Update Dugaan Keracunan MBG di Agam: 71 Siswa SDN 08 Nan Limo Masih Demam dan Istirahat di Rumah
Rezi Azwar September 03, 2026 01:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, AGAM - Sebanyak 71 siswa SD Negeri 08 Nan Limo, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, masih mengalami demam dan beristirahat di rumah usai diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak Selasa (1/9/2026).

Kepala SDN 08 Nan Limo, Jonnedi, mengatakan bahwa sejumlah siswa mengonsumsi MBG pada Senin (31/8/2026).

Pada hari yang sama, siswanya belum merasakan gejala apapun dan kondisi mereka masih aman.

Akan tetapi pada Selasa, sebanyak 21 siswanya mulai merasakan gejala pusing, demam, mual, muntah hingga diare.

"Jumlahnya kemudian bertambah pada Rabu (2/9/2026) menjadi sebanyak 54 orang," kata dia saat dikonfirmasi, Kamis (3/9/2026).

Baca juga: Potensi Investasi Mentawai Terganjal Masalah Tata Ruang Hutan dan Laut

KERACUNAN MAKANAN - Pemerintahan Kabupaten Agam meminta dapur SPPG di Palupuh berhenti beroperasi sementara waktu, pasca dugaan kasus keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Nama dapur tersebut yakni Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.
KERACUNAN MAKANAN - Pemerintahan Kabupaten Agam meminta dapur SPPG di Palupuh berhenti beroperasi sementara waktu, pasca dugaan kasus keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Nama dapur tersebut yakni Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. (TribunPadang.com/Ist)

Bahkan pada hari ini, Jonnedi mengatakan sebanyak 71 siswa dari SDN 08 Nan Limo masih demam dan harus beristirahat di rumah.

Selain itu, satu orang guru SDN 08 Nan Limo juga merasakan gejala yang sama, dan masih dalam tahap memulihkan diri.

"Total hari ini 71 siswa demam dan istirahat di rumah. Kemudian satu guru kita juga dirawat di rumahnya, karena demam," jelanya.

Di sisi lain ia menyebut, sejumlah siswa yang sakit akibat dugaan keracunan sudah bersekolah, namun jumlahnya tidak sampai setengah.

"Kemarin kan yang diduga keracunan 54, tadi sudah sekolah sebanyak 15 orang. Tapi hari ini jumlahnya 71 yang sakit, ditambah satu guru," tambahnya.

Cerita Wali Nagari di Agam Temani Istri dan Anak di Puskesmas Usai Keracunan

Wali Nagari Koto Rantang Novri Agus Parta Wijaya mendampingi istri dan anaknya yang berusia 3,5 tahun di Puskesmas Palupuh, Kabupaten Agam, hingga tidak tidur semalaman.

Keduanya harus menjalani penanganan medis intensif setelah mengalami gejala demam, mual, pusing, dan muntah.

Novri menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi setelah istri dan anaknya mengonsumsi menu telur puyuh dan tempe dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di posyandu setempat pada Selasa (1/9/2026).

Baca juga: Resmi Dilantik, Sekda Medison Pimpin Korpri Kabupaten Dharmasraya 2026–2031

Usai kejadian tersebut, langsung melarikannya ke Puskesmas Palupuh untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

"Istri dan anak saya yang berumur 3,5 tahun juga keracunan kemarin, dia mual, pusing dan muntah, lalu dibawa ke puskesmas," kata dia, Rabu (2/9/2026).

Bahkan, Novri mengaku tidak bisa tidur semalaman saat menemani anak dan istrinya di puskesmas.

Sampai hari ini, anak dan istrinya masih lemas akibat dampak dari dugaan keracunan tersebut.

"Kondisinya belum pulih seutuhnya, hari ini dibawa lagi berobat," pungkasnya.

Ia mengatakan, anak dan istrinya diduga keracunan usai menyantap MBG yang didapat dari posyandu di Palupuh.

Menu terakhir yang dimakan keluarganya, yakni telur puyuh dan tempe. Seusai menyantap tersebut, barulah merasakan mual, muntah dan pusing.

"Ternyata tidak anak dan istri saya, banyak siswa dan ibu menyusui yang juga keracunan. Sampai-sampai petugas kesehatan puskesmas kewalahan," tambahnya.

