Karhutla Kaltim 2026 Tembus Ratusan Kejadian, Paser Tertinggi dan Kukar Terluas
Amelia Mutia Rachmah September 02, 2026 12:24 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur semakin mengkhawatirkan setelah ratusan kejadian tercatat hingga akhir Agustus 2026.

Paser menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, sementara Kutai Kartanegara mencatat luasan lahan terbakar terbesar dalam data peta karhutla yang tersedia.

Situasi tersebut berkembang di tengah kondisi cuaca panas berkepanjangan dan minimnya curah hujan. Kalimantan Timur bahkan nyaris memasuki satu bulan tanpa hujan dengan intensitas yang berarti, sehingga vegetasi yang mengering menjadi lebih mudah terbakar dan api berpotensi cepat menyebar.

Dampak karhutla juga mulai dirasakan masyarakat. Di Kabupaten Kutai Barat, kabut asap telah mengganggu aktivitas hingga pemerintah daerah menerapkan kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) bagi siswa dan siswi mulai 27 Agustus hingga 2 September 2026.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur hingga Rabu (26/8/2026), tercatat 547 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.509,55 hektare.

Baca juga: Jadwal Samsat Keliling Samarinda September 2026, Lengkap Lokasi dan Syarat Perpanjang STNK

Dalam pembaruan data berikutnya melalui peta kejadian karhutla di 10 kabupaten dan kota, jumlah kejadian di sejumlah daerah menunjukkan perubahan sesuai laporan terbaru dari masing-masing wilayah.

Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan kondisi panas diperkirakan masih berlangsung hingga awal September 2026.

“Masih sampai dengan 1 September kita masih panas seperti begini. Jadi kondisi di titik panas juga luar biasa,” kata Buyung dalam konferensi pers di Ruang WIEK Diskominfo Kaltim, Kamis (27/8/2026).

Karhutla sendiri merupakan singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, yakni peristiwa terbakarnya kawasan hutan maupun lahan akibat faktor alam atau aktivitas manusia.

Kebakaran tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak, mulai dari kerusakan lingkungan, munculnya kabut asap, gangguan kesehatan, hingga terganggunya aktivitas masyarakat.

Baca juga: Dulu Rp35 Ribu, Kini Rp60 Ribu, Tarif Bus Samarinda-Balikpapan Naik, Cek Harga dan Jadwal Terbarunya

BPBD sebagai lembaga pemerintah daerah memiliki tugas dalam penanggulangan bencana, termasuk pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan saat bencana, hingga membantu proses pemulihan setelah bencana terjadi.

Paser Tertinggi, Kukar Terluas

Berdasarkan data peta karhutla Kalimantan Timur hingga akhir Agustus 2026, Kabupaten Paser menjadi wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran tertinggi.

Paser mencatat 151 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 358,93 hektare.

Sebelumnya, hingga 26 Agustus 2026, BPBD Kaltim mencatat Paser mengalami 135 kejadian dengan luas lahan terbakar 333,13 hektare.

Tingginya aktivitas kebakaran di Paser juga terlihat dari laporan harian yang diterima petugas. Pada Selasa (25/8/2026), Paser mencatat 14 kejadian dari total 35 laporan karhutla yang ditangani petugas.

Baca juga: Tembus 7 Kejadian Sehari, Pemkab Penajam Paser Utara Soroti Metode Bakar Lahan jadi Pemicu Karhutla

Di posisi kedua, Kota Samarinda mencatat 91 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 126,26 hektare.

Kabupaten Kutai Barat berada di urutan ketiga dengan 77 kejadian dan luas lahan terbakar 383,67 hektare.

Sementara Kabupaten Kutai Kartanegara mencatat 53 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 480,38 hektare berdasarkan data peta karhutla yang tersedia.

Meski jumlah kejadian Kutai Kartanegara berada di bawah Paser, kabupaten tersebut memiliki luas lahan terbakar terbesar dibandingkan daerah lain dalam data tersebut.

Kabupaten Penajam Paser Utara atau PPU melengkapi lima daerah dengan jumlah kejadian tertinggi. PPU mencatat 50 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 51,54 hektare.

Baca juga: Kekeringan Makin Terasa di PPU, Bupati Mudyat Noor: Mudah-mudahan Segera Lewat

Dengan demikian, lima daerah dengan kejadian karhutla terbanyak hingga akhir Agustus 2026 adalah Paser, Samarinda, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Penajam Paser Utara.

Karhutla Terjadi di Seluruh Kaltim

Karhutla tidak hanya terjadi di lima wilayah tersebut.

Kota Balikpapan mencatat 22 kejadian dengan luas lahan terbakar 14,74 hektare.

Kabupaten Berau mengalami 49 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 102,94 hektare.

Kota Bontang mencatat 10 kejadian dengan luas lahan terbakar 13,51 hektare.

