TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - PSIM Yogyakarta akan menghadapi musim baru Super League 2026/2027 dengan ekspektasi yang jauh lebih tinggi. Namun, kondisi tersebut tak membuat pelatih Jean-Paul van Gastel gentar.
Musim lalu, Van Gastel berhasil membawa PSIM tampil cukup impresif sebagai tim promosi. Laskar Mataram mengakhiri kompetisi di peringkat ke-11 dan mampu memberikan kejutan dengan menumbangkan sejumlah tim besar.
Persebaya Surabaya, Malut United, hingga Bali United pernah menjadi korban PSIM. Sementara ketika menghadapi Persib Bandung, PSIM mampu mengamankan hasil imbang.
Pencapaian tersebut membuat standar terhadap PSIM otomatis meningkat memasuki musim ini. Apalagi, komposisi tim juga mengalami perubahan dengan hadirnya sedikitnya delapan pemain baru, termasuk lima pemain asing.
Van Gastel menyadari ekspektasi besar yang kini mengiringi PSIM. Meski demikian, ekspektasi tersebut tidak membuat pelatih asal Belanda itu kehilangan fokus. Van Gastel justru menjadikan kerja keras sebagai pegangan utama dalam menghadapi tuntutan yang semakin besar.
Menurutnya, setiap pagi ia selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa telah memberikan kemampuan terbaik untuk PSIM. “Setiap pagi ketika saya bangun, saya melihat diri saya di cermin. Saya berpikir, saya bekerja keras, saya melakukan yang terbaik yang saya bisa,” ujarnya di Yogyakarta, Senin (31/8/2026).
Van Gastel juga memahami bahwa kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Dalam sepak bola, kegagalan tetap mungkin terjadi meski seluruh persiapan telah dilakukan dengan maksimal. “Jika itu tidak berhasil, ya, itulah adanya,” katanya.
Karena itu, Van Gastel memilih tidak membebani dirinya dengan kemungkinan-kemungkinan yang berada di luar kendalinya. Ia hanya ingin memastikan seluruh pekerjaannya bersama PSIM telah dilakukan dengan sungguh-sungguh.
“Setiap kali saya bangun, saya tahu dari diri saya bahwa saya melakukan segalanya, sungguh segalanya, untuk tampil,” ucapnya.
Van Gastel pun tidak menutup kemungkinan melakukan kesalahan. Namun, ia tidak ingin menyalahkan dirinya sendiri selama merasa sudah memberikan usaha terbaik.
“Mungkin saya membuat kesalahan, mungkin tidak. Tapi saya tidak bisa menyalahkan apa pun pada diri sendiri karena saya bekerja sangat keras,” tegas Van Gastel.
Baca juga: SPBU di Sleman Batasi Pembelian Pertalite Rp50.000, Pertamina: Inisiatif Tepat
Belum kalah
Sejauh ini, PSIM menutup rangkaian pramusim dengan catatan positif menjelang mengawali perjalanan di Super League 2026/2027. Dari tujuh pertandingan uji coba yang telah dijalani, Laskar Mataram belum sekalipun menelan kekalahan.
Kemenangan 2-0 atas Deltras FC dalam laga peluncuran tim di Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (29/8/2026), menjadi penutup rangkaian panjang persiapan PSIM sebelum kompetisi resmi dimulai.
Dua gol kemenangan PSIM pada laga tersebut seluruhnya dicetak Ezequiel Vidal. Brace pemain asal Argentina itu sekaligus memberi modal positif bagi Laskar Mataram yang tinggal menghitung hari menuju pertandingan pertama Super League.
PSIM dijadwalkan menjalani laga pembuka di hadapan pendukung sendiri dengan menjamu Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (5/9/2026) sore.
Van Gastel menilai secara umum persiapan timnya berjalan sesuai harapan. Laga melawan Deltras menjadi pertandingan persahabatan ketujuh yang dijalani anak asuhnya selama pramusim.
Menurut Van Gastel, ritme permainan tim terus berkembang sepanjang rangkaian persiapan. Kini, PSIM hanya memiliki waktu singkat untuk mematangkan persiapan sebelum kompetisi resmi dimulai.
“Menurut saya cukup bagus. Kami memiliki beberapa pertandingan persahabatan dan ritmenya masih sama. Sekarang kami hanya menyisakan satu pertandingan lagi sebelum liga dimulai dan semoga kami dapat memulainya dengan baik,” kata Van Gastel di Yogyakarta, Minggu.
Ia mengaku puas dengan perkembangan tim, terutama dalam aspek penguasaan bola. Namun, ia masih menemukan sejumlah hal yang perlu diperbaiki sebelum menghadapi Persita. Salah satu sorotan utamanya adalah tingkat persaingan di dalam skuad.
Van Gastel ingin setiap pemain memberikan tekanan kepada rekan setimnya dalam perebutan posisi utama. Menurutnya, kompetisi internal yang sehat menjadi salah satu kekuatan PSIM pada musim sebelumnya.
“Harus ada lebih banyak kompetisi. Jika kamu bermain di posisi yang sama, misalnya kamu starter dan saya bukan, maka saya harus memastikan kamu berada di bawah tekanan karena saya siap bermain,” ujarnya.
Ia berharap para pemain yang belum mendapatkan banyak kesempatan bermain tetap menunjukkan kerja keras dan terus memberikan tekanan kepada pemain yang menjadi pilihan utama.
Menurut Van Gastel, situasi seperti itu pernah berjalan dengan baik di PSIM pada musim lalu. “Pemain yang bermain lebih sedikit musim lalu terus bekerja keras dan menjaga tekanan tetap tinggi. Pada waktu tertentu, beberapa dari mereka kemudian mulai bermain. Itulah yang kami butuhkan,” katanya.
Meski demikian, Van Gastel menegaskan secara keseluruhan pramusim PSIM berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun tim pelatih. Ia bahkan memiliki waktu persiapan lebih panjang dibandingkan musim sebelumnya. Jika musim lalu PSIM hanya memiliki sekitar lima pekan untuk mempersiapkan tim, kali ini Laskar Mataram menjalani masa pramusim selama tujuh pekan.
Waktu tambahan itu dimanfaatkan untuk membangun kondisi tim secara bertahap. “Musim lalu saya hanya punya lima minggu, sekarang saya punya tujuh minggu. Sedikit lebih lama, tetapi bagi saya itu bagus. Kami bisa memulai secara perlahan,” kata Van Gastel.
Hal yang paling membuatnya puas adalah kondisi skuad yang tetap terjaga sepanjang pramusim. Hingga memasuki pekan terakhir persiapan, Van Gastel memastikan tidak ada pemain yang mengalami cedera. “Kami tidak punya cedera. Jadi, pramusim berjalan seperti yang saya inginkan,” tegasnya. (mur)