Gubernur Sumbar Instruksikan Penutupan Sementara Dapur SPPG

KABUT ASAP SUMBAR -  Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, diwawancarai Rabu (2/9/2026).
KABUT ASAP SUMBAR - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, diwawancarai Rabu (2/9/2026). (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, memberikan tanggapan tegas terkait insiden dugaan keracunan massal usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

Langkah penghentian operasional fasilitas penyedia makanan dinilai sebagai tindakan mutlak guna mencegah timbulnya korban baru.

Pernyataan tersebut disampaikan Mahyeldi usai memimpin acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan enam Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumbar yang berlangsung di Kota Padang pada Rabu (2/9/2026).

Baca juga: Investasi Sumbar Tembus Rp7,56 T, Naik 141 Persen Meski Sempat Dilanda Bencana

Orang nomor satu di Sumatera Barat tersebut menegaskan bahwa penutupan fasilitas dapur MBG merupakan prosedur standar keselamatan yang harus langsung dijalankan ketika terindikasi adanya kasus keracunan.

“Nantik diperiksa dulu untuk sementara dapur ditutup ,”ucapnya.

Ia menekankan bahwa pengamanan lokasi pengolahan makanan sangat krusial agar proses pemeriksaan laboratorium dan investigasi lapangan dapat berjalan secara optimal tanpa gangguan.

Langkah penutupan operasional sementara ini bertujuan untuk memastikan penyebab utama masalah kesehatan tersebut sebelum nantinya diputuskan apakah fasilitas dapur dapat kembali beroperasi.

Mahyeldi mengingatkan pentingnya sinergi yang ketat antara pengelola dapur MBG, jajaran dinas kesehatan, serta instansi terkait lainnya dalam mengawal program pangan sosial ini.

Sebagai jajaran pemerintah di daerah, kewajiban paling utama yang harus ditunaikan adalah melindungi masyarakat serta meminimalisir jumlah dampak korban keracunan.

Ia pun menginstruksikan agar seluruh jajaran kesehatan segera bertindak cepat memeriksa titik permasalahan utama guna memastikan sumber pemicu gangguan kesehatan tersebut.

Gubernur Sumbar berharap peristiwa yang mengejutkan warga Kabupaten Agam ini tidak kembali terulang di kawasan mana pun di masa depan.

Insiden di Palupuh ini hendaknya dijadikan sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran berharga bagi seluruh pemerintah daerah dalam mengawasi ketat kualitas penyajian makanan.

Mahyeldi menekankan bahwa hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang akan segera dipublikasikan kepada masyarakat luas setelah seluruh tahapan pengujian rampung.

Ia optimistis penanganan medis yang cepat dapat mencegah kondisi para pasien berubah menjadi krisis kesehatan yang berdampak serius.

Dapur SPPG di Palupuh Diminta Berhenti Beroperasi Sementara

Pemerintahan Kabupaten Agam meminta dapur SPPG di Palupuh berhenti beroperasi sementara waktu, pasca dugaan kasus keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemberhentian beroperasi sementara ini, diminta selama proses investigasi penyebab dugaan keracunan berlangsung.

Baca juga: Investasi Sumbar Tertinggi Berada di Solsel, Geotermal Supreme Energy Jadi Salah Satu Pendorong

Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, mengatakan bahwa saat ini Dinas Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOK) tengah melakukan penyelidikan.

"Untuk sementara, kita meminta agar dapur MBG tidak beroperasi dulu sampai hasil investigasi keluar," ucapnya, Rabu (2/9/2026).

Ia menyebut, hasil investigasi yang dilakukan oleh dua instansi tersebut diperkirakan akan keluar dalam seminggu ke depan.

"Perkiraan hasil keluar dalam satu minggu," tegas Wabup Agam.

Sementara saat ditanya, apakah Pemkab Agam memberlakukan dugaan keracunan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), Iqbal menyebut belum bisa memastikan.

Pasalnya pihak Pemkab Agam, akan memastikan hasil investigasi penyebab dugaan keracunan usai menyantal MBG di Palupuh terlebih dahulu.

"Kita menunggu hasil investigasi dari BPOM dan dinas terkait terlebih dahulu," tambahnya.

