Jangan Cuma Kenyang, Pakar Bongkar Cara Penuhi Gizi Keluarga dengan Budget Minimal 
Wiwit Purwanto September 01, 2026 10:49 AM

 

SURYA.CO.ID - Kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan daya beli membuat keluarga harus semakin cermat mengatur pengeluaran, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Di tengah anggaran yang terbatas, pemenuhan nutrisi tetap perlu menjadi prioritas agar kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak tidak ikut dikorbankan.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam media talk Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) I Dewa Gede Karma Wisana mengatakan tekanan ekonomi terhadap rumah tangga dapat terlihat dari perubahan pola pengeluaran masyarakat.

Tingkat pendapatan masyarakat terbagi dalam lima kuintil, dengan kuintil 1 sebagai kelompok berpendapatan paling rendah dan kuintil 5 paling tinggi. “Makin rendah pendapatan, makin habis anggaran belanja untuk makan,” terangnya.

Pada kuintil 1, pengeluaran untuk pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan. Sementara pada kuintil 5, proporsinya berada di angka 40,5 persen.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Sosial (SUSENAS) 2024 dan 2025 oleh BPS, perubahan pola belanja juga terlihat dari tambahan pengeluaran bukan makanan yang mencapai 5,98 persen, sedangkan tambahan belanja makanan hanya 3,16 persen.

“Ada kecenderungan bahwa tambahan belanja non makanan lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan. Jadi ada trade off atau penukaran karena harus tetap beli bahan bakar misalnya, sehingga kemudian memilih makanan yang lebih sederhana,” tutur Dewa.

Tekanan Ekonomi Bisa Mengubah Pola Konsumsi

Menurut Dewa, pola belanja pangan masyarakat juga mengalami perubahan cukup drastis. “Alokasi belanja makanan jadi atau beli di luar, meningkat cukup tajam; kita lebih sering jajan. Yang juga meningkat yaitu rokok dan tembakau, setara dengan bahan pangan padi-padian,” ujarnya.

Ketika anggaran rumah tangga semakin tertekan, persoalan yang muncul bukan hanya jumlah makanan, tetapi juga kualitas gizinya. Beras tetap dibeli, namun porsi lauk dan sumber protein cenderung berkurang.

Baca juga: BI Jatim Bidik Sport Tourism Jadi Pilar Ekonomi Baru, 3.000 Pelari Ramaikan RJR 2026

Alokasi belanja untuk ikan, udang, cumi, telur, susu, serta daging menjadi semakin kecil. “Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” imbuhnya.

Dewa menilai anggapan bahwa protein hewani selalu mahal turut dipengaruhi oleh harga daging sapi. Padahal, terdapat pilihan lain yang lebih terjangkau seperti ikan, ayam, telur dan susu.

“Daging sapi memang mahal, tapi ada protein hewani lain seperti ikan, ayam, telur dan susu yang tidak semahal itu. ini masih kurang optimal dikonsumsi, dan sebetulnya bisa dikonsumsi lebih banyak,” papar Dewa.

Ia menyebut telur dan ikan dapat menjadi back bone sumber protein hewani keluarga sehari-hari. “Susu juga bisa dikonsumsi untuk menambah mutu gizi makanan,” imbuhnya.

Pengurangan asupan gizi, terutama bagi anak-anak, dinilai dapat memberikan dampak jangka panjang. “Di masa depan, mereka harus membayar dalam bentuk kurangnya kemampuan fisik dan kognitif sehingga produktivitas mereka tidak optimal,” tegas Dewa.

Baca juga: Gus Ipul : Muktamar Selesai, Saatnya Warga NU Kembali Bersatu

Menurutnya, kesenjangan asupan gizi berpotensi berdampak terhadap generasi berikutnya apabila makanan bergizi hanya dapat diakses kelompok masyarakat yang mampu. Risiko penyakit di masa mendatang juga dapat meningkat dan berujung pada biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Pilih Sumber Gizi yang Ekonomis dan Beragam

Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc. menekankan bahwa makanan sehat tidak selalu identik dengan harga mahal. “Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu misalnya ikan salmon,” ungkapnya.

