TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Kebakaran hutan di kawasan lereng Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, hingga Rabu (2/9/2026) masih belum padam. Api yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga berdampak terhadap habitat satwa liar.
Petugas TNBTS menemukan satwa yang mati di sejumlah lokasi terdampak kebakaran. Temuan tersebut berupa tulang belulang atau tengkorak satwa di Pos 2 jalur pendakian Gunung Semeru dan kawasan Ranu Kumbolo.
Kabag Tata Usaha (TU) TNBTS Bambang Suryono mengatakan, pihaknya menemukan sejumlah dokumentasi terkait temuan satwa tersebut.
Baca juga: Polisi Selidiki Kebakaran 600 Hektare Lereng Gunung Semeru Lumajang
"Kami mengambil 3 dokumentasi. Ada satwa yang mati, kemudian ada tengkorak satwa," ujarnya, Rabu (2/9/2026).
Selain tengkorak yang diduga berasal dari kijang, petugas juga menemukan bangkai seekor teledu di lokasi kebakaran. Namun, TNBTS belum dapat memastikan apakah kematian satwa tersebut berkaitan langsung dengan kebakaran.
"Untuk tengkorak (kijang) belum bisa dipastikan, apakah dampak kebakaran atau sudah lama mati," ulas Bambang.
Baca juga: Di Tengah Erupsi, Kebakaran Lereng Gunung Semeru Kian Meluas, Kini Capai 598 Hektare
Di tengah kebakaran yang terus berlangsung, petugas juga menemukan jejak macan tutul di kawasan terdampak. Temuan tersebut menjadi indikasi bahwa sejumlah satwa kemungkinan berpindah atau bermigrasi ke wilayah yang dinilai lebih aman.
"Kami juga menemukan jejak macan tutul yang masih hidup kemungkinan ia bermigrasi. Selain itu burung dan lainnya juga bermigrasi," ungkapnya.
Menurut Bambang, kebakaran saat ini telah menyebar ke sejumlah titik di kawasan TNBTS. Bahkan, salah satu titik api telah merembet hingga memasuki wilayah Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
"Titik api di Pos 1, Pos 2, Watu Rejeng, Sentong, Gunung Kepolo dan satu titik merembet ke Malang masuk daerah Ngadas," bebernya.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang Yudhi mengatakan, luas kawasan hutan yang terdampak kebakaran di lereng Semeru kini diperkirakan mencapai 600 hektare.
Penanganan kebakaran menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Beberapa titik api sulit dijangkau karena hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
"Kendala di lokasi, titik api hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki. Kabut dan angin yang cukup kencang juga menghambat pergerakan tim," tambahnya.