BANGKAPOS.COM – Inilah rekam jejak Ridho Rahmadi, menantu Amien Rais yang mundur dari Ketua Umum DPP Partai Ummat.
Dia memilih kembali berkonsentrasi pada aktivitasnya di bidang pendidikan dan teknologi.
Keputusan Ridho untuk mundur telah dikonfirmasi oleh Sekretaris Majelis Syura Partai Ummat, Ansufri Idrus Sambo.
"Iya, benar," ujar Ustaz Sambo kepada wartawan di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Ridho mengungkapkan, keputusan tersebut berkaitan dengan kesulitannya membagi waktu antara tugas sebagai pimpinan partai dan tanggung jawabnya sebagai Direktur Politeknik Artificial Intelligence (PLAI) di Yogyakarta.
Baca juga: Daftar 8 WNI Diduga Jadi Tentara Bayaran Rusia, Ukraina Ungkap Nama-namanya
Ia mengibaratkan pergantian kepemimpinan tersebut seperti estafet dalam sebuah perlombaan.
"Iya benar Mas. Ini tour of duty biasa. Dalam organisasi yang modern, kalau pelari di depan mulai ‘ngos-ngosan’, ya disambut estafet pelari selanjutnya, sehingga tim tetap mencapai garis finish," ujar Ridho saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (2/9/2026).
Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua umum, Ridho memastikan dirinya tetap berada di lingkungan Partai Ummat.
Ia masih tercatat sebagai anggota Majelis Syura Partai Ummat. Di saat yang sama, Ridho akan kembali menjalankan tugasnya di kampus yang menjadi tempatnya beraktivitas di bidang kecerdasan buatan.
"Saya sekarang kembali ke kampus Politeknik Artificial Intelligence BMD, ke habitat asli. Kalau di Partai, saya masih tercatat sebagai anggota Majelis Syura. Karena di Partai Ummat, ketua umum adalah anggota Majelis Syura yang ditugaskan," jelas dia.
Ansufri Sambo secara terpisah membenarkan bahwa persoalan pembagian waktu menjadi salah satu alasan utama Ridho memilih meninggalkan posisi ketua umum.
"Alasan utama Mas Ridho Rahmadi mundur adalah karena beliau kesulitan untuk membagi waktu, pikiran dan tenaga antara Partai Ummat dan posisi beliau sbg Direktur politeknik AI di Jogja yg baru berumur setahun," ujar Sambo.
Menurut Sambo, kedua jabatan tersebut sama-sama membutuhkan konsentrasi, tenaga, dan waktu yang besar.
Selama sekitar satu tahun, Ridho disebut berusaha menjalankan dua tanggung jawab tersebut secara bersamaan dengan rutin bepergian antara Yogyakarta dan Jakarta.
Namun, kondisi tersebut akhirnya berdampak pada kondisi fisiknya.
"Beliau sudah mencoba selama 1 tahun ini bolak balik Jogja Jakarta untuk menjalankan kedua tugas tersebut bersamaan. Tapi akhirnya fisik beliau tidak kuat juga," jelas Sambo.
"Karena dua tanggung jawab yg besar itu akhirnya berdampak pada kesehatan beliau menjadi sering sakit," sambungnya.
Setelah Ridho mengundurkan diri, Ansufri Idrus Sambo ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum DPP Partai Ummat.
Sementara jabatan Plt Sekretaris Jenderal diberikan kepada Muhammad Sadiq.
Penunjukan tersebut merupakan bagian dari keputusan Majelis Syura Partai Ummat dalam Musyawarah Majelis Syura ke-8 yang digelar pada Rabu (26/8/2026).
Dalam forum tersebut, pengunduran diri Ridho Rahmadi dan Taufik Hidayat dari posisi Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal diterima.
Keputusan itu mengacu pada Anggaran Dasar Partai Ummat Bab VII Pasal 14 ayat (1). Majelis Syura juga memberikan apresiasi atas dedikasi dan kontribusi keduanya selama menjalankan tugas di jajaran pimpinan pusat.
Meski tidak lagi menduduki jabatan eksekutif tersebut, Ridho dan Taufik tetap akan terlibat dalam kegiatan Partai Ummat melalui tugas dan peran lainnya.
Pengurus sementara kemudian diberi mandat untuk memastikan kegiatan administrasi dan operasional partai tetap berjalan, sekaligus melakukan konsolidasi organisasi secara nasional.
Ridho Rahmadi merupakan figur yang memiliki latar belakang akademik dan teknologi sebelum terjun lebih jauh ke dunia politik.
Ia lahir pada 13 April 1985 dan merupakan menantu Amien Rais setelah menikah dengan Tasnim Rais, putri Amien Rais.
Bidang yang menjadi keahliannya antara lain kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), digital forensik, data science, dan machine learning.
Ridho menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral. Ia meraih gelar Doktor Teknik dari Belanda, sedangkan pendidikan magister ditempuhnya di Austria dan Ceko.
Sebelum aktif dalam politik, Ridho berkiprah sebagai akademisi dan peneliti di bidang teknologi informasi. Ia juga pernah mengajar di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Aktivitas akademiknya kemudian berkembang hingga ia dipercaya menjalankan peran di bidang pendidikan dan teknologi, termasuk sebagai Direktur Politeknik Artificial Intelligence di Yogyakarta.
Ridho juga pernah melakukan kegiatan riset di Carnegie Mellon University, Amerika Serikat.
Nama Ridho mulai dikenal secara nasional setelah dipercaya memimpin Partai Ummat sebagai Ketua Umum pada April 2021.
Latar belakangnya sebagai akademisi dan praktisi teknologi membuat sosok Ridho memiliki karakter berbeda dibandingkan tokoh politik yang sejak awal berkarier di dunia politik praktis.
Pengetahuan mengenai informatika, data, AI, dan machine learning turut menjadi bagian dari pengalaman yang dibawanya ketika menjalankan aktivitas organisasi.
Kini, setelah mundur dari jabatan ketua umum, Ridho tidak sepenuhnya meninggalkan Partai Ummat. Ia tetap menjadi bagian dari Majelis Syura, sementara aktivitas utamanya kembali diarahkan pada dunia pendidikan dan teknologi.
(Tribunnews/Kompas.com/Bangkapos.com)