Baca juga: Api Melalap 1 Hektare Lahan di Sambutan Samarinda, Petugas Gabungan Terkendala Air

Kutai Timur mengalami 33 kejadian dengan luas lahan terbakar 57,75 hektare.

Sementara Kabupaten Mahakam Ulu mencatat 11 kejadian dengan total luas lahan terbakar sekitar 6,10 hektare.

Data tersebut menunjukkan karhutla telah terjadi di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Perbedaan jumlah kejadian dan luasan lahan terbakar juga memperlihatkan bahwa frekuensi kebakaran tidak selalu sejalan dengan luas wilayah yang terdampak.

Sebuah daerah dapat mencatat kejadian lebih sedikit, tetapi memiliki lahan terbakar lebih luas apabila api menyebar ke area yang besar.

Baca juga: ISPA Meningkat di Balikpapan, Dinkes Minta Warga Waspadai Paparan Asap Karhutla

Ratusan Hotspot Terpantau Setiap Hari

Kondisi panas berkepanjangan turut memicu munculnya banyak titik panas atau hotspot.

Hotspot merupakan titik dengan suhu permukaan lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya yang terdeteksi melalui pemantauan tertentu, termasuk satelit.

Titik panas dapat menjadi indikator adanya potensi kebakaran, meski tidak seluruh hotspot secara otomatis berarti telah terjadi kebakaran.

BPBD Kaltim mencatat rata-rata sekitar 300 hotspot muncul setiap hari di seluruh Kalimantan Timur.

Pada Rabu malam, 26 Agustus 2026, sebanyak 679 hotspot terpantau di berbagai kabupaten dan kota.

Paser menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 284 titik.

Kutai Kartanegara menyusul dengan 110 titik panas, sedangkan Kutai Timur mencatat sekitar 100 titik.

Data Sementara Kukar Capai 915 Hektare

Ancaman karhutla di Kutai Kartanegara juga masih tinggi berdasarkan perkembangan data dari BPBD Kukar.

Pada Kamis (27/8/2026), data sementara mencatat 67 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 915,68 hektare.

Data tersebut masih bersifat sementara karena sejumlah kecamatan belum menyampaikan laporan terbaru kepada BPBD Kukar.

Di antara wilayah kecamatan di Kukar, Sanga-Sanga menjadi daerah dengan luas lahan terbakar terbesar, mencapai sekitar 340 hektare.

Kelurahan Pendingin menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak dengan luas kebakaran sekitar 304 hektare.

Muara Kaman mencatat sekitar 130 hektare lahan terbakar.

Samboja mencapai 126 hektare, Muara Badak 107,25 hektare, Tabang sekitar 100 hektare, dan Muara Muntai sekitar 74 hektare.

Sementara luasan kebakaran yang lebih kecil tercatat di Muara Jawa sekitar 0,53 hektare, Kota Bangun 1 hektare, Loa Janan 2 hektare, Loa Kulu 3 hektare, Tenggarong 3,15 hektare, serta Tenggarong Seberang sekitar 3,5 hektare.

Jika dilihat dari jumlah kejadian, Samboja mencatat kasus terbanyak selama Agustus 2026 dengan 21 kejadian.

Muara Badak menyusul dengan 20 kejadian.

Tenggarong dan Sanga-Sanga masing-masing mencatat lima kejadian.

Muara Kaman, Sebulu, dan Loa Kulu masing-masing mengalami dua kejadian.

BPBD Kukar masih menunggu laporan dari Kecamatan Kenohan, Muara Wis, Kota Bangun Darat, Samboja Barat, dan Anggana.

Faktor Manusia Jadi Perhatian

Ex officio Kepala BPBD Kukar Sunggono mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sembarangan.

Menurutnya, aktivitas manusia menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan dalam pencegahan kebakaran.

“Jadi tadi kan disampaikan oleh Pak Ketua Pengadilan ya, bahwa 99,9 persen penyebab kebakaran ini adalah manusia,” kata Sunggono.

Ia menegaskan pencegahan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah dan petugas pemadam kebakaran.

Masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah munculnya sumber api yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran lebih besar.

“Oleh karena ini bisa dipastikan, kalau kita peduli dengan lingkungan kita, peduli dengan daerah kita, peduli dengan anak cucu kita, tolong jangan bakar hutan kita, jangan membakar sembarangan yang mengakibatkan bencana untuk semua,” pungkasnya.

Nyaris Sebulan Tanpa Hujan

Menurut BPBD Kaltim, kondisi kering yang berlangsung cukup lama membuat risiko kebakaran semakin meningkat.

Hujan yang cukup merata terakhir dirasakan masyarakat pada pekan-pekan terakhir Juli 2026.

Beberapa wilayah memang sempat mengalami hujan ringan, namun belum cukup untuk menurunkan tingkat kerawanan kebakaran secara signifikan.

Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.

