Petani Madiun Manfaatkan Pestisida Nabati dan Burung Hantu untuk Kendalikan Hama
Pipit Maulidya September 03, 2026 01:32 AM

 

SURYA.co.id, MADIUN - Petani di Desa Klumutan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, mulai mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia melalui program Manajemen Tanaman Sehat (MTS).

Program tersebut mendorong petani memanfaatkan bahan organik dan hayati yang tersedia di lingkungan sekitar untuk menjaga tanaman sekaligus mengendalikan hama.

Penerapan MTS ini mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Pertanian RI. Program tersebut dinilai sejalan dengan upaya mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Rachmat, mengatakan MTS mendorong penggunaan input pertanian yang lebih ramah lingkungan.

"Kita dorong swasembada berkelanjutan melalui manajemen tanaman sehat, melalui pengelolaan hama serangga padi. Bagaimana kita memberikan input untuk tanaman kita dengan input-input yang ramah lingkungan, yang bisa diperoleh dari sekitar para petani kita," ujar Rachmat saat menghadiri Panen Raya di Desa Klumutan, Rabu (2/9/2026).

Baca juga: Pasutri di Banyuwangi Nekat Jadi Bandar Sabu 1 Kg, Terancam Hukuman Mati

Manfaatkan Bahan Alami untuk Pestisida Nabati

Petani Klumutan memanfaatkan sejumlah bahan alami seperti buah maja, daun sirih, dan tembakau untuk dibuat menjadi pestisida nabati.

Mereka juga menanam bunga matahari, kenikir, dan marigold atau bunga tahi ayam sebagai tanaman refugia. Tanaman tersebut menjadi tempat berlindung bagi musuh alami hama padi.

Menurut Rachmat, penggunaan bahan nabati dan hayati juga dapat membantu menekan biaya produksi.

"Para petani yang menerapkan manajemen tanaman sehat, mereka sangat antusias. Antusias terkait dengan pemanfaatan bahan nabati dan hayati ini," tambahnya.

Baca juga: Kronologi Toyota Calya Terbalik di Cerme Gresik, Hantam Median dan Pemotor Arah Berlawanan

Gunakan Burung Hantu untuk Kendalikan Tikus

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dilakukan secara terpadu, termasuk terhadap tikus, wereng batang cokelat, dan penggerek batang.

Untuk mengendalikan tikus, petani memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami dengan membangun Rumah Burung Hantu (Rubuha).

"Memanfaatkan burung hantu sebagai musuh alaminya tikus. Nah, di sini juga dikembangkan di Jawa Timur dengan baik. Bahkan dari level desa sampai kabupaten itu membuat semacam perencanaan untuk bisa membangun rumah burung hantu tersebut," terang Rachmat.

Rachmat menambahkan, penerapan pertanian ramah lingkungan juga menjawab meningkatnya perhatian pasar global terhadap keamanan dan kesehatan pangan.

"Saat ini perhatian dunia itu mengarah kepada pangan yang sehat. Pangan yang sehat itu tentu saja bersumber dari budidaya yang ramah lingkungan. Sehingga ini terus kita dorong," tuturnya.

Melalui MTS, Kementerian Pertanian mendorong produksi padi tetap tinggi dengan biaya produksi yang lebih efisien sekaligus menghasilkan pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.