Lahir Sabtu Pahing? Wuku Sinta Gambarkan Sosok Pandai Membaca Keadaan
Hari Susmayanti September 02, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Tidak semua orang mudah ditebak hanya dari cara mereka berbicara.

Ada yang terlihat santai dan menyenangkan ketika berada di tengah banyak orang. 

Namun, sebenarnya ia sedang memperhatikan banyak hal.

Ia tahu kapan harus bicara. Ia tahu kapan sebaiknya diam. 

Bahkan, tidak semua hal yang diketahuinya akan langsung diceritakan kepada orang lain.

Dalam tradisi Primbon Jawa, gambaran seperti itu salah satunya dikaitkan dengan orang yang lahir pada Sabtu Paing, Wuku Sinta.

Orang dengan kelahiran ini disebut memiliki pikiran dan perasaan yang tajam.

Ia dipercaya cukup peka membaca keadaan. 

Kemampuan tersebut membuatnya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan dipercaya menyimpan rahasia.

Menariknya, karakter tersebut tidak berdiri sendiri.

Ada sisi hangat yang membuatnya bisa menjadi pelindung bagi orang lain. 

Namun, ada pula bagian dari dirinya yang perlu dijaga agar rasa percaya diri tidak berubah menjadi kesan angkuh.

Bisa Menjadi Tempat Orang Lain Bersandar

bersandar 2926
Ilustrasi Seseorang Sedang Bersandar Ke Wuku SInta Sabtu Pahing

Dalam gambaran Wuku Sinta, sosok yang lahir pada Sabtu Paing disebut memiliki kemampuan untuk menjadi pelindung bagi banyak orang.

Hal tersebut digambarkan melalui lambang pohon kendhayakan.

Kalau dibawa ke kehidupan sehari-hari, sifat ini bisa terlihat dari seseorang yang tidak keberatan membantu ketika orang lain sedang membutuhkan.

Ia mungkin bukan tipe yang selalu menunjukkan perhatian lewat kata-kata.

Tetapi ketika ada masalah, justru dirinya yang dicari.

Sementara itu, lambang Betara Yamadipati menggambarkan pribadi yang memiliki pandangan hidup luas.

Ia disebut menyukai sikap seorang pendhita. Berbagai pekerjaan yang dilakukan juga dipercaya dapat memberikan hasil yang baik.

Karakter seperti ini membuatnya tidak mudah puas hanya dengan melihat sesuatu dari satu sisi.

Pandai membaca situasi, pandai pula membawa diri

Ada satu simbol lain yang membuat gambaran Sabtu Paing Wuku Sinta semakin menarik, yakni burung ndhandhang atau gagak.

Dalam Primbon Jawa, burung gagak dikaitkan dengan banyak akal dan kecerdikan.

Orang dengan simbol ini disebut mampu menggunakan sikap yang manis untuk mencapai apa yang diinginkan.

Di satu sisi, kemampuan tersebut bisa menjadi kelebihan.

Ia tahu bagaimana menghadapi orang dengan karakter berbeda. 

Ia juga bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.

Namun, Primbon memberikan catatan.

Ketika tujuan sudah tercapai, orang tersebut disebut bisa menunjukkan sisi yang lebih angkuh.

Karena itu, kecerdikan akan menjadi kekuatan jika tetap disertai kerendahan hati.

Baca juga: Sudah Ada 32 Tersangka, Pengusutan Kasus Daycare Little Aresha Jalan Terus

Percaya Diri Boleh, tetapi Jangan Sampai Kebablasan

Ilustrasi
Ilustrasi (daruttauhiid.org)

Sifat angkuh kembali muncul dalam gambaran Wuku Sinta.

Orang yang lahir pada Sabtu Paing disebut mudah tersinggung. 

Ia juga memiliki kecenderungan membanggakan kebajikan diri sendiri dan kekayaan yang dimiliki.

Gambaran ini muncul melalui simbol gedung yang berada di depan.

Bukan berarti setiap orang dengan weton tersebut pasti memiliki sifat demikian.

Primbon sendiri merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa. 

Tafsir di dalamnya lebih tepat dipandang sebagai gambaran karakter dalam budaya, bukan kepastian mengenai seseorang.

Justru dari sini ada hal yang menarik.

Orang dengan karakter kuat biasanya memiliki dua kemungkinan. 

Kepercayaan diri bisa membuat seseorang berani melangkah. 

Tetapi jika tidak dikendalikan, hal yang sama bisa membuatnya terlihat merendahkan orang lain.

Ada Sisi Sederhana yang Sering Luput

Ilustrasi perempuan Indonesia sedang tertawa bahagia
Ilustrasi perempuan Indonesia sedang tertawa bahagia (DOK. Pexels)

Di balik gambaran tentang kecerdikan dan rasa percaya diri, Sabtu Paing Wuku Sinta juga memiliki simbol juaja yang terpancang di sisi kiri.

Simbol tersebut menggambarkan pribadi yang periang, hemat, dan berhati-hati.

Artinya, sosok ini tidak selalu serius atau penuh perhitungan.

Ada sisi ringan yang membuatnya bisa menikmati kehidupan. 

Ia juga disebut memiliki perhatian terhadap pengeluaran dan tidak sembarangan mengambil keputusan.

Dalam urusan penghidupan, Primbon Jawa menyebut perdagangan minyak dan beras sebagai salah satu usaha yang cocok.

Sementara itu, catatan Primbon juga memuat sejumlah keterangan mengenai penyakit, pengobatan tradisional, serta perlengkapan yang dipercaya berkaitan dengan perlindungan.

Keterangan tersebut merupakan bagian dari pengetahuan dan kepercayaan tradisional Jawa. 

Tidak dapat dijadikan pengganti diagnosis maupun pengobatan medis.

Tribunners, Sabtu Paing Wuku Sinta dalam Primbon Jawa bukan hanya tentang orang yang cerdas atau mudah tersinggung.

Ada Karakter yang Jauh Lebih Beragam di Dalamnya.

Ia digambarkan sebagai sosok yang peka, mampu menyimpan rahasia, pandai membaca keadaan, bisa menjadi pelindung, sekaligus memiliki rasa percaya diri yang kuat.

Tinggal bagaimana setiap orang mengelola sisi-sisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Tribunners, apakah karakter yang dijelaskan diatas terasa relate? 

Atau malah ada yang berbeda? 

Tulis pengalaman dan pendapat Tribunners di kolom komentar, ya!

(MG Natasya Aulia)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.