20 Kali Karhutla Terjadi di Bondowoso, Pemda Siapkan Strategi Waspadai Dampak El Nino hingga 2027
Samsul Arifin September 03, 2026 10:14 AM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sinca Ari Pangestu

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mulai mendapat perhatian serius pemerintah daerah.

Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar 20 kejadian karhutla tercatat dengan luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai kurang lebih 600 hektare.

Luas area yang terdampak tersebut berada di kawasan milik Perhutani dan PTPN. Kondisi ini menjadi perhatian karena potensi kebakaran masih terbuka, terutama di tengah musim kering dan aktivitas masyarakat yang berisiko memicu munculnya api.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bondowoso Kristianto Putro Prasojo mengatakan, kejadian karhutla paling banyak ditemukan di Kecamatan Ijen dan Kecamatan Wringin.

Menurutnya, pemerintah tidak hanya perlu menangani kebakaran yang sudah terjadi, tetapi juga mengantisipasi agar api tidak merembet ke kawasan lain yang memiliki potensi kerawanan serupa.

Kekhawatiran itu mencakup lahan Perhutani dan PTPN lainnya, termasuk area perkebunan tebu yang tengah dibersihkan untuk persiapan tanam.

Aktivitas pembakaran sampah oleh masyarakat juga menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai karena berpotensi memicu kebakaran dan memperluas dampaknya.

Baca juga: Karhutla Semeru Makin Meluas ke Pasuruan-Probolinggo, 3.072 Hektar Ludes, Digempur Water Bombing

El Nino Jadi Perhatian

Risiko meluasnya karhutla semakin diperhatikan karena kondisi cuaca diperkirakan masih mendukung terjadinya kebakaran. Berdasarkan prediksi BMKG, fenomena El Nino masih akan berlangsung hingga awal 2027.

BMKG memprediksi kondisi tersebut menguat pada Agustus dan September, sebelum kemudian berangsur-angsur menurun hingga awal tahun.

"Ini yang perlu kita antisipasi," ujar pria berpangkat Pembina Tingkat I (IV/b) ini usai mengikuti Rakor Penanggulangan Karhutla di Aula Sabha Bina 2, Rabu (2/9/2026).

Melihat kondisi yang mengalami eskalasi tersebut, Pemerintah Daerah mengumpulkan seluruh pihak untuk menyamakan langkah pencegahan, edukasi, penanganan, hingga mobilisasi sumber daya.

Kristianto mengatakan, koordinasi penanganan sekaligus pencegahan karhutla di Kecamatan Ijen sebenarnya telah berjalan. Pola koordinasi tersebut selanjutnya ingin diterapkan di kecamatan lain yang memiliki potensi kerawanan kebakaran.

"Karena itulah kami mengumpulkan berbagai stakeholder yang memiliki sumber daya," jelas pria yang pernah menjabat sebagai Kabag Kesra Pemkab Bondowoso tersebut.

BPBD Dapat Tambahan Anggaran

Upaya memperkuat penanganan karhutla juga didukung dari sisi anggaran. Kristianto mengakui, dalam PAK APBD 2026, BPBD Bondowoso mendapatkan tambahan anggaran operasional untuk penanganan karhutla.

Meski demikian, Kristianto tidak menyebutkan secara rinci besaran tambahan anggaran tersebut. Ia menegaskan, tambahan anggaran itu menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menangani sekaligus mencegah karhutla di Bondowoso.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Bondowoso Fathor Rozi menegaskan bahwa penanganan dan penanggulangan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.

Menurutnya, seluruh unsur yang memiliki sumber daya harus terlibat, mulai dari TNI-Polri, Perhutani, PTPN, PMI, LMDH, komunitas, relawan, hingga dunia usaha.

Pastikan Personel dan Peralatan Siap

Fathor mengatakan, kolaborasi tersebut mencakup seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan saat terjadi kebakaran, hingga pemulihan setelah kejadian.

"Yang pertama adalah memastikan sumber daya untuk penanganan dalam kondisi siap (ready). Sumber daya manusianya ada, peralatannya ada, moda transportasinya, logistik, hingga sumber airnya," terangnya.

Selain memastikan kesiapan sumber daya, upaya pencegahan juga menjadi bagian penting dalam menekan potensi karhutla. Salah satunya melalui edukasi kepada masyarakat mengenai aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Fathor menyebut, sejumlah kejadian kebakaran dipicu oleh kebiasaan warga membakar sampah. Karena itu, kesadaran masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci untuk mencegah munculnya titik api, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.

Oleh karena itu, rakor ini digelar untuk memastikan sinergi dan kolaborasi bersama dalam penanggulangan karhutla di Bondowoso.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.