Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) memperbarui penanganan kasus sejumlah tenaga kesehatan (nakes) yang diduga menghina pasien BPJS Kesehatan di media sosial. KKI menyatakan tidak menemukan pelanggaran disiplin profesi, tetapi terdapat pelanggaran etik.
Ketua KKI Arianti Anaya mengatakan kasus tersebut telah diproses. Penanganan selanjutnya dilakukan oleh masing-masing organisasi profesi.
"Oh, oke. Itu sudah diproses. Memang di situ tidak ada pelanggaran disiplin profesi, tetapi ada pelanggaran etik," kata Arianti saat dikonfirmasi di Gedung Kemenkes RI, Kamis (3/9/2026).
Menurut Arianti, para nakes tersebut saat ini menjalani pembinaan dari organisasi profesinya masing-masing. Fasilitas pelayanan kesehatan tempat mereka bekerja juga telah melakukan pembinaan.
"Ini yang sekarang sedang dilakukan pembinaan oleh organisasi profesinya masing-masing. Tentunya apresiasi juga kepada institusi fasilitas pelayanan kesehatan di mana mereka bekerja, itu juga sudah dilakukan pembinaan," ujarnya.
Arianti menyebut jumlah nakes yang ditindaklanjuti berada di kisaran 8-10 orang.
Bentuk pembinaan dari organisasi profesi antara lain memanggil para nakes yang bersangkutan. Keanggotaan mereka di organisasi profesi juga dapat terpengaruh apabila pelanggaran dinilai memenuhi ketentuan untuk pemberian sanksi.
"Mereka dipanggil untuk pembinaan, kemudian diminta untuk, ya artinya kalau memang mereka seperti itu, keanggotaan mereka kan juga bisa dicabut. Dan tentunya fasilitas-fasilitas mereka sebagai anggota tentu akan kehilangan," jelas Arianti.
Arianti mengatakan para nakes tersebut telah menyadari kesalahannya dan menyampaikan penyesalan atas tindakan yang dilakukan.
"Mereka memahami kok, mereka menyadari. Mengakui, ada penyesalan. Iya, sudah sangat menyesal mereka," katanya.
Dia berharap kasus tersebut menjadi pembelajaran bagi tenaga kesehatan lainnya. Arianti memahami beban kerja nakes yang berat, namun meminta mereka tidak melampiaskan kelelahan maupun kekesalan melalui media sosial.
"Kita juga menyesali, tapi mudah-mudahan ini pembelajaran dan saya berharap ini pembelajaran untuk para nakes dan nakes yang lain," ujarnya.
"Kami tahu mereka sangat capek, bebannya banyak, tapi pada saat lelah atau apa, jangan menggunakan media untuk melakukan atau mencurahkan kekesalan atau kelelahan," sambung Arianti.





