PLN Atur Beban Listrik
Sudirman September 01, 2026 09:21 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - PLN mengatur beban listrik untuk menjaga kestabilan sistem di Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) selama proses pemeliharaan jaringan infrastruktur.

Langkah ini berdampak pada pemadaman listrik di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan.

“Kondisi ini bagian dari upaya PLN menjaga kestabilan dan keandalan sistem kelistrikan,” kata Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselbar, Niki Rendra Adisetiawan, Senin (31/8/2026).

Durasi pemadaman sekira dua jam. Namun, waktu tersebut masih menyesuaikan kondisi pekerjaan di lapangan.

“Tim PLN terus melakukan upaya percepatan agar pasokan listrik segera kembali normal,” jelasnya.

Sistem Sulbagsel merupakan jaringan interkoneksi kelistrikan, melayani Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, serta sebagian wilayah Sulawesi Tengah, termasuk Palu dan Poso.

Sistem tersebut ditopang sejumlah pembangkit dengan total Daya Mampu Produksi (DMP) mencapai 2.026,52 Megawatt (MW).

Baca juga: Pemadaman Listrik Bergilir Kembali Berlangsung di Makassar, PLN Sebut Ada Pemeliharaan

Data PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) menunjukkan, pasokan listrik Sulbagsel berasal dari berbagai jenis pembangkit.

Meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), pembangkit berbahan bakar gas dan BBM, serta Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

Untuk kelompok PLTA, total DMP tersedia mencapai 592,2 MW.

Kontribusi terbesar berasal dari PLTA Poso dengan kapasitas 350 MW.

Kemudian PLTA Bakaru 124,8 MW, PLTA/M Tersebar 33,93 MW, dan PLTA Malea 20,5 MW.

Sementara itu, kelompok PLTU memiliki total DMP mencapai 779,3 MW.

Pembangkit ini terdiri atas PLTU Punagaya 198,7 MW, PLTU Jeneponto Exp 240,2 MW, PLTU Barru 64,2 MW, dan PLTU Sulsel Barru-2 sebesar 81,3 MW.

Selanjutnya, PLTU Nii Tanasa 29,4 MW, PLTU Moramo 97,2 MW, PLTU Mamuju 14,8 MW, serta PLTU Palu-3 sebesar 53,5 MW.

Pasokan lainnya berasal dari pembangkit berbahan bakar gas dan BBM dengan total DMP mencapai 592,6 MW.

Di antaranya PLTGU Sengkang berkapasitas 147 MW, PLTD Suppa 47,6 MW, PLTMG Kendari 40 MW, dan PLTG GE 27 MW.

Kemudian PLTD Tello 16,1 MW, PLTD Tersebar 47,9 MW, PLTD Tello Nusa Daya 8,7 MW, serta PLTD PIP Tello dan Tallo Lama 22 MW.

Pembangkit lainnya yakni PLTD Tallo Lama Nusa Daya 18,1 MW, PLTD Sewa Punagaya 14,5 MW, MPP Suppa 48,8 MW, MPP Tello 50 MW, dan MPP Punagaya 24,8 MW.

Selain itu, terdapat BMPP Nusantara 2 dengan DMP 58,3 MW dan PLTG Kolaka sebesar 22 MW.

Sistem Sulbagsel juga mendapat tambahan pasokan energi terbarukan dari dua PLTB.

Keduanya yakni PLTB Tolo dengan DMP 65,5 MW dan PLTB Sidrap sebesar 60 MW.

Dengan dukungan berbagai jenis pembangkit tersebut, total DMP yang memasok Sistem Sulbagsel mencapai 2.026,52 MW.

PLN memastikan pengaturan beban dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kestabilan sistem selama pekerjaan pemeliharaan.

Tim PLN juga terus melakukan percepatan pekerjaan agar pasokan listrik di wilayah terdampak dapat kembali normal.
Pemadaman Listrik

Sejumlah wilayah di Kabupaten Luwu juga mengalami pemadaman listrik, Senin (31/8/2026).

Pemadaman berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 12.00 hingga 15.00 Wita.

Pelanggan PT PLN (Persero) UP3 Palopo, Bramanto Suryanto, mengatakan pemadaman dilakukan karena adanya pekerjaan perbaikan infrastruktur kelistrikan.

“Pemadaman dilakukan karena adanya perbaikan infrastruktur kelistrikan,” katanya, Senin siang.

Menurutnya, pekerjaan tersebut merupakan bagian dari upaya PLN menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.

PLN juga menyampaikan informasi terkait pemadaman melalui akun Instagram PLN ULP Belopa.

Bramanto berharap proses pekerjaan berjalan lancar sehingga pasokan listrik kembali normal sesuai jadwal.

“Bismillah, semoga aman dan lancar semuanya,” ujarnya.

Pemadaman dijadwalkan berlangsung di sejumlah wilayah Kecamatan Ponrang dan Kecamatan Bua Ponrang (Bupon).

Di Kecamatan Ponrang, wilayah yang terdampak meliputi Dusun Buntu Kamiri, Kelurahan Padang Sappa, Kelurahan Padang Subur, Dusun Tumale, Dusun Muladimeng, dan Dusun Buntu Nanna.

Sementara di Kecamatan Bupon, pemadaman mencakup Dusun Buntu Batu, Kelurahan Noling, Dusun Malenggang, Dusun Balutan, Dusun Padang Kamburi, Dusun Padang Mabud, dan Dusun Padang Tuju.

Wilayah lainnya yang turut terdampak yakni Dusun Buntu Karya, Dusun Bolu, Dusun Tampumia, serta Desa Pangi.

PLN mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk menyesuaikan aktivitas selama pekerjaan perbaikan berlangsung.