Dinkes dan BPOM Investigasi Dugaan Keracunan

Usai ratusan warga di tiga nagari Kecamatan Palupuh, keracunan usai diduga menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), Pemerintahan Kabupaten Agam melakukan investigasi.

Dugaan keracunan tersebut mulai terjadi pada Selasa (1/9/2026) kemarin. Namun pada Rabu (2/9/2026) jumlah korban terus bertambah.

Informasi terakhir korban keracunan du Palupuh, Kabupaten Agam, sudah mencapai sebanyak 334 orang.

Saat ini Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait MBG yang dikonsumsi tersebut.

"Benar adanya terkait dugaan keracunan, kita menduga setelah mengkonsumsi makanan dari dapur MBG yang ada di Palupuh," ucap Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, Rabu (2/9/2026).

Pemeriksaan antara kedua intansi tersebut kata Iqbal, untuk memastikan penyebab keracunan ratusan warga Palupuh.

Baca juga: Kasus Yogi Bergulir di Pengadilan, Mahyeldi Pastikan Internet Mentawai Tetap Jadi Perhatian

"Saat ini antara Dinas Kesehatan dan BPOM sudah kordinasi untuk investigasi memastikan penyebabnya," jelasnya.

Wali Nagari Koto Rantang, Novri Agus Parta Wijaya, mengatakan bahwa MBG tersebut berasal dari satu dapur di Palupuh.

Nama dapur tersebut yakni Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam

"SPPGnya Yayasan Adicitta, hanya satu di Palupuh," tambahnya.

Tiga Nagari Terdampak Keracunan

334 orang warga diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) berasal dari tiga nagari di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

Kejadian ini bermula saat warga di Palupuh dilaporkan mengalami demam, pusing, mual, muntah hingga diare pada Selasa (1/9/2026) kemarin.

Camat Palupuh, Nong Rianto Dt. Maruhun, mengatakan total nagari yang terdampak di kecamatannya mencapai tidak hanya satu, namun tiga.

"Nagari yang terdampak di Palupuh, Nagari Nan Limo, Pasia Laweh, dan Koto Rantang. Totalnya 334 orang," ucapnya, Rabu (2/9/2026).

Senada, Kepala SDN 08 Nan Limo, Jonnedi membenarkan terkait dugaan keracunan di daerahnya berasal dari tiga nagari.

Baca juga: Program Sekolah Sehat Bergerak Berbasis QR Code UNP Tingkatkan Literasi Penanganan Cedera Olahraga

Kata dia, para siswanya juga diduga keracunan pada Selasa (1/9/2026) sekira pukul 10.00 WIB lebih.

Siswanya mengalami gejala demam, pusing, mual, muntah hingga diare dan langsung dilarikan ke Puskesmas Palupuh.

"Anak-anak ini mengonsumsi MBG pada Senin (31/8/2026) lalu dan tidak ada kendala. Namun pada Selasa (1/9/2026) sekira pukul 10.00 WIB lebih, mulai merasakan gejala keracunan, tapi saya tidak bisa memastikan apakah itu akibat mengonsumsi MBG," sebutnya.

Kurang lebih kata dia pada Selasa kemarin, sebanyak 21 siswanya baru merasakan gelaja dugaan keracunan tersebut.

Kemudian jumlahnya bertambah pada hari ini, menjadi 54 siswa. Hingga kini, para siswa masih berobat di Puskesmas.

"Kalau yang dirawat tidak ada, cuma berobat saja ke puskesmas. Kalau kemarin ada 21 siswa, hari ini menjadi 54 orang," tambahnya.

334 Orang Diduga Keracunan MBG

Total warga diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam mencapai 334 orang.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Camat Palupuh, Nong Rianto Dt. Maruhun, jumlahnya pada Rabu (2/9/2026) terus membengkak hingga 334 orang.

Dari 334 orang tersebut, rincian datanya terdiri dari 274 dari siswa SD se Kecamatan Palupuh dan 19 orang guru SD.

"Kemudian 40 siswa dari SMPN 1 Palupuh, dan dua orang guru sekolah tersebut," ucapnya saat dikonfirmasi.

Saat ini, seluruh korban terdampak dilarikan ke Puskesmas Palupuh dan rumah sakit di Bukittinggi.

Akan tetapi di sisi lain, ia belum bisa memastikan ratusan korban keracunan di Palupuh akibat mengonsumsi MBG.