Menurut Tara, rata-rata penduduk Indonesia sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan kalori harian, tetapi asupannya masih didominasi karbohidrat. Karbohidrat sendiri menempati porsi sekitar 50-60 persen dari asupan pangan harian.

Karena itu, sumber karbohidrat perlu dibuat lebih beragam dengan memanfaatkan pangan lokal. “Kita punya banyak sekali pangan lokal dari umbi-umbian. Contohnya kimpul, yang sekarang sedang ngetren. Beras juga beraneka warna, jadi jangan nasi putih terus,” ujar Tara.

Untuk kebutuhan protein, tempe dan tahu dapat menjadi pilihan ekonomis. Namun, protein hewani juga tetap penting karena lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.

“Kita punya sumber protein nabati yang sangat baik yaitu tempe dan tahu, yang memang lebih ekonomis. Tapi jangan lupakan protein hewani yang sebenarnya lebih mudah dicerna dan diserap,” ujar Tara.

Khusus anak-anak, protein hewani mengandung asam lemak esensial lengkap yang dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembang. Namun, baru 43 persen balita usia 6–23 bulan di Indonesia yang mendapatkan Minimum Acceptable Diet atau MPASI bergizi beragam, terutama telur dan daging.

Tara kembali menyoroti ikan dan telur sebagai sumber protein yang relatif ekonomis dibandingkan daging. “Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” jelas Tara.

Susu juga dapat menjadi pelengkap asupan gizi karena mengandung beragam zat gizi dalam setiap porsinya. “Susu memiliki skor DIAAS tertinggi dalam protein hewani,” jelasnya.

DIAAS (Digestible Indispensable Amino Acid Score) merupakan metode pengukuran kualitas protein berdasarkan kemampuan asam amino esensial dicerna dan diserap tubuh. Semakin tinggi skornya, semakin baik penyerapan nutrisinya. Susu sapi memiliki nilai DIAAS di atas 100 persen.

Dalam menyusun menu keluarga, Tara mengingatkan masyarakat untuk berpedoman pada Tumpeng Gizi dan Isi Piringku. Komposisinya mencakup 2/3 piring karbohidrat, 2/3 sayur, 1/6 sumber protein, dan 1/6 buah.

“Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya? Jangan asal kenyang tapi minim gizi,” tandasnya.

Tara juga mengingatkan masyarakat tidak perlu merasa bersalah ketika sesekali membeli makanan di luar atau mengonsumsi makanan olahan. “Beli makanan di warteg pun bisa kok mendapatkan gizi yang baik. Atau misalnya kita goreng sosis untuk lauk, maka tambahkan sayur yang lebih beragam, jadi asupan gizi tetap optimal,” ucap Tara.

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro mengatakan kondisi ekonomi saat ini membuat masyarakat perlu mengevaluasi kembali prioritas pengeluaran, termasuk untuk kebutuhan nutrisi keluarga.

“Kami melihat masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk terus mengecek ulang prioritas dalam pengeluaran. Karena itu, menurut kami, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,” ujarnya.

Melalui kampanye nasional “Temani Langkahmu Kini dan Nanti”, Frisian Flag Indonesia berkomitmen mendampingi keluarga Indonesia di setiap tahap kehidupan, khususnya pada masa penuh tantangan.

“Kami berupaya mendukung kesehatan keluarga Indonesia dengan nutrisi terbaik, yaitu asupan susu kaya gizi sebagai fondasi kesehatan harian yang kuat,” ucap Andrew.

Selain menghadirkan produk kaya gizi dan berkualitas, Frisian Flag Indonesia juga memberikan edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi susu sejak dini serta membangun kebiasaan hidup lebih sehat.

“Kami tidak hanya ingin menghadirkan produk yang bernutrisi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki pengetahuan yang baik untuk mengoptimalkan manfaatnya. Misalnya dengan menghadirkan para pakar dalam diskusi hari ini, agar literasi mengenai nutrisi semakin baik dan keluarga Indonesia dapat semakin bijak dalam memprioritaskan kebutuhan yang baik bagi mereka,” pungkas Andrew.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.