TRIBUNTRENDS.COM - Sebuah pesan sederhana dari seorang ibu ternyata menjadi pegangan penting dalam perjalanan hidup KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Kalimat itu terus ia bawa ketika menerima berbagai amanah, termasuk saat dirinya dipercaya meneruskan kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng.
Kini, perjalanan tersebut memasuki babak baru.
Gus Kikin baru saja dipilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031. Amanah besar itu menempatkannya di puncak kepemimpinan organisasi Islam yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.
Namun, jauh sebelum namanya berada di posisi tersebut, Gus Kikin telah melalui perjalanan panjang. Dari dunia usaha, kemudian masuk ke lingkungan pesantren, dipercaya menjadi wakil pengasuh Tebuireng, hingga akhirnya meneruskan kepemimpinan pesantren setelah pengasuh sebelumnya wafat.
Di balik perjalanan tersebut, ada satu pesan dari sang ibu yang terus ia pegang.
"Jangan sampai amalan saya terputus."
Bagi Gus Kikin, kalimat tersebut bukan sekadar pesan keluarga. Kalimat itu menjadi prinsip untuk menjaga sekaligus meneruskan apa yang telah dimulai oleh generasi sebelumnya.
Baca juga: Inayah Wahid Akui PBNU Terima Tambang, Yenny Wahid Anak Gus Dur Sebut Pelapor Pandji Tak Wakili NU
Dalam penuturannya, Gus Kikin mengungkapkan bahwa pada awal perjalanan kehidupannya, ia lebih banyak berkegiatan sebagai seorang pengusaha.
Salah satu bidang usaha yang pernah ia jalankan adalah jaringan televisi yang didirikannya pada 2009.
Gus Kikin kemudian dipercaya menjadi komisaris utama BBS TV hingga 2015.
Selama kurang lebih enam tahun menjalani aktivitas tersebut, perjalanan dan cara kerjanya ternyata diperhatikan oleh pihak keluarga Tebuireng.
Perhatian itu kemudian menjadi awal dari perubahan besar dalam perjalanan hidupnya.
Pada awal 2016, Gus Kikin mulai mendapatkan status resmi dalam struktur kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng.
Saat itu, ia belum langsung menjadi pengasuh. Ia terlebih dahulu dipercaya sebagai wakil pengasuh untuk dipersiapkan meneruskan amanah kepengasuhan.
Gus Kikin bahkan sempat menyampaikan bahwa pengasuh saat itu masih sangat dibutuhkan dan sebaiknya tetap menjalankan tugasnya.
Namun, proses regenerasi tetap dipersiapkan. Sebuah surat keputusan kemudian diterbitkan dan Gus Kikin resmi menjadi wakil pengasuh.
Sejak saat itulah, perjalanan hidupnya semakin dekat dengan dunia pesantren dan amanah keluarga besar Tebuireng.
Empat tahun setelah dirinya dipercaya menjadi wakil pengasuh, perubahan besar kembali terjadi.
Pada 2020, pengasuh sebelumnya wafat.
Gus Kikin akhirnya meneruskan amanah kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng.
Apa yang sebelumnya dipersiapkan secara perlahan akhirnya benar-benar menjadi tanggung jawab yang harus ia jalankan.
Dunia yang sebelumnya lebih banyak ia jalani sebagai pengusaha kini berubah menjadi dunia pengabdian pesantren.
Tetapi bagi Gus Kikin, meneruskan amanah bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba.
Ada nilai yang telah ditanamkan keluarganya sejak lama.
Dan salah satu sumber nilai tersebut berasal dari sang ibu.
Baca juga: Perjalanan Tak Terduga Gus Kikin dari Pesantren Tebuireng ke Kursi Ketua Umum PBNU 2026-2031
Gus Kikin menceritakan bahwa dirinya menerima berbagai amanah dari keluarga.
Salah satunya berkaitan dengan sebuah sekolah SMP Sunan Ampel di Jombang.
Sekolah tersebut juga menjadi bagian dari amanah yang harus ia jaga.
Di situlah sang ibu memberikan pesan yang kemudian menjadi pegangan Gus Kikin.
"Jangan sampai amalan saya terputus."
Kalimat tersebut menjadi prinsip yang terus ia bawa.