"Kita belum bisa memastikan karena mengonsumsi MBG, tapi 334 orang data yang kita himpun memang keracunan sejak kemarin," pungkasnya.

Gejala yang dialami oleh korban kata Nong Rianto juga beragam, mulai dari pusing, mual, muntah hingga diare.

Saat ini pihaknya sudah mengutus perangkat kecamatan turun ke lapangan untuk mengecek kondisi korban.

"Ada yang mual, muntah, pusing hingga diare, kita sudah utus tim untuk meninjau ke lapangan," tambahnya.

Menu Terakhir Dikonsumsi Siswa dan Warga

Ratusan warga Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam diduga keracunan setelah menyantap menu makanan telur puyuh dan tempe dari program Makan Begizi Gratis (MBG).

Informasi ini disampaikan oleh Wali Nagari Koto Rantang, Novri Agus Parta Wijaya, saat dikonfirmasi TribunPadang.com, Rabu (2/9/2026).

Kata dia, menu makanan program MBG tersebut disantap oleh siswa, ibu menyusui hingga anak bayi.

Baca juga: Tak Tidur Semalaman, Cerita Wali Nagari di Agam Temani Istri dan Anak di Puskesmas Usai Keracunan

"Menu terakhir yang disantap oleh siswa, ibu menyusui dan anak bayi adalah telur puyuh dan tempe. Menunya sama, baik di sekolah atau posyandu," ucapnya.

Setelah menyantap menu tersebut, ratusan orang mulai mengeluhkan pusing, mual, muntah, hingga diare.

Warga hingga siswa langsung dilarikan ke Puskesmas Palupuh hingga rumah sakit di Bukittinggi.

"Mulai terasa keluhan oleh warga sejak kemarin, puncaknya hari ini, bahkan puskesmas kewalahan menampung pasien," tambahnya.

Mengenal Kecamatan Palupuh

Kecamatan Palupuh merupakan salah satu wilayah yang berada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Berada di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 500 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut yang membuat Palupuh memiliki karakter geografis perbukitan.

Kecamatan ini berjarak sekitar 125 kilometer dari Kota Padang. Perjalanan dari Padang menuju Palupuh membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam, tergantung kondisi lalu lintas dan jalur yang dilalui. Secara geografis, Palupuh berada pada 100°18'15" Bujur Timur dan 0°9'57" Lintang Selatan.

Letaknya berada di bagian Kabupaten Agam dan membuat Palupuh berbatasan dengan beberapa wilayah di sekitarnya. Di tengah kawasan perbukitan tersebut, masyarakat Palupuh tersebar di sejumlah nagari dan jorong dengan kondisi wilayah yang cukup beragam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga akhir 2024, Kecamatan Palupuh terdiri dari lima nagari dan 31 jorong. Wilayah ini juga dihuni lebih dari 15 ribu penduduk.

Baca juga: Pemkab Agam Minta Setop Dapur SPPG di Palupuh, Fokus Investigasi Usai Ratusan Orang Keracunan

Akses menuju Kecamatan Palupuh menghabiskan perjalanan darat sejauh 126 kilometer dari pusat ibu kota Provinsi Sumatera Barat, Kota Padang.

Pengendara mobil maupun sepeda motor menghabiskan waktu tempuh normal berkisar antara 3,5 hingga 4 jam melintasi rute Padang, Padang Panjang, hingga Kota Bukittinggi, sebelum bergerak ke arah utara menyusuri Jalan Raya Lintas Sumatera menuju arah Pasaman dan Medan.

Arus lalu lintas di titik rawan kepadatan seperti Koto Baru dan pusat Bukittinggi menentukan durasi perjalanan menuju kawasan dengan ketinggian 500 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut ini.

Berikut gambaran Kecamatan Palupuh

Memiliki 5 Nagari dan 31 Jorong 

Kecamatan Palupuh terdiri dari lima nagari. Kelima nagari tersebut menjadi bagian dari wilayah administratif Kecamatan Palupuh, yaitu:

  • Nagari Koto Rantang 
  • Nagari Nan Limo 
  • Nagari Nan Tujuah 
  • Nagari Pagadih 
  • Nagari Pasia Laweh 

Secara keseluruhan, kelima nagari tersebut terbagi menjadi 31 jorong dengan luas wilayah yang cukup beragam. Berdasarkan data BPS hingga akhir 2024, Nagari Pasia Laweh tercatat sebagai wilayah terluas di Kecamatan Palupuh dengan luas mencapai 74,32 km⊃2;.

