Dari Degradasi ke Promosi, Setahun PSS Sleman Menebus Luka dan Membuka Lembaran Baru di Super League
Drajat Sugiri September 02, 2026 01:30 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Mei 2025 mungkin menjadi titik terendah bagi PSS Sleman.

Empat kemenangan beruntun pada penghujung kompetisi tidak cukup menyelamatkan tim berjuluk Super Elang Jawa dari jeratan degradasi. PSS harus mengakhiri musim 2024/2025 di peringkat ke-16 dan turun kasta ke Championship atau Liga 2 untuk musim berikutnya.

Degradasi itu terasa semakin pahit karena PSS sebenarnya mampu menutup kompetisi dengan catatan positif. Namun, hukuman pengurangan tiga poin akibat kasus pertandingan pada kompetisi Liga 2 2018 turut membuat perjuangan mereka berakhir di zona merah.

PSS yang sebelumnya berada di panggung tertinggi sepak bola Indonesia, harus memulai kembali dari bawah.

Satu musim di Liga 2 kemudian menjadi perjalanan panjang bagi klub asal Sleman tersebut.

Bukan hanya tentang bagaimana PSS berusaha kembali ke Super League, tetapi juga bagaimana mereka membangun ulang tim, menata kembali mental, hingga belajar dari kegagalan yang sebelumnya mereka rasakan.

Jatuh, Lalu Membangun Kembali

SELEBRASI - Para Pesepak bola PSS Sleman merayakan keberhasilan timnya promosi ke Super League musim 2026/2027 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Minggu (3/5/2026) sore. Keberhasilan tersebut dicapai PSS Sleman karena finis sebagai juara Grup B zona Timur Liga 2 2025/2026. TRIBUNNEWS/Muhammad Nursina (/Muhammad Nursina)

Setelah terdegradasi, PSS Sleman tidak langsung melakukan perombakan besar-besaran. Manajemen justru bekerja lebih hati-hati dalam menyusun skuad untuk menghadapi Liga 2.

Manajer tim PSS Sleman saat itu, Leo Tupamahu, mengakui pengalaman buruk musim sebelumnya menjadi bahan evaluasi dalam membangun tim.

"Tantangan dalam menyiapkan tim dan skuad musim ini cukup kompleks. Kami nggak bisa kecele atau kesandung lagi dalam merekrut pemain," ujar Leo, dikutip dari Tribun Jogja, Kamis(19/6/2025).

PSS kemudian mempertahankan sejumlah pemain yang dinilai masih memiliki peran penting, termasuk Cleberson Marins de Souza dan Riko Simanjuntak.

Langkah tersebut menjadi bagian dari proses membangun kembali tim.

PSS tidak hanya membutuhkan pemain untuk memenangkan pertandingan di Liga 2, tetapi juga membutuhkan fondasi untuk kembali bersaing di kasta tertinggi.

"Kami sudah belajar dari sebelum-sebelumnya, tahun ini harus lebih baik, lokal asing kami harus berusaha lebih baik dalam merekrut dan menyiapkan pemain," tambahnya.

Musim 2025/2026 pun dimulai.

Liga 2 Bukan Sekadar Tempat Persinggahan

Perjalanan PSS di Championship tidak selalu berjalan mudah.

Persaingan dengan sejumlah klub seperti Persipura Jayapura dan Barito Putera membuat posisi puncak Grup Timur terus berubah. Setiap pertandingan menjadi penting karena hanya sedikit ruang untuk melakukan kesalahan.

Memasuki fase akhir kompetisi, tekanan semakin besar.

Tujuh pertandingan terakhir bahkan dianggap seperti pertandingan final.

Pemain PSS, Frederic Injai, menggambarkan situasi tersebut sebagai fase yang menuntut konsentrasi penuh.

"Baru saja kita lalui putaran ketiga dan kini terisa tujuh pertandingan. Bagi saya ini seperti tujuh laga final," ujarnya.

PSS kemudian mulai melihat peluang kembali ke kasta tertinggi.

Pada Maret 2026, perhitungan mengenai promosi otomatis mulai bermunculan. Namun, Ansyari Lubis memilih tidak terlena dengan posisi PSS di papan atas.

"Kami tidak mau berandai-andai. Yang paling penting adalah fokus pada pertandingan yang ada di depan," kata Ansyari, dikutip dari Instagram Tribun Jogja.

Sikap tersebut menjadi penting.

PSS memang berada di jalur yang benar, tetapi tiket promosi belum benar-benar berada di tangan.

Tiga Laga yang Menentukan Segalanya

April 2026 menjadi bulan yang menentukan.

PSS memasuki tiga pertandingan terakhir musim dengan persaingan yang begitu ketat. Persipura dan Barito Putera masih mengintai, sehingga setiap poin menjadi sangat berharga.

PSS harus menghadapi Persiku Kudus, Persiba Balikpapan, dan PSIS Semarang.

Tidak ada ruang untuk bersantai. PSS akhirnya sampai pada pertandingan terakhir.

PSIS Semarang menjadi lawan yang menentukan nasib mereka.