“Begitu ada pemicunya sedikit saja, itu cepat menyebar,” ujar Buyung.

Pemadaman juga menjadi lebih sulit apabila kebakaran terjadi di kawasan gambut.

Api pada lahan gambut tidak hanya membakar bagian permukaan, tetapi dapat menjalar di bawah tanah sehingga lokasi dan jangkauannya lebih sulit diketahui.

Petugas juga menghadapi kendala sumber air yang jauh dari titik kebakaran, sehingga pemadaman membutuhkan waktu dan dukungan logistik lebih besar.

OMC Masih Hadapi Kendala

Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, termasuk melalui wacana Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.

OMC merupakan upaya memodifikasi kondisi awan untuk meningkatkan potensi terjadinya hujan melalui metode tertentu.

Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala karena minimnya awan dengan kandungan air yang cukup untuk dilakukan penyemaian.

Dalam kondisi tersebut, hujan menjadi faktor yang sangat diharapkan untuk membantu menurunkan risiko kebakaran.

“Yang kita butuhkan ini hujan. Hujan itu sangat kita harapkan untuk saat ini,” pungkas Buyung.

Kabut Asap Ganggu Aktivitas di Kubar

Dampak karhutla mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Kutai Barat akibat kabut asap.

Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menerapkan kebijakan Belajar dari Rumah bagi siswa dan siswi mulai 27 Agustus hingga 2 September 2026.

Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 300.2/3753/BPBD-TU.P/VIII/2026 tentang Kesiapsiagaan terhadap Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2026.

Bupati Kutai Barat Frederick Edwin mengatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap meningkatnya titik panas dan kejadian karhutla.

“Keselamatan dan kesehatan masyarakat menjadi perhatian utama. Karena itu, kita perlu mengambil langkah pencegahan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak karhutla,” ujar Frederick, Rabu (26/8/2026).

Berdasarkan data sebaran titik panas SIPONGI pada periode 1 hingga 26 Agustus 2026, terdapat 801 hotspot di Kutai Barat.

Muara Pahu menjadi kecamatan dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 213 titik.

Bongan mencatat 113 titik, Jempang 105 titik, Damai 93 titik, dan Penyinggahan 80 titik.

Tingginya titik panas turut memicu munculnya kabut asap.

Pemerintah daerah menyebut hasil pemeriksaan kualitas udara menunjukkan parameter PM2,5 dan PM10 berada di atas ambang batas.

Paparan partikulat tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, dan masyarakat yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap asap.

Masyarakat diimbau menggunakan masker saat berada di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko paparan asap maupun dampak cuaca panas, termasuk heatstroke atau gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebihan.

“Jangan menunggu api membesar. Jika menemukan api dalam skala kecil, segera lakukan pemadaman dan laporkan kepada pihak terkait,” tegas Frederick.

Hujan Belum Menandakan Aman

Pemkab Kutai Barat mengingatkan hujan yang mengguyur wilayah tersebut pada 24 hingga 26 Agustus 2026 belum menjadi tanda berakhirnya ancaman kekeringan.

Pemerintah mencatat hujan tersebut merupakan hasil dari Operasi Modifikasi Cuaca.

Kewaspadaan tetap diperlukan karena pola cuaca masih sulit diprediksi, termasuk dalam kondisi yang dipengaruhi fenomena El Niño.

El Niño merupakan fenomena iklim yang dapat memengaruhi pola cuaca dan dalam kondisi tertentu menyebabkan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah.

“Artinya, kewaspadaan tetap harus dijaga. Jangan sampai hujan membuat kita lengah karena potensi karhutla masih ada,” kata Frederick.

Selama penerapan BDR, pembagian program Makanan Bergizi Gratis atau MBG akan dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama.

Karhutla 2026 Meningkat Tajam

Situasi sepanjang 2026 menjadi perhatian jika dibandingkan dengan jumlah kejadian karhutla pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Jumlah Bencana Alam Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Bencana Alam di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2025 yang bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, tercatat 22 kejadian karhutla di tingkat provinsi sepanjang tahun tersebut.

Pada 2025, Paser mencatat dua kejadian karhutla, Kutai Barat empat kejadian, Kutai Kartanegara lima kejadian, Kutai Timur dua kejadian, Berau empat kejadian, Penajam Paser Utara tiga kejadian, dan Kota Balikpapan dua kejadian.

Sementara Samarinda dan Bontang dalam tabel data 2025 tidak tercatat mengalami kejadian karhutla.

Jika dibandingkan dengan kondisi 2026, jumlah kejadian hingga Agustus menunjukkan peningkatan yang sangat besar.

Sepanjang 2025, Kalimantan Timur mencatat 22 kejadian karhutla.

Sedangkan pada 2026, berdasarkan data yang dihimpun hingga akhir Agustus, kejadian karhutla telah mencapai ratusan kali dan terjadi di seluruh kabupaten serta kota di Kalimantan Timur. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.