SURYA.CO.ID - Sosok pemilik Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga menjadi penyebab keracunan 512 santri di Sidoarjo kini menjadi sorotan.
Informasi yang dihimpun surya.co.id, SPPG itu beroperasi di wilayah Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Hanya saja, identitas pemilik SPPG belum terungkap,
Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) meminta sosok pemilik SPPG itu diperjelas.
Menurutnya hal itu penting agar pertanggungjawaban terhadap kasus tersebut dapat dilakukan secara jelas.
Baca juga: Imbas Ratusan Santri Manbaul Hikam Keracunan MBG, SPPG Ditutup Sementara, Ada Korban di Sekolah Lain
"Yang pertama harus jelas dulu itu SPPG-nya punya siapa? Kepala SPPG-nya siapa agar pertanggungjawabannya jelas oleh BGN," kata Irma saat dihubungi Tribunnews.com, Rabu (2/9/2026).
Politisi Partai Nasdem ini mengatakan kasus keracunan dalam pelaksanaan program MBG masih terjadi meski telah terjadi pergantian Kepala BGN.
Karena itu, menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup hanya disikapi dengan menyampaikan empati kepada korban.
"Masalahnya sejak Kepala BGN diganti pun keracunan tetap ada dan lumayan banyak," ujar legislator Partai NasDem itu.
Irma menegaskan, Komisi IX DPR RI sebelumnya telah menyarankan agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap SPPG yang secara fisik maupun standar kelayakannya tidak memenuhi persyaratan.
"Kami di Komisi IX sudah menyarankan. Yang dibutuhkan itu bukan sekadar empati pada korban. Tapi segera ambil tindakan tegas pada SPPG yang kondisi fisiknya tidak memenuhi syarat," ucapnya.
Menurut Irma, penindakan tersebut harus berlaku terhadap seluruh SPPG tanpa melihat lokasi maupun bentuk lembaga yang menjadi mitra, termasuk SPPG yang melayani pondok pesantren.
"Mau ponpes atau apa pun," katanya.
Di sisi lain, Irma menyoroti masih adanya SPPG yang dinilai telah memenuhi persyaratan dan mendapatkan approval, tetapi belum memperoleh tindak lanjut untuk mulai beroperasi.
Dia menyebut SPPG tersebut dibangun dengan sistem dan persyaratan yang lebih ketat. Bahkan, sejumlah pihak telah ikut berkontribusi melalui modal bersama untuk mendukung pelaksanaan program pemerintah.
"Sementara banyak SPPG yang sudah dapat approval dan berkualitas baik, masih belum dapat approval untuk jalan!" ujarnya.
Irma meminta BGN tidak mengabaikan SPPG yang telah memenuhi standar tersebut hanya demi mempertahankan SPPG yang sebelumnya dibangun secara terburu-buru.
"Mereka itu SPPG yang dibangun dengan sistem dan syarat yang jauh lebih ketat tapi belum ada tindak lanjut. Ingat mereka berkontribusi dan joint modal program pemerintah, jangan diabaikan untuk mengganti SPPG-SPPG dulu asal bangun karena ingin cepat berjalan," pungkasnya.
Setelah kasus keracunan ini, SPPG Kalitengah yang menyediakan MBG untuk ratusan santri Ponpems Manbaul Hikam akhirnya ditutup sementara.
Penutupan ini diungkapkan Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo seusai meninjau SPPG tersebut pada Rabu (2/9/2026).
“Kami juga tadi sudah mendapatkan informasi langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini SPPG kita berhenti operasional,” kata Bayu Wibowo saat ditemui di RS Notopuro Sidoarjo, Rabu (2/9/2026).
Menu MBG yang diduga menyebabkan santri keracunan itu pun telah diamankan untuk dijadikan sampel pengujian laboratorium untuk mengetahui secara pasti kandungan yang terdapat di dalam makanan.
Baca juga: Penyebab Keracunan Ratusan Santri Manbaul Hikam Tanggulangin Sidoarjo Diduga dari Menu MBG
“Selanjutnya hasil lab dan lain-lain kita menunggu untuk satu minggu ke depan ya untuk kunci hasil lab. Jadi sampel sudah diambil dari Dinas Kesehatan Sidoarjo serta dari kepolisian,” jelasnya.
