Aksi yang berjalan aman dan damai merupakan salah satu bentuk keberhasilan Polri
Jakarta (ANTARA) - Pengamat kebijakan publik Faisal Lohy menilai Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berperan penuh dan menjadi ujung tombak dalam menjaga demokrasi dalam aksi pada 27 Agustus 2026.
Dia mengatakan secara objektif, Polri memiliki peran besar dalam menjaga jalannya demokrasi melalui pengamanan penyampaian aspirasi masyarakat.
“Aksi yang berjalan aman dan damai merupakan salah satu bentuk keberhasilan Polri," kata Faisal dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Namun demikian, ia menekankan masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu dievaluasi, khususnya terkait kemampuan deteksi dini terhadap kelompok yang berpotensi memicu kerusuhan.
Sebab, kata dia, salah satu catatan penting yang harus dilihat, yakni pada akhir dari setiap penyampaian aspirasi publik sering kali terjadi kericuhan dan rusuh.
Artinya, dia melanjutkan, pendeteksian dini Polri terhadap kelompok perusuh masih perlu di evaluasi sehingga harus terus didorong dalam melihat kembali kinerja aparat keamanan.
Faisal juga menyoroti derasnya arus informasi di media sosial yang dapat meningkatkan eskalasi massa dalam sebuah aksi demonstrasi.
Menurutnya, informasi yang tersebar secara liar dan masif di media sosial dapat memengaruhi situasi di lapangan sehingga membutuhkan langkah preventif dan pre-emtif yang lebih kuat dari aparat keamanan.
“Langkah preventif dan pre-emtif Polri memang bekerja di tengah informasi yang begitu masif di media sosial. Namun demikian, kemampuan pendeteksian dini tetap harus menjadi bagian penting yang terus dievaluasi," tuturnya.
Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syaufuan Rozi menilai terdapat perubahan paradigma dalam pola penanganan penyampaian aspirasi masyarakat oleh Polri, khususnya dalam aksi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) pada 27 Agustus lalu.
Ia berpendapat aparat keamanan telah menunjukkan kemampuan dalam membaca karakter dan dinamika massa yang hadir dalam aksi tersebut.
“Dalam aksi kemarin, massa terbagi dalam tiga sesi, yakni pagi, siang menjelang sore, dan sesi malam. Sesi malam ini lah yang diisi oleh kelompok-kelompok anarko,” ujar Syaufuan.
Meski begitu, dia menilai Polri telah mempelajari pola dan memiliki pendekatan berbeda terhadap berbagai kelompok yang terlibat dalam aksi demonstrasi.
Hal tersebut, menurut Syaufuan, menjadi modal penting dalam menjaga agar penyampaian aspirasi masyarakat tetap berjalan dalam koridor demokrasi.
Selain memberikan apresiasi terhadap pola penanganan aksi, Syaufuan juga memberikan pandangan terkait langkah mitigasi terhadap kelompok anarko yang kerap dituding menjadi pemicu terjadinya kericuhan dalam sejumlah aksi massa.
Ia berpendapat pendekatan konflik tidak selalu harus dilakukan dengan menghadapkan massa dengan kekuatan aparat secara langsung.
Dengan demikian ketika ada kelompok anarko, dia menyarankan aparat bisa melakukan mitigasi konflik dengan tidak memberikan ruang terjadinya konfrontasi.
"Salah satu alternatifnya adalah menarik pasukan agar mereka kehilangan lawan. Itu bisa menjadi bagian dari strategi mitigasi konflik,” tuturnya.
Di sisi lain, pegiat demokrasi Fauzan Ohorella menilai penanganan aksi pada 27 Agustus merupakan bentuk komitmen aparat keamanan dalam mengawal ruang demokrasi dan kebebasan masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Menurut Fauzan, pendekatan keamanan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya bersama Kodam Jaya menunjukkan adanya pergeseran pola pengamanan terhadap massa demonstrasi.
Ia menilai pendekatan persuasif yang dikedepankan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga situasi tetap kondusif.
“Penanganan aksi pada 27 Agustus kemarin adalah bentuk komitmen aparat dalam mengawal agenda demokrasi masyarakat. Kita juga perlu memberikan apresiasi kepada Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya,” ujar Fauzan.
Dia menegaskan negara memiliki kewajiban untuk menjamin hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat sekaligus memastikan tidak ada kelompok tertentu yang memanfaatkan ruang demokrasi untuk melakukan tindakan kekerasan dan menciptakan kerusuhan.





