Sudah Ada Sejak 1946, Kipo Bu Djito Masih Dicari Anak Muda
Joko Widiyarso September 01, 2026 05:01 PM
Kipo Bu Djito, Kotagede


TRIBUNJOGJA.COM – Di tengah jajanan yang silih berganti mengikuti tren, Kipo Bu Djito justru memilih untuk tidak berubah. Resep yang diwariskan sejak 1946 masih dipertahankan hingga kini.

Legit dan kenyal, dua kata yang tepat untuk mendeskripsikan kue Kipo, satu di antara banyaknya makanan khas Kotagede, Yogyakarta.

Kipo sendiri terbuat dari adonan tepung ketan yang diisi dengan unti kelapa dan dibakar di atas tembikar.

Berdiri sejak 1946, Kipo Bu Djito pertama kali dibuat oleh Mbah Mangun Irono yang dibantu oleh anaknya, Djito Suharjo.

Dilansir dari Kompas.com, Murdija Gardjito, peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa Kipo merupakan kudapan peninggalan Mataram Kuno  yang tidak terkontaminasi oleh budaya asing.

Kini Kipo Bu Djito dikelola oleh Istri Rahayu Dra, generasi ke-3 yang mulai diturunkan pada tahun 1990.

Di tangan Istri, usaha Kipo Bu Djito masih terus berjalan dari rumahnya di Jalan Mondorakan, Kotagede, Yogyakarta.

Meski telah masuk generasi ke-3, Kipo Bu Djito tetap eksis di kalangan penikmat kuliner dan wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Kemarin ada turis dari India yang datang jam 6 pagi pake taksi, terus beli Kipo dan langsung pesan taksi lagi buat pulang,” ujar Istri.

Menurut Istri, peminat Kipo saat ini menjadi beragam. Mulai dari orang tua hingga anak kecil, berbeda dari zaman dulu yang hanya dinikmati oleh orang tua.

Hal ini terlihat dari melonjaknya minat pembelian pada saat memasuki musim liburan sekolah, sehingga yang tadinya memproduksi 300 porsi per hari bisa habis dalam sekejap mata.

Kristina, seorang ibu rumah tangga sekaligus tetangga Istri, menjadi satu di antara pelanggan yang telah mengenal Kipo Bu Djito selama sekitar 10 tahun. 

Kebiasaannya membeli Kipo juga membuat anak-anaknya ikut mengenal dan menyukai jajanan tersebut.

“Saya sudah lama kenal kue kipo Bu Djito, sekitar 10 tahun yang lalu. Rasanya tetap enak dari dulu sampai sekarang,” ungkapnya pada Tribunjogja.com

Bertambahnya pilihan makanan yang bermunculan di media sosial juga tidak serta-merta membuat Kipo kehilangan peminat. Menurut Istri, setiap makanan memiliki pasarnya masing-masing.

Ia menjelaskan bahwa walaupun saat ini banyak makanan viral di media sosial, tak dapat dipungkiri bahwa media sosial menjadi wadah promosi yang sangat menguntungkan.

Banyak tiktokers kuliner yang berkunjung dan ikut membantu memperkenalkan Kipo Bu Djito kepada khalayak umum, sehingga ada saja pembeli baru yang membeli karena penasaran dengan rasanya.

Meskipun saat ini Istri melihat bahwa penjual Kipo lainnya berinovasi dengan mengubah warna ataupun isiannya menjadi gula pasir, dirinya tetap menegaskan bahwa akan tetap mempertahankan rasa asli.

Dengan kata lain, Ia memilih untuk tidak mengejar setiap perubahan.

Resepnya tetap, kemasannya tetap, dan cara membuatnya pun masih dipertahankan. 

Yang berubah justru cara orang menemukannya. Dari pelanggan yang mengenal Kipo sejak puluhan tahun lalu, hingga anak muda yang datang setelah melihatnya di media sosial.

Kipo mungkin tidak perlu menjadi kekinian untuk tetap bertahan. 

Ia hanya perlu tetap menjadi Kipo. (MG SOPHIA IKHSANTI)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.