Selat Hormuz Memanas Lagi, AS dan Iran Saling Jual Beli Serangan
Hari Susmayanti September 01, 2026 07:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. 

Kedua negara terlibat aksi jual beli serangan untuk pertama kalinya sejak akhir Juli. 

Militer AS menggempur sasaran di Pulau Larak, Selat Hormuz. 

Serangan itu langsung dibalas Iran dengan tembakan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania serta menembak jatuh drone milik Washington. 

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melaporkan bahwa serangan AS menargetkan dua peluncur roket di Pulau Larak.

Insiden ini dikonfirmasi sebagai serangan pertama AS ke wilayah Iran sejak Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara kampanye militernya akhir Juli. 

BBC melaporkan, Senin (31/8/2026), insiden ini menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya. 

Di sisi lain, Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) mengonfirmasi telah mengambil tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan peletak ranjau yang menimbulkan ancaman nyata di Selat Hormuz. 

Merespons gempuran di Pulau Larak, IRGC menyatakan telah menembak jatuh drone AS di atas Selat Hormuz. 

Beberapa jam kemudian, media pemerintah Iran memuat pernyataan resmi IRGC yang mengonfirmasi peluncuran rudal balistik ke dua pangkalan militer AS di Yordania, yaitu King Hussein dan al-Azraq. 

IRGC mengklaim serangan balasan tersebut menyebabkan kerusakan berat serta berhasil menargetkan infrastruktur teknis, fasilitas perawatan, dan posisi jet tempur musuh. 

Sementara itu, pihak militer Yordania mengonfirmasi telah mencegat delapan rudal pada Senin pagi. 

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan posisi negaranya sebagaimana dikutip media pemerintah dari laporan AFP. 

"Kami tidak mencari perang, tetapi kami akan memberikan respons tegas kepada para agresor," ujar Pezeshkian. 

Juru Bicara IRGC Hossein Mohebbi mengecam tindakan Washington sebagai langkah yang amat berbahaya. 

Dia menyebut serangan tersebut sebagai kesalahan strategis dan fatal dari rezim Trump. 

"Musuh akan membayar konsekuensi dari salah kalkulasi ini, baik di bidang ekonomi maupun militer," tutur Mohebbi. 

Baca juga: Dipicu Saling Tuduh Soal Ponsel, Munil Dianiaya Kawannya Berkali-kali

Video Trump

Beberapa jam pascaserangan, Trump mengunggah sejumlah video di platform Truth Social yang diduga berbasis akal imitasi (AI). 

Video tersebut memperlihatkan ledakan besar pada infrastruktur minyak. 

Salah satu unggahan diberi keterangan "Pulau Kharg diledakkan hingga hancur berkeping-keping". 

Sebelumnya, pekan lalu Trump mengeklaim bahwa seluruh ranjau yang dipasang Iran di Selat Hormuz telah diledakkan atau disingkirkan. 

Dia memeringatkan bahwa kapal apa pun yang mencoba menyebarkan ranjau baru akan dihancurkan. 

Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi membantah klaim tersebut dan menyatakannya sebagai bentuk penipuan propaganda. (kpc)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.