TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Selama hampir setahun, sebuah kayu yang dikenal masyarakat sebagai Buyut Kayu Perbatang berada di dalam balong atau kolam keramat di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Namun, pada momentum tertentu kayu tersebut tidak dibiarkan terus berada di dalam air.
Memasuki puncak tradisi Muludan Tuk, kayu yang diyakini masyarakat memiliki nilai keramat itu akan diangkat dari dalam balong.
Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian Panjang Jimat Ider-Ideran Malam Pelal Muludan yang digelar di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Rabu malam menuju Kamis (2/9/2026).
Acara dijadwalkan dimulai pukul 19.30 WIB hingga selesai.
Tradisi tahunan ini bukan sekadar menghadirkan arak-arakan pusaka.
Baca juga: Sejarah Kayu Mati Buyut Perbatang di Situs Balong Keramat Tuk Pangeran Mancur Jaya Cirebon
Di balik kemeriahan Ider-Ideran, terdapat ritual terhadap sebuah kayu yang selama setahun berada di dalam balong dan hanya dikeluarkan ketika puncak Muludan tiba.
Kayu tersebut dikenal dengan nama Buyut Kayu Perbatang atau Buyut Kayu Mati.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat dan penuturan juru pelihara situs, Raden Suparja, kayu tersebut berkaitan dengan kisah Pangeran Mancur Jaya.
Masyarakat setempat meyakini kayu itu memiliki nilai sejarah dan spiritual yang erat dengan perjalanan tokoh-tokoh masa lalu di wilayah tersebut.
Bahkan, berdasarkan tradisi tutur yang berkembang, kayu itu diyakini berkaitan dengan Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang yang disebut pernah melakukan tirakat di kawasan tersebut.
Setiap tahun, ketika memasuki 19 Mulud atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Sangalase, rangkaian ritual kembali dilaksanakan.
Kayu yang sebelumnya berada di dalam balong kemudian diangkat.
Setelah dikeluarkan, kayu tersebut dibersihkan dan dimandikan menggunakan air dari balong.
Dalam pelaksanaan tradisi yang telah berlangsung sebelumnya, kayu juga disebut dimandikan dengan air kembang.
Kain pembungkus kayu kemudian diganti dengan kain yang baru.
Setelah seluruh rangkaian prosesi selesai, kayu tersebut kembali dimasukkan atau ditenggelamkan ke dalam balong.
Begitulah siklus tradisi tersebut berlangsung dari tahun ke tahun.
Keberadaan kayu tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari cerita mengenai asal-usul nama Tuk.
Menurut cerita yang dituturkan Raden Suparja, pada suatu masa terjadi kekeringan dan Pangeran Mancur Jaya berusaha mencari sumber air.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, kayu tersebut kemudian digunakan dan dihentakkan ke tanah.
Dari lokasi itu kemudian muncul air.
Bunyi yang terdengar saat air keluar disebut-sebut berbunyi "tuk".
Cerita tersebut kemudian dipercaya menjadi salah satu asal-usul penyebutan Desa Tuk.
Air yang keluar dari sumber tersebut selanjutnya ditampung dalam sebuah balong.
Dari situlah kemudian dikenal Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya.
Kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi tutur masyarakat setempat sehingga kebenaran sejarahnya perlu ditempatkan sebagai cerita atau kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain ritual pengangkatan Buyut Kayu Perbatang, perhatian masyarakat juga tertuju pada prosesi Ider-Ideran.
Dalam tradisi Muludan Tuk, Ider-Ideran menjadi bagian dari puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikemas dengan nuansa budaya Cirebon.
Sejumlah pusaka akan diarak mengelilingi kawasan desa.
Jumlahnya disebut mencapai sekitar 17 pusaka.
Di antaranya terdapat pusaka Si Kober, Trisula, Golok Warangan, hingga Pendil Sewu.
Arak-arakan tersebut menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Panjang Jimat Ider-Ideran juga mempertemukan unsur keagamaan dan kebudayaan.
Selain arak-arakan pusaka, rangkaian acara tahun ini juga diisi dengan doa dan tahlil bersama, Festival Ogoh-Ogoh, pentas seni budaya, serta bazar UMKM.
Seluruh rangkaian itu mengusung semangat memperingati Maulid Nabi sekaligus melestarikan budaya dan tradisi lokal Cirebon.
Tradisi yang Bertahan di Tengah Zaman
Muludan Tuk memiliki karakter tersendiri dibandingkan pelaksanaan Panjang Jimat di sejumlah keraton Cirebon.
Puncak tradisi di Situs Balong Kramat Tuk dilaksanakan pada 19 Mulud atau Sangalase.
Karena itu, momentum tersebut menjadi salah satu tradisi yang masih dinantikan masyarakat sekitar.
Bagi warga yang datang, Ider-Ideran bukan hanya tontonan.
Ada cerita panjang mengenai pusaka, tokoh leluhur, balong, hingga kayu yang setiap tahun dikeluarkan dari dalam air.
Buyut Kayu Perbatang menjadi salah satu simbol yang membuat tradisi Muludan Tuk memiliki keunikan tersendiri.
Setahun berada di dalam balong.
Kemudian diangkat ketika Muludan tiba.
Dimandikan, dibungkus kembali dan diperlakukan secara khusus.
Setelah seluruh prosesi selesai, kayu kembali ke tempat semula.
Siklus tersebut terus berulang.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat sekitar tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Panjang Jimat Ider-Ideran di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya pun menjadi lebih dari sekadar sebuah acara tahunan.
Ia menjadi ruang untuk mempertemukan agama, sejarah, tradisi, seni dan kehidupan masyarakat Cirebon dalam satu rangkaian perayaan.
Dan di antara riuh arak-arakan pusaka pada malam Pelal Muludan, ada satu benda yang kembali menjadi pusat perhatian, yakni kayu yang selama setahun tenggelam di dalam balong, lalu diangkat kembali ketika waktunya tiba.