Nasib Kepala Dapur SPPG Usai 512 Santri dan Siswa Keracunan MBG, BGN Usulkan Diganti
Muhammad Ridho September 02, 2026 10:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bakal mengawal penanganan keselamatan dan kesehatan siswa yang mengalami keracunan usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di Sidoarjo. 

Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana menyampaikan, 80 siswa masih menjalani rawat inap, 312 siswa telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, sementara 120 siswa masih dalam tahap observasi.

"Kami memastikan mereka mendapatkan penanganan yang diperlukan hingga kondisi mereka kembali sehat dan dapat pulang ke rumah masing-masing," kata Ketut, dalam keterangan pers, Rabu (1/9/2026).

BGN berjanji, penanganan insiden dilakukan secara serius dan tuntas dengan mengedepankan keselamatan penerima manfaat serta penguatan pengawasan.

Saat ini, kata Ketut, proses investigasi masih berlangsung dan dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan laboratorium.

"Hasilnya nanti akan kita umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan," ucap Ketut.

Lantas bagaimana nasib Kepala Dapur SPPG Kalitengah, Sidoarjo setelah 512 santri dan siswa keracunan MBG?

Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan pencopotan sekaligus penggantian kepala SPPG Kalitengah.

"Kami juga mengusulkan kepada kepala SPPG tersebut untuk dilakukan suatu pencopotan sekaligus melakukan pergantian," ujar Ketut Sumedana.

Ketut mengatakan, berdasarkan hasil investigasi lapangan sementara, terdapat 512 orang yang terdampak dalam peristiwa dugaan keracunan tersebut.
 
"Berdasarkan data yang kami terima dari teman-teman yang sudah melakukan investigasi di lapangan, total yang terpapar atau terdampak sebanyak 512 orang," ungkapnya.

Hingga Rabu (2/9/2026), tercatat 431 santri harus menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Menu yang diduga menjadi sumber keracunan berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.

Kronologi Kejadian

- Makanan tiba di pesantren sekitar pukul 11.30 WIB.

- Sekitar 1.000 santri tingkat SMP/MTs hingga SMA/MA mengonsumsi menu MBG pukul 13.00 WIB.

- Menu terdiri dari nasi putih, telur orak-arik/dadar, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel.

- Gejala mulai muncul setelah salat Asar, sekitar pukul 16.00 WIB: mual, muntah, sakit perut, hingga lemas.

- Karena jumlah korban terus bertambah, pihak pesantren segera merujuk santri ke berbagai rumah sakit menggunakan ambulans dan kendaraan operasional.

Penanganan Medis

Sebanyak 431 santri dirawat di tujuh rumah sakit, antara lain RSUD Notopuro, RS Delta Surya, RS Islam Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St. Fatimah, RS Pusdik Bhayangkara, dan RS Arafah Anwar Medika.

Dinas Kesehatan Sidoarjo juga mendirikan posko medis di area pesantren.

Sebagian santri yang kondisinya membaik diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.

Wakil Gubernur Jatim sekaligus Kepala Satgas MBG, Emil Elestianto Dardak, menegaskan tidak ada korban meninggal dunia.

Emil meluruskan rumor bahwa keracunan terjadi akibat hidangan acara Maulid Nabi.

Ia memastikan korban hanya mengonsumsi menu MBG.

Baca juga: Awal Mula Suku Anak Dalam Kepung Tentara di Jambi, Diduga Pukul Remaja Duluan Karena HP

Sementara, Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan seluruh pasien tertangani dengan baik, sebagian sudah diperbolehkan pulang.

Penelusuran menunjukkan kasus bersumber dari dapur SPPG Kalitengah, yang mendistribusikan 2.800 porsi MBG ke berbagai sekolah dan pesantren.

Emil mengonfirmasi keracunan juga terjadi di sejumlah sekolah lain yang menerima pasokan dari dapur yang sama.

Sebagai langkah cepat, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah untuk investigasi dan pengujian sampel makanan.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mencatat total korban mencapai 448 orang (424 dari Ponpes Manba’ul Hikam dan 24 dari sekolah lain).

Sebanyak 173 di antaranya sudah diperbolehkan pulang.

( Tribunpekanbaru.com / Tribunmedan )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.