Tak Kenal, Maka Tak Bisa Menanggulangi
Hari Widodo September 02, 2026 07:52 AM

(Mengenal Kebakaran Lahan dan Hutan Gambut di Kalimantan Selatan)

Dr. Novitasari, ST., MT. Staf Pengajar PSTS Fakultas Teknik ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID- Ada pepatah yang mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Namun, dalam menghadapi persoalan kebakaran lahan dan hutan gambut, ungkapan itu perlu kita ubah menjadi: “Tak kenal, maka tak bisa menanggulangi”.

Tahun lalu, kami dari Laboratorium Hidraulika Fakultas Teknik ULM melakukan pengukuran kedalaman air di Sungai Kuin. Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam kurun waktu sekitar dua bulan, terjadi penurunan kedalaman air yang sangat besar di lokasi yang sama.

Sungai yang secara historis jarang mengalami kekeringan kini dapat dengan mudah mengalami penurunan muka air. Kondisi tersebut menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada lingkungan secara hidrologis.

Kondisi ini juga berkaitan erat dengan meningkatnya kerawanan kebakaran lahan, khususnya pada kawasan rawa dan hutan gambut.

Pada musim kemarau, ketika hujan berkurang, tanah menjadi semakin kering dan lebih mudah terbakar. Lahan gambut yang terbakar, memunculkan kabut asap yang dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat termasuk gangguan kesehatan.

Karena itu, sebelum berbicara mengenai bagaimana memadamkan kebakaran gambut, kita perlu terlebih dahulu mengenal apa itu gambut dan mengapa ekosistem ini begitu mudah terbakar.

Mengenal Gambut

Tanah gambut merupakan tanah berserat yang terbentuk dalam kondisi basah melalui proses pelapukan sisa-sisa tumbuhan dalam waktu yang sangat panjang. Gambut memiliki kandungan bahan organik yang tinggi.

Gambut merujuk pada material organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan yang mengalami dekomposisi tidak sempurna dan terakumulasi pada kawasan rawa.

Ketebalan gambut dapat mencapai lebih dari 50 sentimeter, bahkan di Indonesia kedalamannya dapat mencapai lebih dari tiga meter.

Ekosistem gambut merupakan ekosistem yang khas. Dalam kondisi alami dan belum terganggu, kawasan gambut selalu berhubungan erat dengan air dan mengalami genangan pada periode tertentu.

Kondisi basah tersebut sangat penting dalam menjaga proses pembentukan dan pelestarian bahan organik di dalam gambut.

Hutan rawa gambut memiliki berbagai fungsi ekologis. Salah satu yang paling penting adalah fungsi hidrologisnya sebagai penyimpan dan pengatur air.

Gambut bersifat seperti spon yang mampu menyimpan air 13 kali bobotnya. Dengan kata lain, gambut bukan sekadar tanah, tetapi merupakan bagian penting dari sistem tata air suatu kawasan, yang disebut sebagai Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).

Sayangnya, banyak kawasan gambut telah mengalami perubahan fungsi dan gangguan hidrologis sehingga tidak lagi mampu menjalankan fungsi penyimpanan dan pengaturan air secara optimal.

Gambut memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar. Karena itu, meskipun lapisan permukaan gambut telah mengering, lapisan di bawahnya pada kondisi tertentu masih dapat memiliki kelembapan yang cukup tinggi. Namun, kondisi tersebut berubah drastis ketika musim kemarau berlangsung panjang.

Permukaan gambut dapat mengering dengan cepat. Ketika muka air tanah menurun, bahan organik yang selama ini tersimpan di dalam gambut berubah menjadi bahan yang mudah terbakar. Yang lebih berbahaya, kebakaran gambut tidak selalu terlihat seperti kebakaran hutan pada umumnya.

Api yang awalnya muncul di permukaan dapat menjalar ke lapisan gambut di bawahnya. Ketika bahan organik gambut terbakar, proses pembakaran dapat menghasilkan asap dalam jumlah sangat besar.

