SERAMBINEWS.COM – Dukungan China terhadap Iran mulai menunjukkan batas di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran.
Meski Beijing menentang serangan militer dan sanksi yang diberlakukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran, China dinilai tidak akan memberikan dukungan tanpa batas kepada Teheran.
Para analis menilai China memiliki kepentingan yang jauh lebih luas di Timur Tengah.
Beijing tidak hanya memiliki hubungan ekonomi dan politik dengan Iran, tetapi juga menjalin hubungan penting dengan negara-negara Teluk yang menjadi mitra utama China.
Dikutip Serambinews.com melalui Aljazeera, Kamis (3/9/2026), China selama ini menjadi salah satu mitra penting Iran, terutama dalam bidang energi.
Hubungan perdagangan kedua negara cukup besar, sementara China menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran di tengah tekanan ekonomi dari Washington.
Namun, ketergantungan tersebut dinilai lebih besar berada di pihak Iran.
Baca juga: VIDEO Iran Keluarkan Strategi Rahasia Lawan Militer AS di Kawasan Timur Tengah
Hongda Fan, direktur Pusat China-Timur Tengah di Universitas Shaoxing, mengatakan Beijing kemungkinan hanya akan mendorong penyelesaian konflik secara diplomatik.
Menurutnya, kepentingan global China membuat Beijing tidak memiliki alasan untuk terlibat dalam konfrontasi langsung dengan AS demi membela Iran.
“China, dengan kepentingan global yang lebih luas, hanya dapat secara aktif mendorong de-eskalasi konflik AS-Iran,” kata Fan.
Ia menilai penyelesaian konflik pada akhirnya harus dilakukan oleh Iran dan AS sendiri.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa hubungan China dan Iran tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan hubungan aliansi militer.
China memang memiliki kepentingan strategis di Iran, tetapi Beijing juga harus menjaga hubungan dengan berbagai negara lain.
China dan Iran memiliki hubungan perdagangan yang kuat, terutama dalam sektor energi.
Keduanya juga sama-sama menaruh kecurigaan terhadap dominasi Amerika Serikat dalam politik global.
Namun, hubungan tersebut dinilai tidak seimbang.
Iran jauh lebih bergantung kepada China dibandingkan China bergantung kepada Iran.
Hal itu terlihat dari besarnya peran China sebagai pembeli minyak Iran.
China bahkan disebut menyerap hingga 90 persen ekspor minyak Iran sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Teheran pada akhir Februari.
Meski demikian, minyak Iran hanya menyumbang sekitar 2 persen dari keseluruhan kebutuhan energi China.
Artinya, apabila pasokan dari Iran terganggu, Beijing masih memiliki banyak pilihan lain untuk mendapatkan minyak.
Pembelian minyak Iran menjadi jalur ekonomi penting bagi Teheran.
Namun, perusahaan-perusahaan China juga menghadapi risiko terkena sanksi Amerika Serikat.
Perusahaan energi milik negara China seperti Sinopec dan PetroChina selama bertahun-tahun cenderung menghindari pembelian minyak Iran secara langsung.
Perdagangan minyak Iran lebih banyak dilakukan oleh perusahaan penyulingan independen berskala kecil yang memiliki hubungan terbatas dengan sistem keuangan global berbasis dolar AS.
Pemerintahan Trump telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan kecil tersebut serta beberapa perusahaan dan individu yang berbasis di China dan Hong Kong.
Namun, hingga kini bank-bank besar China yang dituduh membantu pembelian minyak Iran belum menjadi sasaran utama.
Washington sebelumnya juga mengisyaratkan kemungkinan memperluas sanksi terhadap sistem keuangan China.
Langkah tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap Beijing sekaligus memperbesar risiko konflik ekonomi antara dua negara dengan perekonomian terbesar dunia.
China tidak hanya memiliki hubungan dengan Iran.
Beijing juga memiliki hubungan ekonomi dan energi yang sangat penting dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Kondisi tersebut membuat China harus berhati-hati agar dukungannya terhadap Iran tidak merusak hubungan dengan negara-negara Teluk.
Mordechai Chaziza, pakar kebijakan China di Timur Tengah, mengatakan Iran memang memiliki nilai strategis bagi Beijing.
Namun, China masih memiliki banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan energinya.
China dapat memperoleh minyak dari Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, dan negara pemasok lainnya.
Stabilitas kawasan Teluk juga sangat penting bagi Beijing karena China mendapatkan sekitar setengah dari impor minyak mentahnya dari kawasan Timur Tengah.
Karena itu, China dinilai tidak ingin konflik Iran-AS berkembang menjadi situasi yang memaksanya memilih salah satu pihak.
Dukungan ekonomi China terhadap Iran juga menghadapi tantangan akibat blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Menurut data perusahaan pelacak kapal Kpler, ekspor minyak mentah Iran melalui Selat Hormuz yang sebagian besar ditujukan ke China mengalami penurunan tajam.
Volume ekspor tersebut diperkirakan turun dari sekitar 1,85 juta barel per hari pada Maret-April menjadi sekitar 240.000 barel per hari pada Agustus.
Namun, masih terdapat jutaan barel minyak Iran yang telah dikirim sebelumnya dan kini berada di laut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Senin bahwa sekitar 30 juta barel minyak Iran masih berada di laut.
Namun, perkiraan tersebut berbeda dengan data Kpler pada bulan sebelumnya yang memperkirakan sekitar 80 juta barel minyak Iran masih berada di perairan.
Perbedaan data tersebut menunjukkan bahwa jumlah minyak Iran yang masih berada di laut dan potensi pendapatan yang dapat diperoleh Teheran masih menjadi persoalan yang diperdebatkan.
Andrea Ghiselli dari ChinaMed Project menilai hubungan China dan Iran selama ini juga memiliki kesenjangan antara pernyataan politik dan kenyataan di lapangan.
Pada 2021, China dan Iran menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif selama 25 tahun.
China saat itu menjanjikan investasi hingga 400 miliar dolar AS di Iran.
Namun, hanya sebagian kecil dari rencana tersebut yang benar-benar terealisasi.
Pada 2023, Wakil Menteri Perekonomian Iran saat itu, Ali Fekri, bahkan mengaku tidak puas dengan tingkat investasi China.
Investasi yang disebut telah terealisasi saat itu hanya sekitar 185 juta dolar AS.
Para analis mengatakan perusahaan China masih mempertimbangkan risiko sanksi AS, birokrasi Iran, serta kondisi sistem perbankan domestik Iran.
Kerri Bitsoff, mantan pejabat senior Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri Departemen Keuangan AS, bahkan menggambarkan hubungan China dan Iran lebih sebagai hubungan antara pelanggan dan pemasok daripada sebuah aliansi.
Menurutnya, China memperoleh keuntungan dari minyak murah Iran sekaligus melihat konflik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor yang dapat menyibukkan AS.
Namun, dukungan tersebut diperkirakan akan berhenti jika konflik mulai mengancam kepentingan China yang lebih besar.
Dengan demikian, China kemungkinan tetap akan menentang sanksi sepihak AS dan mempertahankan kepentingan ekonominya di Iran.
Namun, Beijing juga tidak diperkirakan memberikan jaminan penuh untuk menyelamatkan perekonomian Iran.
Bagi China, Iran tetap penting secara ekonomi dan geopolitik, tetapi menjaga hubungan dengan AS serta negara-negara Teluk membuat Beijing harus mengambil posisi yang jauh lebih berhati-hati. (Serambinews.com/ Sri Anggun Oktaviana)