Sementara itu, Nagari Pagadih menjadi wilayah dengan luas paling kecil, yakni 34,08 km⊃2;.

Baca juga: Keracunan Makanan di Agam, Gubernur Sumbar Instruksikan Penutupan Sementara Dapur SPPG

Perbedaan juga terlihat dari jumlah jorong di masing-masing nagari. Pasia Laweh memiliki jumlah jorong terbanyak dengan 10 jorong, sedangkan Koto Rantang memiliki jumlah paling sedikit, yaitu empat jorong.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan cakupan wilayah di antara nagari-nagari yang berada di Kecamatan Palupuh.

Dihuni Lebih Dari 15 Ribu Jiwa

Berdasarkan data BPS pada tahun 2024, jumlah penduduk Kecamatan Palupuh mencapai 15.422 jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari 7.842 penduduk laki-laki dan 7.580 penduduk perempuan.

Rasio jenis kelamin di Kecamatan Palupuh tercatat sebesar 103,46. Yang berarti, terdapat sekitar 103 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan.

Sementara itu, kepadatan penduduk Palupuh pada 2024 tercatat sebanyak 236,34 jiwa per kilometer persegi. Penduduk tersebut tersebar di lima nagari dan 31 jorong yang berada dalam wilayah kecamatan.

Berada di Antara Empat Wilayah

Kecamatan Palupuh memiliki batas wilayah yang bersinggungan langsung dengan sejumlah daerah di sekitarnya.

Kondisi geografis ini membuat Palupuh memiliki keterhubungan wilayah dengan daerah lain, baik dalam aktivitas masyarakat maupun akses menuju kawasan di sekitarnya.

Di bagian utara, Kecamatan Palupuh berbatasan dengan Kabupaten Pasaman, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tilatang.

Sementara itu, di sisi timur, Kecamatan Palupuh berbatasan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota. Adapun di bagian barat, wilayah Kecamatan Palupuh berbatasan dengan Kecamatan Palembayan.

Batas-batas wilayah tersebut menjadi gambaran posisi geografis Palupuh dalam wilayah Kabupaten Agam sekaligus menunjukkan letaknya yang berada di antara beberapa kawasan di sekitarnya.

Hanya Memiliki Satu Puskesmas

Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, Kecamatan Palupuh memiliki satu unit puskesmas yang menjadi utama bagi warga dalam memperoleh layanan kesehatan.

Keberadaan puskesmas ini memiliki peran penting, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan, pengobatan maupun pelayanan dasar lainnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, fasilitas kesehatan di Kecamatan Palupuh masih tergolong terbatas.

Di wilayah ini belum terdapat rumah sakit, rumah sakit bersalin, poliklinik atau balai pengobatan, maupun apotek.

Kondisi tersebut membuat puskesmas menjadi salah satu fasilitas yang cukup penting dalam menunjang kebutuhan kesehatan masyarakat di wilayah Kecamatan Palupuh.

Di Kecamatan Palupuh tercatat ada 59 tenaga kesehatan, 4 dokter yang bertugas memberikan pelayanan medis kepada masyarakat.

Selain itu, terdapat 9 perawat , 23 orang bidan, 2 tenaga  farmasi, 3 orang ahli gizi, 18 tenaga kesehatan lainnya.

Memiliki 43 Sarana Pendidikan

Di sektor pendidikan, Kecamatan Palupuh memiliki 43 sarana pendidikan pada 2024. Jumlah tersebut terdiri dari 18 Taman Kanak-kanak (TK), 19 Sekolah Dasar (SD), empat Sekolah Menengah Pertama (SMP), satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan satu Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sementara itu, belum terdapat Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun Madrasah Aliyah (MA) di Kecamatan Palupuh.

Fakta diatas menunjukkan kondisi di wilayah Kecamatan Palupuh dengan segala karakter dan kehidupan masyarakatnya. Palupuh memiliki dinamika tersendiri sebagai bagian dari Kabupaten Agam. Ini menjadi gambaran umum mengenai kehidupan masyarakat dan perkembangan wilayah Kecamatan Palupuh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.