Empat Kali Seminggu Dikepung Kebakaran Lahan Gambut, Warga Kutaraya Keluhkan Hujan Abu Hitam
tarso romli September 02, 2026 12:27 AM

 

 

Baca juga: Kualitas Udara di Palembang Tidak Sehat Imbas Kabut Asap Karhutla, Pemkot Imbau Warga Pakai Masker

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG — Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali membawa penderitaan bagi masyarakat. Warga di Lingkungan 12, Kelurahan Kutaraya, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), harus hidup di tengah kepungan asap pekat dan hujan abu sisa kebakaran yang lokasinya sangat dekat dengan permukiman.

Rahma, salah seorang warga terdampak, membagikan kisah memprihatinkan mengenai kondisi keluarganya.

Menurut penuturannya, kebakaran yang melanda area rawa gambut di sekitar tempat tinggalnya telah terjadi sebanyak empat kali hanya dalam kurun waktu satu minggu terakhir.

Titik api menyebar di beberapa lokasi berbeda. Pada Kamis lalu, api menjalar dari perbatasan Perigi hingga menembus area perumahan cetak.

Bencana berlanjut pada Jumat dengan kemunculan titik api di kawasan sebelum jalan tol, dan yang paling parah berada tepat di belakang rumahnya.

“Lahannya gambut, rawa-rawa juga, jadi api cepat merambat karena banyak daun-daun kering,” ungkap Rahma.

Kebakaran tersebut berlangsung hingga dua hari, di mana api masih terus menyala hingga malam hari dan baru benar-benar padam sekitar pukul 22.00 WIB.

Tinggal bersama suami, ayah, dan dua anaknya, Rahma mengaku harus berjuang menghadapi gempuran polusi. Selain asap pekat yang masuk ke dalam rumah, warga juga dikeluhkan dengan hujan abu hitam sisa pembakaran.

“Kotoran sisa kebakaran yang hitam-hitam itu terbang semua masuk rumah membuat kotor,” keluhnya.

Kondisi ini memicu gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak. Anak Rahma sempat mengalami sesak napas saat asap tebal mengepung rumahnya.

Meski sesak napasnya telah mereda, anaknya dilaporkan masih mengalami batuk-batuk hingga saat ini.

Hal senada disampaikan oleh Dahlia, warga lainnya yang tinggal bersama suami dan tujuh orang anak.

Ia mengaku seluruh keluarganya merasakan dampak langsung dari kabut asap tersebut.

“Rata-rata kami merasakan batuk dan pilek akibat kabut asap, karena lokasi kebakaran berada di dekat rumah kami dan kejadian berulang-ulang sejak sepekan ini,” ungkap Dahlia.

Ia berharap instansi terkait segera mengambil langkah cepat dan mencarikan solusi agar kejadian serupa tidak terus berulang dan meresahkan masyarakat.

“Kalau ada api, kami minta petugas siaga dengan menyiapkan helikopter untuk memadamkan api, karena kalau lokasi di gang kecil, mobil pemadam sulit menjangkau titik api yang cepat menyebar,” tutupnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.