Sebuah pesan masuk di WA saya Senin (31/8/2026) siang.
Isinya VAP yang ditangkap tim Tabur Kejati Sulut di Mimika, Papua, akan tiba di Bandara Samratulangi Manado, pukul 14.30 WITA.
Saya sempat menganggap sepele pesan itu.
Siapa VAP ?
Selasa sore, beredarlah foto foto VAP tiba di bandara Samratulangi.
Seketika muncullah kehebohan, terutama di Kabupaten Minut tempat VAP pernah menjabat sebagai Bupati dua periode.
Saya menyaksikan saat VAP tiba di kantor Kejati Sulut dari Bandara pada Selasa sore.
Kantor Kejati Sulut berada di Jalan 17 Kelurahan Tanjung Batu, Kecamatan Wanea, Manado, Sulut.
Jaraknya dari Bandara Samratulangi sekira 15 kilometer.
Saya hampir tidak mengenalnya.
Tak ada lagi sosok wanita yang penuh vitalitas, berani serta modis.
Yang ada hanyalah perempuan berwajah letih dengan gurat pergumulan di pipi serta bersorot mata sayu.
Hampir semua warga Minut kenal VAP dan mungkin pernah mengecap kebaikannya.
Di suatu masa, saya pernah cukup dekat dengannya, yakni ketika menjabat kepala biro Minut dan ia menjabat Bupati.
VAP politisi yang unik. Gaya berpolitiknya sangat khas. Sangat-sangat VAP.
Tak bisa dicopy paste. VAP adalah VAP. Ia tak meniru siapapun. Menirunya pun saya rasa sulit.
VAP bukan sosok yang berpengetahuan. Bukan sosok orator ulung. Bukan pula sosok politisi konten ala KDM.
Ia hanya punya satu kelebihan; empati.
Itulah alasan mengapa VAP begitu ringan tangan membantu orang lain.
Kemanapun ia pergi selalu bagi berkat untuk masyarakat.
Di kantor, pasar, gereja, pesta nikah, pesta ulang tahun, rumah duka, kantor desa hingga jalan raya.
Saya kira VAP memberi bukan karena semata ia banyak uang.
Buktinya banyak orang yang kaya tapi berjiwa pelit.
Ia memberi karena karakternya yang memang suka berbagi dengan orang lain.
Dan diantara masyarakat yang ia sentuh, terdapat sebuah kelas khusus. Yakni lansia. VAP selalu mengistimewakan mereka.
Para lansia ini selalu dapat antrean pertama dan beroleh berkat lebih banyak.
Merekalah pasukan berani mati VAP. Saat pemilu, para lansia ini tak hanya nyoblos sendiri, tapi mengajak, bahkan "memaksa" anak cucunya pilih VAP.
Saya kira VAP tidak pernah berpikir untuk menjadikan lansia sebagai senjata politik.
Ia membantu dengan tulus - mungkin karena kelemahan mereka menyentuh hatinya.
Tapi yang terjadi lebih dari ia duga.
Terbentuklah sebuah kelas politik yakni para lansia yang fanatik dan militan.
Mungkin ini satu satunya di Indonesia. Saya kira inilah bukti bahwa ketulusan telah melahirkan kejeniusan politik yang mana VAP sendiri tak menyadarinya.
Sayangnya birokrasi Indonesia begitu rumit.
Bak rawa payah dengan lumpur yang bisa menjebak mereka yang tak berhati-hati.
Sayangnya lagi, VAP tidak punya pemikir yang bisa mendampinginya dalam melalui itu semua.
Memang ketulusan merpati saja tak cukup. Butuh sifat yang cerdik seperti ular.
Ada teman saya yang menyatakan, VAP adalah si Robin Hood yang merampok si kaya dan memberikannya pada si miskin.
Saya no comment terhadap ini.
Juga kabar bahwa VAP ditangkap dalam KKR dan selama ini buron.
Memang janggal seseorang seperti VAP dapat buron selama dua tahun.
Bagi saya VAP adalah simbol kemanusiaan, yang agung dan besar namun juga lemah dan kerdil.
Ia di satu sisi gambar dan rupa Allah.
Di sisi lain manusia lemah yang mengalami total depravity.
Dia, kita semua, butuh anugerah dari Tuhan.
Ada yang memujanya. Ada juga yang menghakiminya.
Saya kira itulah yang membuat VAP menjadi seorang tokoh besar legendaris, salah satu pemimpin yang akan dikenang selalu akan keunikannya oleh warga Minut. (Art)
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini