Produksi Kopi Bontugu Ketapanrame Melonjak hingga Pasar Makin Luas Sejak Dibina BI Jatim
Alga W September 03, 2026 01:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Mohammad Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Kopi Bontugu di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, terus berkembang menjadi salah satu produk unggulan desa yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Sejak 2024, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (KPw BI Jatim) melakukan pendampingan terhadap Paguyuban Petani Kopi Bontugu melalui penguatan kapasitas petani, peningkatan kualitas produksi, bantuan sarana-prasarana hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas.

Advisor sekaligus Deputi Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Donni Fajar Anugrah mengatakan, Kopi Bontugu memiliki potensi besar untuk berkembang tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.

Potensi tersebut dinilai semakin kuat karena kopi ditanam di kawasan lereng Gunung Welirang dan telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Ketapanrame selama bertahun-tahun.

"Paguyuban petani Kopi Bontugu adalah salah satu binaan Bank Indonesia sejak tahun 2024. Tujuan utamanya yaitu meningkatkan kapasitas produksi, meningkatkan kualitas produksi, dan memperluas akses pemasaran," ujar Donni dalam kegiatan Jelajah UMKM & Pondok Pesantren 2026 yang diinisiasi Bank Indonesia di Desa Ketapanrame, Jumat (14/8/2026).

Produktivitas kopi meningkat

Dalam proses pendampingan, BI Jatim menggandeng Universitas Brawijaya Malang untuk memberikan pelatihan kepada petani selama sekitar tiga bulan.

Materi pendampingan diberikan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai cara penanaman, pemupukan, perawatan tanaman, pengendalian masalah di kebun, proses panen hingga pengolahan pascapanen agar kopi yang dihasilkan memiliki kualitas lebih konsisten.

Pendampingan tersebut mulai menunjukkan hasil. Produktivitas tanaman yang sebelumnya berada di kisaran 0,5 kilogram per pohon meningkat menjadi sekitar 1 kilogram per pohon.

Penguatan kelembagaan kelompok tani juga disebut berdampak terhadap peningkatan volume produksi, sehingga petani tidak lagi hanya mengandalkan pola pengelolaan tradisional tetapi mulai membangun sistem produksi yang lebih terarah.

"Tentunya, ini adalah hal-hal yang terbukti dampaknya ada peningkatan," kata Donni.

Selain peningkatan kemampuan petani, BI Jatim turut menyalurkan berbagai sarana dan prasarana untuk mendukung aktivitas produksi.

Bantuan yang diberikan antara lain rumah produksi kopi, mesin pemilah, mesin pencuci kopi, katrol elektrik untuk membantu proses penjemuran di lantai dua rumah produksi, oven industri untuk membuat produk turunan hingga generator listrik berkapasitas 35 ribu watt.

Petani juga memperoleh mesin pemotong rumput yang dapat digunakan untuk membantu pembukaan dan perawatan lahan budidaya di kawasan Perhutani lereng Gunung Welirang.

Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga membuat proses pengolahan kopi berlangsung lebih efisien dan kualitas produk dapat lebih terjaga.

Dorong produk turunan kopi

Pendampingan BI Jatim tidak berhenti pada peningkatan produksi biji kopi.

Kelompok petani juga didorong mengembangkan berbagai produk turunan agar nilai ekonomi komoditas yang dihasilkan semakin besar sekaligus mengurangi bagian kopi yang terbuang selama proses pengolahan.

Kulit ceri kopi, misalnya, kini dimanfaatkan menjadi teh cascara setelah melalui proses pengeringan.

Sementara kopi juga dikembangkan menjadi produk makanan seperti coffee cookies atau kukis kopi gula palem Bontugu.

Produk turunan tersebut menjadi bagian dari diversifikasi usaha yang memberi peluang tambahan bagi masyarakat untuk memperoleh nilai ekonomi dari komoditas kopi.

Di sisi pemasaran, BI Jatim turut menjembatani kelompok petani dengan berbagai jaringan pasar, mulai dari pelaku coffee shop, pameran produk hingga kegiatan misi dagang.

Salah satu wadah promosi yang rutin digunakan adalah Java Coffee & Flavors Fest yang mempertemukan produsen dengan calon pembeli dari berbagai daerah.

"Kami rutin menggelar Java Coffee & Flavors Fest setiap tahun sebagai sarana mendukung pemasaran produk kopi," imbuh Donni.

Kopi Bontugu juga memiliki keuntungan karena berkembang di Desa Ketapanrame yang telah dikenal sebagai kawasan wisata.

