Kunci Jawaban Sejarah Kelas 11 Halaman 57-60 Kurikulum Merdeka Edisi Revisi, Asesmen Bab 1
Vanda Rosetiati September 01, 2026 02:32 AM

Namun, sebelumnya sangat disarankan agar siswa mencari jawaban tersebut terlebih dahulu dan menjadikan kunci jawaban sebagai referensi atau rujukan jawaban. 

Kunci jawaban berikut untuk soal pada buku Sejarah untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi) ditulis Martina Safitry, Indah Wahyu Puji Utami, Wahyu Djoko Sulistyo yang diterbitkan Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, KemendikbudRistek 2024. 

Halaman 57 sampai 60 memuat soal Asesmen Bab 1: Kolonialisme dan Perlawanan Bangsa Indonesia.  

Selengkapnya, Tribunsumsel.com hadirkan Kunci Jawaban Sejarah Kelas 11 Halaman 57-60 Kurikulum Merdeka Edisi Revisi, Asesmen Bab 1 diolah berdasarkan buku panduan guru diakses Senin (31/8/2026). 

____________

Kunci Jawaban Sejarah Kelas 11 Halaman 57-60 Kurikulum Merdeka Edisi Revisi


ASESMEN

Pilihan Ganda

1. Bacalah potongan tulisan Didik Prajoko dan Bambang Budi Utomo (2013) berjudul Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia berikut ini.

Pelaut yang mengendalikan sebuah pelayaran besar tentu saja harus terampil dalam pengetahuan arah angin di Nusantara. Sumber-sumber tertulis sering menginformasikan perbedaan waktu tempuh setiap kapal dalam jarak yang relatif sama. Fa Hsien pada 414 Masehi mengeluh bahwa ia harus menempuh lebih dari 50 hari perjalanan (waktu tempuh umum pada waktu itu) dari Malaka ke Kanton. Sebaliknya, Chia Tan (abad ke-8 Masehi) berlayar dari Kanton ke “Selat” dalam waktu 18,5 hari—suatu kemajuan yang besar. Namun, hal itu tidaklah seberapa jika dibandingkan
dengan Ch’ang Chun (abad ke-7 Masehi) yang berlayar dalam 20 hari dari Kanton ke selatan Semenanjung Tanah Melayu, atau I-t’sing pada 671 Masehi yang berlayar dari Kanton ke Sriwijaya dalam waktu kurang dari 20 hari. Sebelas abad kemudian, pelayaran Tomé Pires (1517) untuk jalur
yang sama memerlukan waktu lebih lama, yaitu 45 hari.

Pilihlah semua pernyataan yang sesuai dengan sumber sejarah sekunder di atas!

A. Pelayaran jalur laut di Nusantara pada abad ke-16 lebih cepat daripada abad ke-7.

B. Kecepatan pelayaran besar di Nusantara di masa lalu bergantung pada keterampilan pelaut.

C. Catatan pelayaran pada abad ke-7 menunjukkan waktu tempuh yang berbeda pada rute yang sama.

D. Catatan tertulis pelayaran laut dari Kanton ke Malaka dengan durasi terlama berasal dari abad ke-4.

E. Kapal yang ditumpangi I-ts’ing pada abad ke-7 jauh lebih cepat daripada kapal yang ditumpangi Tomé Pires pada abad ke-16.

Kunci Jawaban:

B, C, D, E


Untuk soal nomor 2 dan 3, bacalah potongan tulisan yang disarikan dari karya Iswara N. Raditya yang berjudul Pembantaian Orang-orang Banda berikut ini!

Kepulauan Banda merupakan salah satu penghasil rempah terbaik dunia. Pada tahun 1621 armada Belanda di bawah J.P. Coen melakukan ekspedisi untuk menguasai wilayah ini. Kekuatan armada Belanda saat itu terdiri dari 13 kapal angkut dan beberapa kapal pengintai yang membawa tidak kurang dari 1.600 orang tentara, 300 orang narapidana dari Jawa, 100 orang samurai bayaran dari Jepang (ronin), 286 budak belian, ditambah 40 awak kapal. Dalam ekspedisi tersebut, armada Belanda membantai orang-orang Banda. Akibat pembantaian tersebut, dari 15.000 penduduk Kepulauan Banda saat itu diperkirakan hanya tersisa kurang dari 1.000 orang.
Setelah membunuh sebagian besar penduduknya, Belanda lalu menguasai Kepulauan Banda yang amat kaya dengan rempah-rempah.

 

2. Pilihlah semua pernyataan yang benar tentang armada VOC yang dibawa oleh J.P. Coen ke Banda pada tahun 1621!

A. Seluruh anggota armada VOC didatangkan langsung dari Belanda.
B. Sekitar 12 persen dari armada VOC terdiri dari kalangan budak.
C. Sekitar 10?ri armada VOC adalah narapidana dari Jawa.
D. Sekitar 10?ri armada VOC adalah para ronin yang berasal dari Jepang.
E. Sebagian besar dari armada VOC terdiri dari para tentara.

Kunci Jawaban:

B, C, D, E

3. Salah satu dampak dari peristiwa pembantaian penduduk Banda oleh VOC pada than 1621 adalah …

A. Penduduk Banda trauma dan tidak mau lagi menanam pala.
B. Berkurangnya petani yang memahami tentang budidaya pala.
C. VOC berhasil memonopoli budidaya pala di dunia.
D. Timbulnya berbagai perlawanan balas dendam rakyat Banda.
E. Meningkatnya produksi pala di Kepulauan Banda tahun 1622

Kunci Jawaban:

B


4. Setelah terjadinya Perjanjian Bongaya yang sangat merugikan Kerajaan Makassar, banyak pelaut dan bangsawan Makassar yang meninggalkan tanah kelahirannya. Banyak di antara mereka yang kemudian menyerang kapal-kapal dagang Belanda, misalnya di kawasan perairan Nusa Tenggara.

