MUSIM kemarau memukul pertanian di Kelurahan Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Sejumlah petani mengalami gagal panen.
Mapanget Barat adalah salah satu sentra pertanian di Kota Manado.
Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai petani.
Tanaman yang ditanam kebanyakan jagung.
Saya menyambangi lokasi pertanian di Mapanget Barat, Rabu (2/9/2026) siang.
Suhu panas.
Tak ada angin yang berhembus.
Terlihat tanaman jagung yang kering menguning.
Pemandangan lainnya adalah tanah pertanian yang gundul.
Suasana memang sedang tidak baik baik saja.
Kelurahan Mapanget Barat berbatasan dengan Bandar Udara Sam Ratulangi.
Bahkan lahan tersebut hanya selemparan batu dari landasan luar bandara.
Saya ketemu dengan salah satu petani bernama Martinus.
Kala saya datang, Martinus tengah beristirahat di rumah kecilnya.
Rumah itu berada di tengah hamparan ladang pertanian.
Lahan kosong terhampar di sisi kiri rumahnya.
Sedang depan rumahnya terdapat lahan penuh jagung, tapi sudah menguning dan tak lama lagi kering.
Martinus menuturkan, dirinya sudah beberapa bulan lamanya tidak menanam jagung.
"Terakhir saya panen jagung pada Mei lalu," katanya.
Ia berhenti menanam karena lahan kering serta tidak ada air.
Menanam pada saat itu ibarat bunuh diri.
"Karena tidak ada air," katanya.
Tanpa jagung, dirinya kini coba bertahan hidup dengan kopra.
Meski hasil tak seberapa dibanding tanam jagung.
"Yah agar dapur tetap mengepul," katanya.
Ia bercerita, sejumlah petani alami gagal panen.
Seorang temannya menanam bibit dengan total 20 Kg hanya untuk menjadi santapan terik siang hari.
"Tanaman itu akhirnya kering," katanya.
Upaya sudah dilakukan untuk menyelamatkan tanaman jagung tersebut.
Salah satunya dengan menyiram air.
"Tapi tak cukup," katanya.
Ia mengaku para petani tetap butuh air.
Ungkap dia, air dibutuhkan untuk menyiram lahan.
"Agar nantinya kalau sudah musim tanam, tanah itu sudah siap ditanam," katanya.
(TribunManado.co.id/Art)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK