Dampak Kekeringan di Mahakam Ulu Picu Risiko ISPA dan Diare
Budi Susilo September 03, 2026 01:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur, tidak hanya berdampak terhadap meningkatnya risiko gangguan pernapasan, tetapi juga penyakit berbasis air seperti diare.

Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Mahakam Ulu, dr. Barce Tenda mengatakan, kondisi kekeringan membuat debit air menurun dan sejumlah sumber air masyarakat mulai mengering.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas air yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk konsumsi.

“Bukan cuma ISPA yang meningkat, tapi juga diare. Artinya, makanan atau minuman juga berpengaruh, dalam hal ini air,” kata Barce kepada TribunKaltim.co, Rabu (2/9/2026).

Baca juga: 2 Kecamatan di Mahulu Krisis Logistik Akibat Kekeringan, Status Siaga Darurat Ditetapkan

Ia menjelaskan, penurunan debit Sungai Mahakam serta mengeringnya sejumlah sumur, termasuk sumur bor, membuat risiko penyakit yang berkaitan dengan kualitas air menjadi lebih tinggi.

Karena itu, masyarakat diminta memastikan air yang dikonsumsi berasal dari sumber yang diketahui dan aman.

Barce juga mengimbau masyarakat untuk memasak air terlebih dahulu sebelum dikonsumsi sebagai langkah pencegahan.

“Yang artinya kita tahu sumbernya dari mana, kemudian dimasak. Sedapat mungkin dimasak untuk kemudian mencegah kalau-kalau terjadi peningkatan kasus,” ujarnya.

Baca juga: Kasus Infeksi Saluran Pernapasan di Kutai Timur Melonjak Akibat Cuaca Panas dan Karhutla

Ia menyebut bakteri seperti E. coli perlu diwaspadai ketika kualitas dan kuantitas air menurun.

Bakteri tersebut dapat menjadi indikator adanya pencemaran pada sumber air dan berkaitan dengan penyakit saluran pencernaan.

Terkait penggunaan kaporit, Barce mengatakan Dinkes P2KB Mahulu telah mendistribusikan sebagian stok kaporit kepada masyarakat, meski persediaan logistik masih terbatas.

Masyarakat tetap perlu mengolah air dengan baik sebelum digunakan untuk kebutuhan keluarga.

“Ketika krisis air ini terjadi, kita mengolah air itu dengan lebih baik, dengan lebih safe untuk kepentingan keluarga kita,” pungkasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.