Produk kopi dapat dipasarkan melalui kedai-kedai lokal dan berbagai aktivitas wisata di kawasan Trawas, sehingga sektor pertanian, UMKM dan pariwisata membentuk ekosistem ekonomi yang saling mendukung.

Permintaan tinggi, stok kopi terbatas

Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin mengatakan, kehadiran Bank Indonesia sejak 2024 membantu menjawab berbagai persoalan yang sebelumnya dihadapi kelompok petani.

Kendala tersebut mulai dari keterbatasan alat produksi, tempat pengolahan, peningkatan kompetensi petani hingga sulitnya menjangkau pasar yang lebih luas di luar kawasan Trawas.

"Kami membutuhkan pihak lain yang nantinya bisa mempercepat atau membantu kami dalam pengembangan potensi Ketapanrame. Hadirlah Bank Indonesia di Ketapanrame, mulai mendekatkan potensi kami yang tidak hanya wisata, tapi juga kopi salah satu potensi lokal yang perlu dikembangkan," ujar Zainul.

Menurutnya, lebih dari 90 hektare kawasan di Desa Ketapanrame telah dimanfaatkan untuk budidaya kopi sejak sekitar 2016.

Produksi kopi di wilayah tersebut berada di kisaran 80-90 ton per tahun, sedangkan lebih dari 280 warga menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian kopi.

Akses pasar juga semakin luas setelah Kopi Ketapanrame diperkenalkan melalui berbagai pameran, termasuk Java Coffee & Flavors Fest di Surabaya pada Juli 2026.

Dari kegiatan tersebut, produk kopi lokal mulai menarik minat pembeli maupun pelaku usaha dari sejumlah kota seperti Yogyakarta, Surabaya, Malang, Jakarta dan Solo.

"Ini suatu keuntungan bagi kami, dengan BI kami punya akses lebih ke konsumen-konsumen dari luar kota seperti Yogyakarta, Surabaya, Malang, Jakarta, Solo yang mulai membidik di mana kafe-kafe usaha mereka ingin di-support dari hasil kopi Ketapanrame," beber Zainul.

Tingginya permintaan kemudian berdampak pada ketersediaan stok dan harga jual.

Zainul menyebut harga kopi bean yang sebelumnya berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram kini dapat mencapai Rp120 ribu-Rp150 ribu per kilogram.

Sementara kopi yang telah melalui proses roasting mencapai sekitar Rp200 ribu-Rp250 ribu per kilogram.

Pemkab Mojokerto dorong perluasan lahan

Pengembangan Kopi Ketapanrame juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Mojokerto.

Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Siti Arofah mengatakan, kopi merupakan salah satu komoditas potensial yang dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat sekaligus mendukung perkembangan sektor unggulan daerah.

Saat ini terdapat empat kecamatan yang menjadi sentra produksi kopi di Kabupaten Mojokerto, yakni Jatirejo, Gondang, Pacet dan Trawas.

Kecamatan Trawas memiliki areal perkebunan kopi mencapai sekitar 104 hektare dengan jenis Arabika dan Robusta, sedangkan Arabika menjadi salah satu komoditas utama yang dikembangkan di Desa Ketapanrame.

Pemkab Mojokerto juga menyiapkan strategi perluasan lahan budidaya menuju kawasan lereng Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan.

Selain itu, pemerintah daerah secara konsisten melaksanakan sekolah lapang dan bimbingan teknis untuk meningkatkan pengetahuan petani, termasuk edukasi mengenai teknik petik merah agar kualitas hasil panen semakin baik.

Siti mengapresiasi pendampingan yang selama ini dilakukan Bank Indonesia terhadap petani Kopi Ketapanrame.

Menurutnya, bantuan peralatan dan peningkatan kompetensi petani memberikan dampak langsung terhadap produktivitas dan kualitas komoditas yang dihasilkan masyarakat.

"Pendampingan dari Bank Indonesia membuat petani menjadi lebih produktif. Dampak positifnya kini sangat dirasakan oleh masyarakat, khususnya warga Desa Ketapanrame," ucap Siti.

Kolaborasi antara petani, pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan Bank Indonesia diharapkan dapat terus menjaga kualitas Kopi Bontugu sekaligus memperluas akses pasarnya.

Dengan pengembangan yang berkelanjutan, Kopi Bontugu tidak hanya diarahkan menjadi produk unggulan Trawas, tetapi juga salah satu penggerak kemandirian ekonomi masyarakat Desa Ketapanrame.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.