Banyak di antara kapal tersebut rusak berat, tenggelam, atau barang dagangannya hilang. VOC menuding para pelaut Makassar ini sebagai perompak.

Dalam perspektif sejarah Indonesiasentris, tindakan para pelaut Makassar tersebut sebenarnya merupakan ...

A. Upaya meneruskan perlawanan kepada VOC
B. Pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial Belanda
C. Perompakan yang tidak dibenarkan dalam hukum laut
D. Upaya menguasai wilayah perdagangan di Nusa Tenggara
E. Upaya mencari sumber kekayaan baru setelah jatuhnya Makassar

Kunci Jawaban:

A

5. Undang-undang Agraria 1870 seringkali disebut sebagai awal politik ekonomi pintu terbuka. Peraturan ini mengundang investasi Eropa di Hindia Belanda sehingga memunculkan banyak perkebunan dan pembangunan infrastruktur seperti jalan, kereta api, hingga rumah sakit.

Namun, di balik perkembangan yang menguntungkan bangsa penjajah, ada pula berbagai penderitaan rakyat, misalnya dalam bentuk poenale sanctie. 

Pilihlah semua pernyataan yang benar tentang poenale sanctie!

A. Pemilik perkebunan diperbolehkan memberikan hukuman sesuka hatinya kepada para pekerja.
B. Hukuman diberikan setelah adanya keputusan dari pengadilan kolonial terhadap pekerja.
C. Hukuman cambuk merupakan salah satu contoh poenale sanctie di wilayah perkebunan Deli.
D. Hukuman gantung merupakan jenis poenale sanctie yang paling sering diterapkan.
E. Poenale sanctie banyak dipraktikkan di perkebunan wilayah Sumatra Timur.

Kunci Jawaban:

C, E

Esai

1. Interaksi bangsa-bangsa di Nusantara dengan berbagai bangsa asing dalam jalur rempah telah menjadikan Nusantara sebagai kancah lebur kebudayaan. Sebutkan tiga contoh adopsi dan akulturasi kebudayaan jalur rempah yang masih bisa ditemui di masa kini!

Kunci Jawaban:

Tiga contoh adopsi dan akulturasi kebudayaan jalur rempah yang masih dapat ditemui saat ini adalah:

  • Masjid dengan arsitektur perpaduan lokal dan Islam, seperti masjid kuno yang memiliki bentuk atap bertingkat.
  • Kuliner, misalnya penggunaan rempah-rempah seperti cengkih, pala, lada, dan kayu manis dalam berbagai makanan Nusantara.
  • Tradisi dan kesenian, seperti perpaduan budaya lokal dengan pengaruh Arab, India, Cina, dan Eropa dalam musik, pakaian, bahasa, dan upacara masyarakat.


2. Bagaimana keterkaitan antara jatuhnya Konstatinopel 1453 dan perjumpaan bangsa Indonesia dengan bangsa Eropa dalam jalur rempah?

Kunci Jawaban:

 Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani pada 1453 menyebabkan jalur perdagangan Eropa menuju Asia semakin sulit dan mahal. Bangsa-bangsa Eropa kemudian mencari jalur laut baru untuk mendapatkan rempah-rempah secara langsung. Pencarian tersebut mendorong pelayaran bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda hingga mencapai Nusantara yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah.

3. Bagaimanakah dinamika hubungan saudagar dan penguasa lokal di Nusantara sebelum datangnya 
bangsa Eropa?

Kunci Jawaban:

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, hubungan saudagar dan penguasa lokal umumnya saling menguntungkan. Saudagar membutuhkan perlindungan, keamanan, pelabuhan, serta izin berdagang, sedangkan penguasa memperoleh keuntungan berupa pajak, upeti, dan pemasukan dari kegiatan perdagangan. Hubungan perdagangan juga mendorong pertukaran budaya dan berkembangnya kota-kota pelabuhan di Nusantara.

4. Bagaimanakah karakteristik perlawanan terhadap Belanda sebelum dan sesudah abad ke-19?

Kunci Jawaban:

Sebelum abad ke-19, perlawanan terhadap Belanda umumnya bersifat lokal dan kedaerahan, dipimpin oleh raja, bangsawan, atau tokoh daerah. Perlawanan juga belum terkoordinasi secara luas antardaerah. Setelah abad ke-19, perlawanan mulai berkembang dengan munculnya organisasi modern dan kaum terpelajar. Perjuangan kemudian semakin bersifat nasional, terorganisasi, dan memiliki tujuan yang lebih luas untuk mencapai kemerdekaan.

 

5. Mengapa Belanda mendirikan STOVIA pada awal abad ke-20?

Kunci Jawaban:

Belanda mendirikan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) untuk mendidik masyarakat pribumi menjadi tenaga dokter yang dapat membantu menangani masalah kesehatan di Hindia Belanda. Selain memenuhi kebutuhan tenaga medis dengan biaya relatif murah, pendidikan tersebut kemudian melahirkan kaum terpelajar pribumi yang berperan penting dalam perkembangan pergerakan nasional Indonesia.

===

Demikian Kunci Jawaban Sejarah Kelas 11 Halaman 57-60 Kurikulum Merdeka Edisi Revisi, Asesmen Bab 1.

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 40 Semester 1, Cerpen Saat Ayah Meninggal Dunia

Baca juga: Kunci Jawaban PAI Kelas 11 Halaman 59-62, Penilaian Pengetahuan Bab 2

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.