Bramanto juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul akibat pemadaman sementara tersebut.

“PLN memahami kondisi ini memengaruhi aktivitas masyarakat, menimbulkan ketidaknyamanan. Atas hal tersebut, PLN menyampaikan permohonan maaf,” katanya.

Pasokan listrik di wilayah terdampak diharapkan kembali normal setelah pekerjaan perbaikan selesai.

Namun, pemadaman tersebut sempat mengganggu aktivitas warga.

Salah satunya dirasakan warga Kelurahan Noling, Basnawir.

Ia mengatakan pemadaman listrik turut berdampak pada jaringan internet yang digunakan warga.

“Kalau memang untuk perbaikan jaringan, kami tentu memahami. Cuma karena listrik dipadamkan siang hari, aktivitas warga pasti sedikit terganggu,” katanya.

Menurut Basnawir, pemadaman pada siang hari cukup berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat.

Meski demikian, ia memahami pemadaman dilakukan untuk kepentingan perbaikan jaringan listrik.

Ia berharap pekerjaan dapat segera diselesaikan sehingga pasokan listrik kembali normal sesuai jadwal.

“Tidak masalah kalau untuk perbaikan jaringan, yang penting jangan sampai terlalu lama. Kami berharap pekerjaan PLN lancar dan listrik kembali normal sesuai jadwal,” katanya.

Perkuat Kesiapsiagaan

Kemarau panjang bukan hanya soal berkurangnya ketersediaan air bersih.

Lingkungan kering juga membawa risiko lain yang tak kalah serius, yakni kebakaran di kawasan permukiman.

Warga perlu memiliki kemampuan dasar mengenali risiko dan mengambil tindakan cepat ketika kondisi darurat terjadi.

Sebab, warga merupakan pihak paling dekat dengan lokasi bencana. Mereka bisa menjadi penolong pertama sebelum petugas tiba.

Kesadaran inilah diperkuat PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi melalui Program Desa Siaga Bencana PLN Peduli 2026: Mitigasi Risiko Kekeringan dan Kebakaran.

PLN gelar pelatihan dan simulasi tanggap darurat bencana di Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sabtu (29/8/2026).

“PLN berkomitmen mendukung kesiapsiagaan masyarakat. Kami berharap pelatihan ini membuat Satgas Kaltana dan warga Kaluku Bodoa lebih sigap mencegah dan menangani risiko kekeringan maupun kebakaran,” kata General Manager PLN UIP

Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha dalam keterangan tertulis, Senin (31/8/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan Satgas Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana) Kaluku Bodoa, BPBD Makassar, Pemerintah Kecamatan Tallo, Pemerintah Kelurahan Kaluku Bodoa, dan masyarakat.

Materi yang diberikan meliputi pemetaan risiko kekeringan dan kebakaran melalui focus group discussion.

Warga juga mendapat edukasi mitigasi bencana, pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pertolongan pertama, dan evakuasi mandiri.

Selain itu, peserta mengikuti workshop penyusunan standar operasional prosedur dan simulasi tanggap darurat.

Pelatihan ini penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui risiko bencana, tetapi juga memahami tindakan yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.

Perwakilan BPBD Makassar, Risman Ruslan, mengatakan Satgas Kaltana memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam penanganan awal bencana.

Menurutnya, warga dan tetangga merupakan penolong pertama saat bencana terjadi.

Karena itu, kemampuan menggunakan APAR dan melakukan pertolongan pertama perlu terus dilatih agar masyarakat selalu siap dan sigap.

Hal tersebut semakin penting karena ancaman bencana bisa muncul bersamaan.

Kekeringan meningkatkan kebutuhan terhadap air bersih, sementara kondisi lingkungan yang kering juga dapat memperbesar risiko kebakaran.

Risiko kebakaran juga dapat berasal dari penggunaan listrik yang tidak aman.

Kabel rusak, stop kontak bertumpuk, maupun instalasi listrik yang tidak sesuai standar dapat menjadi sumber bahaya di lingkungan permukiman.

I Gusti Made Aditya San Adinatha, mengatakan keselamatan kelistrikan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan kebakaran.

Menurutnya, edukasi keselamatan listrik perlu diterapkan mulai dari rumah masing-masing.

Dengan begitu, masyarakat tidak hanya siap menghadapi bencana, tapi juga mampu mencegah risiko sejak dini.

Camat Tallo diwakili Nurtjintin mengapresiasi dukungan PLN UIP Sulawesi dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Kaluku Bodoa.

Di tengah musim kemarau panjang, keberadaan Satgas Kaltana dinilai membantu pemerintah mengantisipasi kekeringan dan kebakaran sejak dini.

Nurtjintin berharap ilmu yang diperoleh melalui pelatihan dapat diserap dan diterapkan masyarakat.

Kesiapsiagaan masyarakat tidak boleh berhenti pada satu kegiatan pelatihan.

Pengetahuan tersebut perlu dilanjutkan dengan latihan berkala, penerapan SOP, pemeliharaan peralatan, dan edukasi yang berkelanjutan.

Sinergi PLN, pemerintah, BPBD, Satgas Kaltana, dan masyarakat juga perlu terus diperkuat.

Dengan langkah ini, masyarakat tidak hanya mampu merespons ketika bencana terjadi, tetapi juga dapat mengenali dan mencegah risikonya sejak awal.

Melalui Program Desa Siaga Bencana PLN Peduli 2026, masyarakat Kaluku Bodoa diharapkan semakin tangguh menghadapi kekeringan dan kebakaran.

Kesiapsiagaan yang dibangun hari ini diharapkan menjadi kebiasaan dalam menjaga keselamatan diri, keluarga, dan lingkungan.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.