Harga Tomat dan Ikan Layang Turun Picu Deflasi di Sultra Agustus 2026, Inflasi Tahunan 3,35 Persen
Sitti Nurmalasari September 01, 2026 06:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Harga tomat dan ikan layang menjadi komoditas yang paling dominan menyebabkan deflasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Agustus 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat, kedua komoditas tersebut memberikan andil terhadap deflasi secara bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,31 persen.

Sejumlah komoditas lain yang juga mengalami penurunan harga dan turut memberikan andil terhadap deflasi meliputi kangkung, bahan bakar rumah tangga, ikan teri, ikan cakalang atau ikan sisik.

Kemudian, bawang merah, ikan selar atau ikan tude, ikan gabus, sawi hijau, jagung manis, angkutan udara, ikan tuna, ikan mujair, serta jagung muda atau putren.

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, mengatakan, penurunan harga sejumlah komoditas tersebut merupakan bagian dari siklus yang lazim terjadi dalam perekonomian.

“Di bulan lalu ada ikan yang harganya tinggi, ternyata sekarang sudah mulai turun dibandingkan bulan lalu. Itu sangat berpengaruh. Memang siklus seperti itu biasa terjadi dalam perekonomian,” jelas Hadi saat diwawancara di kantornya, Selasa (1/9/2026).

Kantor BPS Sultra berada di Jalan Boulevard No 1, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari.

Baca juga: Emas Perhiasan, Tiket Pesawat, Elpiji Dorong Inflasi Tahunan Sulawesi Tenggara 4,68 Persen pada Juni

Hadi menyampaikan, deflasi tidak selalu menunjukkan perekonomian sedang mengalami pelemahan. 

Salah satu penyebabnya dapat berupa normalisasi harga komoditas yang sebelumnya mengalami kenaikan.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu dibedakan dengan penurunan harga akibat melemahnya permintaan. 

Apabila harga turun karena jumlah pembeli berkurang hingga membuat produsen terpaksa menjual dengan harga rendah, pemerintah perlu memberikan perhatian dan melakukan intervensi.

“Kalau harga terlalu tinggi, konsumen kasihan. Tetapi kalau harga terlalu rendah, produsennya juga kasihan,” katanya.

Karena itu, Hadi menilai keseimbangan harga perlu dijaga agar masyarakat sebagai konsumen tidak terbebani, sementara petani, nelayan, dan produsen tetap memperoleh harga yang layak.

Berdasarkan pemantauan BPS di empat kabupaten dan kota, yakni Kendari, Baubau, Kolaka, dan Konawe, seluruh wilayah tersebut tercatat mengalami deflasi pada Agustus 2026.

Baca juga: Harga Makanan Naik, Inflasi Sulawesi Tenggara Meroket 4,07 Persen, Baubau Tertinggi, Konawe Terendah

“Empat kabupaten dan kota yang rutin dicatat pergerakan harganya, semuanya mengalami deflasi. Artinya, ini menjadi gejala umum di Sulawesi Tenggara,” ujarnya.

Meski mengalami deflasi secara bulanan, Sultra masih mencatat inflasi secara tahunan atau year on year (y-on-y) pada Agustus 2026.

BPS mencatat inflasi tahunan provinsi penghasil nikel tersebut mencapai 3,35 persen. 

Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 110,32 pada Agustus 2025 menjadi 114,02 pada Agustus 2026.

Sementara itu, inflasi sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 4,02 persen.

Inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. 

Kelompok transportasi mengalami kenaikan sebesar 6,66 persen.

Baca juga: Sulawesi Tengah Raih Penghargaan Apresiasi Pemda Berprestasi, Inovasi Beras dan Cabai Tekan Inflasi

Sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan kenaikan tertinggi, yakni mencapai 8,01 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bensin, minyak goreng.

Bahan bakar rumah tangga, telepon seluler, udang basah, sejumlah jenis ikan, hingga biaya pendidikan perguruan tinggi.

Di sisi lain, sejumlah komoditas masih memberikan andil terhadap deflasi tahunan, yakni tomat, beras, bawang merah, cabai rawit, ikan bandeng, telur ayam ras, ikan teri, ikan gabus, dan ikan mujair.

Hadi menyebut deflasi yang terjadi di Sultra pada Agustus 2026 berlangsung ketika secara nasional masih tercatat inflasi.

Meski demikian, tingkat inflasi nasional relatif lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan kenaikan harga mulai berkurang.

“Secara nasional masih terjadi inflasi, tetapi relatif lebih rendah. Sementara di Sultra, karena penurunan harganya lebih besar, akhirnya tercatat sebagai deflasi,” jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.