Pihaknya juga masih menunggu kebijakan dari BGN pusat dan hasil laboratorium untuk menentukan evaluasi ke depan.
“Sampai hasil evaluasi ya, evaluasi dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat akan menimbang apakah di-suspend-nya suspend sementara atau suspend permanen,” jelasnya.
Bayu memasyikan di ponpes Manbaul Hikam ini menerima MBG dari SPPG Kalitengah sekitar 1.000 porsi setiap hari.
Data terbaru menyebut total korban keracunan diduga dari makan bergizi gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur ternyata mencapai 512 orang.
512 korban ini tidak hanya berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
Hal ini beralasan karena Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah yang menyediakan menu MBG ini juga melayani 19 lembaga pendidikan lainnya.
Fakta ini diungkap Wakil Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Satgas MBG Jatim Emil Elestianto Dardak dalam keterangan terbaru pada Rabu (2/9/2026).
“Per pagi ini tercatat ada 512 pasien yang terlapor di larikan ke RS. Pasien tidak hanya dari ponpes Manbaul Hikam. Ada 19 lembaga yang sama-sama menerima dari SPPG Kalitengah, Kec Tanggulangin, Sidoarjo,” kata Emil saat dikonfirmasi oleh Surya.co.id, Rabu (2/9/2026) pagi.
Baca juga: Imbas Ratusan Santri Manbaul Hikam Keracunan MBG, SPPG Ditutup Sementara, Ada Korban di Sekolah Lain
Dari 512 korban tersebut dirinci sebanyak 80 orang dirawat inap, 312 orang sudah keluar RS, dan sebanyak 120 orang sedang dilakukan obvervasi.
Ratusan santri yang mengalami keracunan tersebut diketahui dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Sidoarjo.
Sebanyak 334 pasien di RS Notopuro. Dengan 3 pasien rawat inap, 239 pasien sudah keluar RS, dan sebanyak 92 pasien Observasi.
Berikutnya di RS Delta Surya total ada 20 pasien. Dengan pasien rawat inap sebanyak 15 orang, 1 orang keluar RS dan 4 orang sedang observasi.
Kemudian ada juga yang dilarikan ke RS Siti Hajar sebanyak 77 pasien. Dengan rincian yang dirawat inap sebanyak 38 pasien, sudah keluar RS 39 orang.
Selain itu ada juga yang dilarikan ke RS Pusura sejumlah 18 pasien. Dengan jumlah rawat inap sebanham 9 pasien, 4 orang sudah keluar RS dan sebanyak 5 orang sedang diobservasi.
Sementara itu, penanganan pasien juga dilakukan RSU Aisyiyah Siti Fatimah, tercatat 47 pasien, dengan rincian 4 pasien rawat inap, 28 pasien sudah keluar rumah sakit, dan 15 pasien masih menjalani observasi.
Lalu, di RS Pusdik Bhayangkara, terdapat 8 pasien yang seluruhnya masih menjalani rawat inap.
Kemudian, RS Arafah Anwar Medika menangani 2 pasien yang seluruhnya masih menjalani rawat inap.
Sedangkan di RS Anwar Medika, terdapat 6 pasien. Sebanyak 1 pasien menjalani rawat inap, 1 pasien sudah keluar rumah sakit, dan 4 pasien masih dalam observasi.
“Kita pastikan, bagi semua pasien dalam kasus ini, ditangani dan biaya ditanggung pemerintah,” imbuhnya.
Lebih lanjut, pagi ini Dinas Pendidikan Jatim telah diinstruksikan untuk melakukan cek absensi siswa di seluruh lembaga yang kemarin menerima MBG dari SPPG yang sama.
“Jika ada yang absen, Dinkes melalui Puskesmas kami minta agar jemput bola, khawatirnya kalau oleh orang tua ditangani secara mandiri dan tidak diberikan penanganan medis, jadi dijangkau agar dapat pelayanan medis segera,” pungkas Emil.