya buat beli kendaraan,” lanjutnya.
Fila juga tidak memiliki pengalaman bekerja secara formal. Setelah menyelesaikan kuliah, ia langsung memilih berjualan daster.
“Belum pernah kerja formal. Lulus kuliah langsung jualan daster,” ujarnya.
Usaha yang awalnya dijalankan sendiri itu kini telah melibatkan puluhan orang.
Bagi Fila, semua itu berjalan sebagai bagian dari usaha sehari-hari.
Ia tidak berbicara tentang konsep besar ketika menjelaskan harapannya. Ia hanya ingin usahanya terus berjalan dan bisa tetap menghasilkan dari rumah.
“Harapannya yang penting Shopee masih ada. Jadi kita di rumah ini tetap bisa menghasilkan cuan walaupun di rumah,” pungkasnya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)