Andalkan Digitalisasi, Kerajinan Klobot Jagung dari Madiun Mampu Tembus Aceh hingga Sulawesi
Alga W September 01, 2026 02:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Saat banyak orang dari daerah merantau ke kota besar, Galih Tirtayasa (34) justru memilih pulang ke kampung halaman.

Bukan tanpa alasan, pria asal Ngawi, Jawa Timur, ini melihat potensi besar dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.

Baca juga: Pembangunan TPA Baru Ponorogo Terancam Batal Tahun Ini Imbas SK Menteri Kehutanan Belum Terbit

Dengan tangan terampilnya, Galih menyulap kulit jagung kering atau klobot dan botol bekas menjadi bunga hias yang cantik dan menarik.

Dipadukan dengan pemasaran digital, produk kriya yang diproduksinya secara mandiri di Kabupaten Madiun tersebut kini mampu menjangkau konsumen hingga berbagai penjuru Nusantara.

Kisah tersebut bermula pada 2018, ketika Galih masih bekerja di Jakarta.

Di sela kesibukannya sebagai pekerja formal, ia menghabiskan waktu sepulang kerja di kamar kos berukuran sekitar 3x3 meter di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Saat itu, Galih sekadar menyalurkan kegemarannya membuat hiasan bunga, khususnya untuk kebutuhan hantaran pernikahan.

"Awal mula saya dulu mulai dari tahun 2018, waktu saya masih di Jakarta. Waktu itu iseng-iseng, bosan sama pekerjaan yang formal. Saya ingin buat yang lain seperti bunga-bunga. Saya coba bikin sampel, ternyata lumayan hasilnya," kata Galih saat ditemui di Galeri Project Linea, Jalan Tidar, Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Senin (31/8/2026).

Hasil kerajinan tersebut kemudian ia tawarkan kepada kolega dan teman-teman kerjanya.

Tak disangka, produk buatannya mendapat respons positif dan mulai terjual.

Setahun menekuni hobinya, muncul gagasan untuk menggunakan bahan yang berbeda.

Kebetulan, Galih mendapat kabar dari keluarganya di Ngawi bahwa daerah tersebut sedang memasuki musim panen jagung.

Klobot atau kulit jagung yang melimpah membuatnya berpikir untuk memanfaatkan limbah pertanian tersebut sebagai bahan baku kerajinan.

"Saat itu kebetulan dapat telepon dari keluarga di Ngawi kalau sedang musim panen jagung. Jadi terpikir saja, bagaimana kalau diganti klobot jagung," jelasnya.

Eksperimen pun dilakukan, Galih mencoba mengolah klobot jagung menjadi bagian dari bunga hias yang sebelumnya menggunakan bahan kertas.

Pilihan tersebut ternyata tepat, pada tahun 2019, dekorasi dengan tema rustic sedang banyak diminati.

Karakter klobot jagung yang menampilkan kesan alami dan klasik dinilai cocok dengan tren tersebut.

Dari sekadar iseng, usaha Galih pun berkembang.

Ia bahkan sempat mempekerjakan tiga orang ketika permintaan produknya meningkat di Jakarta.

Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, Galih akhirnya mengambil keputusan besar.

Ia meninggalkan pekerjaan formalnya dan memilih total menekuni usaha kriya.

Keputusan tersebut sekaligus membawanya kembali ke daerah.

"Setahun saya menekuni ini, saya keluar dari pekerjaan saya dan saya total di klobot jagung seperti ini," ujarnya.

Baca juga: 30 Sekolah di Kota Kediri Ikuti Pendampingan Sekolah Sehat & Ramah Anak Berbasis Deep Learning

Memulai usaha dari kampung halaman tentu bukan perkara mudah.

Salah satu persoalan terbesar yang mengganjal pikirannya saat itu adalah bagaimana mendapatkan pasar.

Galih kemudian memanfaatkan marketplace sebagai pintu masuk untuk menjangkau konsumen.

Sejak sekitar 2019, ia mulai memasarkan produknya melalui Shopee.

Menurutnya, karakter produk yang dijual merupakan barang non-primer.

Oleh karena itu, Galih memilih strategi sederhana, yaitu menampilkan produknya di lokapasar tersebut dan membiarkan konsumen yang memang membutuhkan mencarinya.