Pada 3 Mei 2026, PSS tampil meyakinkan dan mengalahkan PSIS dengan skor 3-0.

Kemenangan tersebut memastikan satu hal yang sejak setahun sebelumnya mereka perjuangkan.

PSS kembali ke kasta tertinggi.

Hanya satu musim setelah terdegradasi, Super Elang Jawa berhasil merebut tiket promosi menuju Super League.

Promosi, tetapi Belum Sempurna

Perjalanan PSS di Liga 2 sebenarnya masih menyisakan satu pertandingan besar.

Mereka melaju ke final Championship dan berhadapan dengan Garudayaksa.

PSS sempat menunjukkan mentalitas pantang menyerah setelah tertinggal dua gol. Gustavo Tocantins menjadi salah satu pemain penting dalam kebangkitan tersebut dengan mencetak dua gol.

Pertandingan kemudian berakhir dramatis dan harus ditentukan melalui adu penalti yang dimenangkan Garudayaksa FC dengan skor 3-4 setelah bermain imbang 2-2 di waktu normal.

PSS akhirnya gagal membawa pulang trofi juara.

Namun, kegagalan tersebut tidak menghapus pencapaian terbesar mereka.

PSS tetap pulang dengan tiket kembali ke Super League.

Mereka memang tidak menutup musim sebagai juara, tetapi berhasil menyelesaikan misi yang sejak awal menjadi tujuan utama: kembali ke panggung tertinggi sepak bola Indonesia.

Satu Tahun yang Mengubah PSS

Bagi Pieter Huistra, pengalaman satu musim di Championship bukan sekadar perjalanan untuk kembali naik kasta.

Ada pelajaran yang tertinggal.

"Satu musim bermain di Championship membuat kami lebih rendah hati, dan bekerja lebih keras," ujar Huistra dalam konferensi pers pelatih Super League 2026/2027, Selasa (1/9/2026).

Pernyataan tersebut menjadi gambaran bagaimana PSS melihat perjalanan satu tahun terakhir.

Degradasi memaksa mereka turun.

Liga 2 kemudian memaksa mereka belajar.

Dan promosi menjadi hasil dari proses tersebut.

Huistra bahkan menilai PSS memang sudah kembali ke tempat yang semestinya.

"Mewakili PSS Sleman, kami sangat senang bisa kembali ke Super League 2026/2027. Saya pikir tempat PSS memang berada di sini," kata Huistra.

"Kami sudah lebih dari siap untuk kembali dan menunjukkan kemampuan kami, sekaligus menunjukkan kepada sepak bola Indonesia apa yang diperjuangkan oleh Sleman," tegas Huistra.

Bukan hanya kembali, PSS ingin menunjukkan bahwa satu musim di kasta kedua telah membuat mereka menjadi tim yang berbeda.

Tantangan yang sebenarnya baru akan dimulai.

Tidak Ingin Sekadar Menjadi Tim Promosi

Status PSS kini berubah.

Setahun lalu mereka adalah tim yang terdegradasi.

Kini mereka kembali sebagai tim promosi.

Namun, label tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk sekadar bertahan hidup di Super League.

PSS sudah melakukan persiapan pramusim dengan empat pertandingan uji coba menghadapi Kendal Tornado FC, Persita Tangerang, PSM Makassar, dan Persiku Kudus. Pada laga terakhir, PSS menang telak 6-1 atas Persiku, tetapi Huistra justru lebih menyoroti bagaimana para pemain membangun sinergi dan memahami satu sama lain.

Sebab, level kompetisi yang akan dihadapi berbeda.

PSS tidak lagi menghadapi klub-klub yang mereka lawan sepanjang musim lalu di Championship. Kini mereka harus kembali berhadapan dengan klub-klub terbaik Indonesia.

Dan ujian pertama langsung datang pada laga tandang melawan Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Jumat (4/9/2026).

Membuka Lembaran Baru

Kembalinya PSS ke Super League dengan demikian bukan hanya tentang sebelas pemain di lapangan.

Ada klub yang pernah jatuh, ada skuad yang dibangun kembali, ada pelatih yang membawa pengalaman dari satu musim di Liga 2, dan ada suporter yang kembali mengikuti perjalanan tim.

Semua menjadi bagian dari cerita yang sama.

Setahun lalu, PSS harus menundukkan kepala setelah degradasi.

Kini mereka kembali ke panggung tertinggi dengan pengalaman yang berbeda untuk menuliskan kisah di lembaran baru klub.

Huistra menyebut satu musim di Championship membuat PSS lebih rendah hati dan bekerja lebih keras.

Namun, Super League tidak akan memberikan banyak waktu untuk mengenang masa lalu.

PSS harus membuktikan bahwa satu tahun di Liga 2 benar-benar telah mengubah mereka.

Sebab, kembali ke tempat yang semestinya hanyalah awal.

"Kami benar-benar sangat menantikan untuk bermain di Super League. Sejujurnya, kami sudah tidak sabar untuk segera memulai," tutupnya.

(Tribunnewws.com/Sina)(Tribun Jogja/Almurfi Syofyan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.