Inilah salah satu alasan mengapa kebakaran gambut sangat sulit dikendalikan. Api tidak hanya berada di atas permukaan tanah, tetapi dapat terus membara di bawah permukaan.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, kebakaran gambut dapat berlangsung sebagai smoldering fire, yaitu pembakaran bahan organik secara perlahan tanpa menghasilkan nyala api yang besar. Dari permukaan, yang terlihat mungkin hanya asap, sementara api terus bergerak di dalam lapisan organik gambut.

Mengapa Kebakaran Gambut Terjadi?

Kebakaran lahan dan hutan gambut tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Ada kombinasi antara kondisi iklim, kondisi fisik lahan, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Pertama, faktor eksternal berupa kondisi iklim. Curah hujan yang rendah dan suhu yang tinggi meningkatkan kerawanan kebakaran. Risiko biasanya meningkat pada musim kemarau, dan semakin berat ketika terjadi fenomena El Nino.

Kedua, faktor internal berupa kondisi fisik lahan yang telah terdegradasi. Kematangan gambut sangat berpengaruh pada jumlah serat organik yang ada di tanah gambut. Gambut yang belum membusuk sempurna lebih mudah menjadi pengantar api, yang menjalar melalui serat organik di dalamnya.

Pembuatan kanal juga menjadi persoalan penting. Kanal yang tidak dilengkapi sistem pengendalian air yang memadai dapat menyebabkan air keluar dari kawasan gambut sehingga muka air tanah turun dan gambut menjadi semakin kering dan semakin rentan terhadap api.

Ketiga, faktor antropogenik berupa faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam juga dapat menjadi sumber munculnya api. Pembukaan lahan, pembakaran semak, penggunaan api ketika beraktivitas di kawasan hutan, maupun kelalaian dalam memastikan api benar-benar padam dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Karena itu, kebakaran gambut pada dasarnya merupakan persoalan yang kompleks. Faktor alam dapat meningkatkan kerawanan, tetapi aktivitas manusia sering menjadi pemicu munculnya api.

Ada satu hal penting yang sering tidak dipahami: kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran di lahan mineral. Pada lahan mineral, api umumnya membakar vegetasi dan material yang berada di permukaan. Sementara pada lahan gambut, api dapat membakar vegetasi, serasah, kayu yang tertimbun, sekaligus lapisan gambut di bawah permukaan.

Dalam kondisi tertentu, kebakaran dapat menjalar hingga kedalaman puluhan sentimeter. Api bergerak secara perlahan melalui pori-pori dan bahan organik gambut. Kebakaran bawah permukaan inilah yang membuat kebakaran gambut sangat sulit dideteksi dan dipadamkan.

Karena api berada di bawah permukaan, pemadaman tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat.

Lapisan gambut yang terbakar harus benar-benar mendapatkan air dalam jumlah yang memadai agar proses pembakaran di bawah permukaan berhenti. Inilah sebabnya mengapa hujan deras sekalipun belum tentu langsung memadamkan kebakaran gambut secara tuntas.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa kebakaran gambut bukan sekadar persoalan api. Di dalamnya terdapat persoalan air, tanah, iklim, ekosistem, aktivitas manusia, kesehatan, dan ekonomi.

Ketika kita memahami karakteristik gambut, kita akan lebih mudah memahami mengapa menjaga air di kawasan gambut menjadi sangat penting. Kita juga akan memahami mengapa pembuatan kanal tanpa pengendalian air dapat meningkatkan risiko kebakaran dan mengapa pemadaman kebakaran gambut memerlukan pendekatan yang berbeda.

Karena itu, pepatah “tak kenal maka tak sayang” menjadi sangat relevan. Untuk gambut, kita perlu melangkah lebih jauh: Tak kenal, maka tak bisa menanggulangi. Mengenal gambut adalah langkah pertama untuk menjaganya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.