Berkat konsistensnya, perlahan, pesanan muncul dan bertambah yang juga meningkat kepercayaan konsumen pada akun @project_linea.

Sekitar 2021, pesanan mulai datang secara rutin setiap hari.

Tak hanya dari Jawa Timur, konsumen Galih justru banyak yang berasal dari luar Pulau Jawa. 

Produk yang ia buat tersebut pernah dikirim hingga Aceh dan Sulawesi Utara, bahkan, pengiriman ke Bali juga rutin dilakukan.

Dalam sehari, pesanan yang masuk bisa mencapai lebih dari 20.

Namun, Galih membatasi jumlah paket yang diproses dan dikirim maksimal sekitar 10 paket per hari.

Pembatasan tersebut dilakukan agar kualitas produk tetap terjaga, mengingat seluruh proses produksi kini dikerjakannya seorang diri.

Di rumah kontrakannya di Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Galih mampu memproduksi sekitar 50 tangkai bunga per hari.

Terbantu marketplace

Produk yang dihasilkan pun semakin beragam.

Selain bunga, ia membuat vas bunga, hiasan meja serta berbagai pernak-pernik untuk seserahan, mahar, dan hantaran.

Salah satu produk yang paling banyak diminati adalah bunga lili yang dijual secara satuan.

Model penjualan tersebut membuat konsumen bisa membeli sesuai jumlah kebutuhan dengan harga yang relatif terjangkau.

Harga produk Galih dibanderol mulai sekitar Rp2.500 hingga Rp30 ribu.

Bunga satuan menjadi produk dengan harga termurah, sedangkan produk yang lebih mahal berupa rangkaian hingga tujuh tangkai atau cabang lengkap dengan vas.

Menurut Galih, keberadaan marketplace merupakan angin segar bagi pelaku Usaha Mikor Kecil Menengah (UMKM) di daerah seperti dirinya.

"Tinggal unggah foto, produk kita bisa dibeli konsumen dari mana saja," lanjutnya.

Dari penjualan melalui Shoppe, omzet yang diperoleh Galih kini berkisar Rp 4 hingga 5 juta perbulan

"Ya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya dan keluarga," ucapnya.

Berkat digitalisasi, bahan yang dahulu terbuang sia-sia, kini justru menjadi bagian penting dari usaha yang menopang kehidupan Galih dan keluarganya.

Baca juga: Keseruan Lomba Panjat Pinang di Halaman Pendopo Trenggalek, Tradisi Digelar Tiap Tahun

Sementara itu, Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menekankan pentingnya digitalisasi sebagai solusi bagi pelaku UMKM dalam menekan ongkos produksi yang kian meningkat di tengah kenaikan harga plastik yang tidak terkendali.

Menurutnya, penguatan pemasaran berbasis digital menjadi langkah strategis agar UMKM tetap mampu bersaing tanpa harus terbebani biaya operasional yang tinggi.

"Marketing itu sangat dibutuhkan. Makanya kami latih digitalisasi dalam pemasaran. Dengan TikTok dan media sosial lainnya, teman-teman UMKM bisa memasarkan produknya tanpa harus ke mana-mana. Dari rumah sudah bisa," ujar Hari Wur, sapaan akrabnya, saat memimpin Program Bahana Bersahaja di Desa Bancong, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun.

Ia menjelaskan, pemanfaatan platform digital terutama marketplace mampu memangkas biaya promosi, distribusi dan bahkan pelaku UMKM tidak perlu menyewa kios.

"Kalau biaya tinggi, otomatis harga naik. Tapi kalau promosi bisa dilakukan dari rumah, biaya bisa ditekan dan harga tetap terjangkau," imbuhnya.

Pemkab Madiun juga memberikan kemudahan dari sisi legalitas dan permodalan terutama upaya untuk mengakses keuangan digital (digital finance) bagi pelaku UMKM.

Hari memastikan, pelaku UMKM kini dapat mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) secara gratis, serta mendapatkan dukungan dalam pengurusan izin edar melalui kerja sama dengan BPOM.

"NIB tanpa biaya, kemudian untuk BPOM kita sudah kerja sama. Jadi produk UMKM kita dijamin aman," terangnya.

Dengan kepastian keamanan tersebut diharapkan konsumen tidak berpikir dua kali untuk membeli UMKM Kabupaten Madiun, sehingga omzet pelaku UMKM bisa melonjak yang juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kabupaten Madiun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.