Bagi Gus Kikin, apa yang telah dimulai oleh orang tua dan leluhur tidak boleh berhenti begitu saja.
Ia harus menjaga, melanjutkan, dan memastikan apa yang telah dibangun sebelumnya tetap memberikan manfaat.
Prinsip itulah yang kemudian tidak hanya diterapkan dalam urusan keluarga, tetapi juga dalam menjalankan amanah di Tebuireng.
Perjalanan Gus Kikin juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah besar Tebuireng dan Nahdlatul Ulama.
Ia merupakan keturunan langsung KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh yang mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng.
Dalam penuturannya, Gus Kikin menjelaskan bahwa dirinya merupakan cicit atau generasi keempat di Tebuireng.
Hubungan tersebut berasal dari garis keluarga Bu Nyai Khairiah, yang merupakan putri pertama KH Hasyim Asy'ari.
Sementara itu, ibu Gus Kikin juga memiliki perjalanan hidup yang erat dengan keluarga besar Tebuireng.
Sang ibu lahir pada 1924. Pada 1933, ia kehilangan ayahnya, KH Maksum Ali.
Setelah itu, ia banyak mendapatkan bimbingan langsung dari KH Hasyim Asy'ari.
Nilai-nilai yang diterima sang ibu kemudian turut diwariskan kepada Gus Kikin.
Karena itu, ketika Gus Kikin berbicara mengenai amanah, ia tidak hanya berbicara mengenai jabatan.
Ada sejarah keluarga yang ingin terus dijaga.
Ada perjuangan generasi sebelumnya yang ingin dilanjutkan.
Dan ada pesan sang ibu yang terus menjadi pegangan.
Baca juga: Sosok Gus Kikin yang Terpilih Jadi Ketua Umum PBNU 2026–2031, Cicit Mbah Hasyim dan Mantan Bos Migas
Gus Kikin pada akhirnya menyimpulkan bahwa perjalanan yang ia jalani merupakan bagian dari tanggung jawab untuk meneruskan apa yang telah dimulai oleh leluhurnya.
Termasuk oleh KH Hasyim Asy'ari dan sang ibu.
Ia melihat berbagai warisan yang diterimanya bukan semata-mata sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, tetapi juga harus dikembangkan agar manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi.
Prinsip tersebut menjadi semakin relevan ketika ia dipercaya meneruskan kepengasuhan Tebuireng.
Pesan sang ibu menjadi semacam kompas.
Bukan hanya untuk menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga memastikan amal dan pengabdian tetap berjalan.
Kini, amanah Gus Kikin semakin besar.
Setelah perjalanan panjang sebagai pengusaha, kemudian menjadi wakil pengasuh dan akhirnya pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, ia baru saja dipercaya menduduki posisi tertinggi dalam kepemimpinan PBNU.
Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.
Posisi tersebut tentu membawa tanggung jawab yang jauh lebih luas.
Jika sebelumnya amanahnya banyak berkaitan dengan Tebuireng dan lingkungan pesantren, kini ia harus mengemban tanggung jawab dalam lingkup organisasi Nahdlatul Ulama secara nasional.
Namun, perjalanan menuju posisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari nilai yang telah lama ia pegang.
Pesan sang ibu masih menjadi bagian dari cara pandangnya:
"Jangan sampai amalan saya terputus."
Kalimat itu seolah menemukan makna baru ketika Gus Kikin kini menerima amanah memimpin PBNU.
Sebab pada akhirnya, perjalanan hidupnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang mencapai sebuah posisi.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut berbicara tentang bagaimana sebuah amanah diwariskan, dijaga, dan diteruskan.
Dari seorang pengusaha yang kemudian dipersiapkan menjadi wakil pengasuh, dari wakil pengasuh yang akhirnya meneruskan kepemimpinan Tebuireng, hingga kini dipercaya memimpin PBNU.
Semua perjalanan itu bertemu pada satu kata: amanah.
Dan bagi Gus Kikin, amanah tersebut harus terus berjalan.
Sebab seperti pesan sang ibu yang ia pegang hingga hari ini, jangan sampai amalan yang telah dimulai oleh generasi sebelumnya terputus.
***
(TribunTrends)