TRIBUNBANTEN.COM, TANGERANG - Kondisi Pasar Gudang yang ada di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, kini terlihat sepi pengunjung.
Sepinya aktivitas jual beli tersebut paling terasa di area lantai dua pasar yang mayoritas diisi pedagang pakaian.
Berdasarkan pantauan TribunBanten.com, pasar tradisional ini berjarak sekitar 2,7 kilometer dari Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten (Puspemkab) Tangerang.
Perjalanan dari Puspemkab Tangerang menuju pasar tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit dengan sepeda motor.
Pasar Gudang Tigaraksa ini memiliki dua lantai dengan jenis dagangan yang berbeda.
Pada bagian lantai satu diisi pedagang yang menjual kebutuhan pokok, seperti sembako dan sayuran.
Sementara itu, lantai dua didominasi pedagang yang menjual berbagai jenis pakaian, mulai dari pakaian anak-anak hingga dewasa.
Namun, suasana berbeda terlihat di lantai dua. Area tersebut tampak sepi dari aktivitas pembeli.
Sejumlah lapak masih dipenuhi pakaian yang dipajang di sepanjang lorong pasar.
Pakaian terlihat digantung pada rak maupun dipajang menggunakan manekin.
Meski demikian, lorong-lorong di lantai dua terlihat lengang.
Baca juga: 14.073 KPM Bansos di Lebak Banten Dinonaktifkan, Terindikasi Gunakan Bantuan untuk Judol
Hanya beberapa orang yang tampak melintas, sementara para pedagang terlihat duduk menunggu pembeli di lapak masing-masing.
Pengelola Pasar Gudang Tigaraksa, Acep Jayadiwira mengungkapkan, kondisi tersebut terjadi karena pasar tradisional semakin sulit bersaing dengan tren belanja daring atau online serta menjamurnya pasar kaget di Kabupaten Tangerang.
Menurutnya, kemudahan transaksi digital membuat masyarakat kini lebih memilih berbelanja melalui toko online karena dapat membeli barang hanya dengan menggunakan telepon genggam.
Dampaknya, omzet pedagang di Pasar Gudang Tigaraksa mengalami penurunan drastis, khususnya yang menjual pakaian.
"Kalau di lantai dua itu bener-bener parah lah, karena kita nggak bisa bersaing dengan online. Barangnya tinggal diklik, murah," ujar Acep, saat dikonfirmasi melalui panggilan telepon, Rabu (2/9/2026).
"Sektor sandang menjadi yang paling terpuruk karena tidak bisa bersaing dengan medsos dan toko online," sambungnya.
Ia membeberkan, dari sekitar 350 pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Gudang Tigaraksa, kini hampir setengahnya sudah gulung tikar.
Menurut Acep, pedagang di lantai atas menjadi kelompok yang paling terdampak.
Selain belanja online, keberadaan pasar kaget yang beroperasi setiap Sabtu dan Minggu juga turut merebut pembeli Pasar Gudang Tigaraksa.
Pasar dadakan tersebut disebut beroperasi di kawasan RSUD Tigaraksa hingga area Pemda Kabupaten Tangerang.
"Pada hari Minggu yang seharusnya menjadi momentum panen bagi pedagang pasar, sekitar 70 persen pembeli justru beralih ke pasar dadakan," ujarnya.
Acep mengatakan, pihak pengelola telah berkoordinasi dengan Satpol PP Kabupaten Tangerang untuk mencari solusi terkait keberadaan pasar tumpah tersebut.
Upaya tersebut dilakukan agar aktivitas pasar dadakan tidak semakin menggerus jumlah pembeli yang berbelanja di Pasar Gudang Tigaraksa.
"Kalau untuk konsultasi kita sudah pernah ke Satpol PP Kabupaten untuk segera ditertibkan atau dicari solusinya," kata Acep.
"Jadi jangan sampai hari Minggu yang tadinya pedagang pasar bisa panen, akhirnya pembeli 70 persen ke sana semua," tambahnya.
Sementara itu, pengelola Pasar Gudang Tigaraksa juga telah melakukan sejumlah inovasi secara mandiri untuk kembali menarik minat masyarakat.
Di antaranya dengan menggelar gantangan atau lomba burung berkicau serta mengadakan kegiatan senam pagi secara rutin setiap hari Minggu di area pasar.
Namun, menurut Acep, persaingan yang dihadapi pedagang tidak hanya berasal dari toko online dan pasar kaget.
Munculnya kompetitor baru seperti Pasar Sodong yang disebut dikelola pihak swasta juga dinilai semakin menambah beban persaingan bagi pedagang Pasar Gudang Tigaraksa.
Ia pun berharap, Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama Perumdam Pasar Niaga Kerta Raharja selaku induk pengelola dapat meninjau kembali regulasi terkait pendirian pasar tradisional baru yang lokasinya berdekatan.
"Harusnya pemerintah meninjau ulang. Buat apa ada pasar tradisional yang dikelola sama BUMD kalau mudah banget mendirikan pasar-pasar (baru) seperti itu," ucapnya.
"Regulasinya yang harus ditekankan oleh pemerintah daerah," pungkasnya.