TRIBUNFLORES.COM, BORONG – Stabilisasi emosi tidak selalu harus dimulai dari hal-hal besar. Kehadiran relawan Universitas Katolik Indonesia (Unika) St. Paulus Ruteng di Desa Bangka Kuleng menjadi bagian dari upaya membangun kembali semangat anak-anak dan remaja setelah terdampak bencana gempa.
Pada pukul 12.00 WITA, sebelum kegiatan inti dimulai, para relawan yang merupakan kolaborasi Duta Bahasa NTT, Putra Putri Budaya, Holy Impact Ministry (HIM), Synergoi Paulus, dan tim peternakan mengunjungi rumah-rumah warga.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk membagikan vitamin bagi hewan peliharaan maupun ternak sekaligus menyalurkan bingkisan sembako kepada keluarga yang terdampak bencana.
Sebelum kegiatan inti, para relawan menyambangi rumah-rumah warga Desa Bangka Kuleng. Kegiatan tersebut dilakukan dalam dua bentuk, yakni pemeriksaan dan pemberian vitamin bagi hewan milik masyarakat oleh tim peternakan serta penyaluran bingkisan sembako kepada keluarga terdampak bencana.
Kehadiran tim peternakan menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan tersebut. Bagi masyarakat, hewan ternak maupun hewan peliharaan bukan sekadar bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga berkaitan erat dengan sumber penghidupan keluarga.
Di tengah kondisi pascabencana yang turut mengganggu aktivitas pertanian, keberadaan ternak menjadi salah satu tumpuan masyarakat untuk kembali bangkit.
Kepala Desa Bangka Kuleng, Marselinus Mohon, S.Pd., mengatakan bencana tidak hanya berdampak pada harta benda masyarakat, tetapi juga memengaruhi sumber pemasukan warga.
“Bencana ini selain menghilangkan harta benda juga memengaruhi sumber pemasukan warga dari bertani. Karena itu harapan kami saat ini pada hewan peliharaan atau ternak kami. Jika ternak juga mati pascagempa ini, maka matilah juga harapan kami,” ujar Marselinus.
Karena itu, perhatian terhadap kondisi hewan menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap pemulihan kehidupan masyarakat secara lebih menyeluruh.
Selain memberikan vitamin hewan, relawan juga mendatangi rumah-rumah keluarga terdampak untuk menyerahkan bingkisan sembako. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya meringankan kebutuhan masyarakat selama masa pemulihan.
Setelah rangkaian kunjungan ke rumah warga selesai, perhatian kemudian diarahkan kepada anak-anak dan remaja.
Tepat pukul 15.00 WITA, kegiatan PULIH: Pelukan untuk Lanjutkan Impian Hidup dimulai di Desa Bangka Kuleng.
Kegiatan tersebut dirancang dalam lima sesi yang mengajak anak-anak bernyanyi, bermain, belajar, berbagi cerita, dan berdoa.
Rangkaian kegiatan tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk memahami bencana, belajar menjaga keselamatan diri, serta menyampaikan pengalaman yang mereka rasakan setelah gempa.
Sesi pertama, “Kita Bernyanyi, Kita Bersyukur”, menjadi pembuka kegiatan dengan suasana ceria melalui lagu dan permainan. Anak-anak diajak berinteraksi bersama teman-teman sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas keselamatan yang diberikan Tuhan setelah bencana gempa.
Selanjutnya, anak-anak diajak mengenal bencana melalui sesi “Mengapa Bumi Berguncang?”. Materi disampaikan dengan pendekatan sederhana, menyenangkan, dan interaktif agar anak-anak dapat memahami fenomena gempa tanpa suasana pembelajaran yang kaku.
Sesi ini juga memberikan pemahaman ilmiah sederhana tentang gempa bumi agar anak-anak memiliki pengetahuan yang tepat mengenai bencana yang mereka alami.
Pemahaman tersebut kemudian dilanjutkan melalui sesi “Siap di Tengah Guncangan”. Pada sesi ini, anak-anak mendapatkan edukasi mengenai langkah-langkah keselamatan yang dapat dilakukan ketika terjadi gempa atau guncangan.
Mereka diajak memahami apa yang harus dilakukan untuk menjaga keselamatan diri, termasuk ketika menghadapi gempa susulan setelah gempa utama.
Suasana kemudian beralih pada sesi “Aku Bercerita”. Anak-anak diberikan ruang untuk menyampaikan cerita, pengalaman, maupun kekhawatiran yang mereka rasakan selama menghadapi gempa dan gempa susulan.
Sesi ini menjadi bagian penting karena anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai penerima materi, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki pengalaman dan cerita untuk didengarkan.
Sesi kelima, “Healing Prayer”, mengajak anak-anak mengambil waktu untuk hening dan berdoa dengan iringan lagu meditasi. Sesi ini menjadi ruang refleksi dan penguatan spiritual sekaligus mempererat hubungan transendental peserta dengan Tuhan.
Di sela-sela kegiatan, tim relawan juga memberikan kuis interaktif berhadiah kepada anak-anak mengenai materi gempa. Pada penghujung kegiatan, para relawan membagikan bingkisan berupa alat tulis, buku, dan makanan ringan kepada sekitar 110 anak yang terlibat.
Kelima sesi kegiatan PULIH diawali dan diakhiri dengan doa dan berkat melalui tumpangan tangan Pater Calvin Flores Pala, SVD, yang turut mendampingi para relawan selama kegiatan berlangsung.
Rangkaian kegiatan tersebut mendapat respons positif dari anak-anak yang mengikuti kegiatan.
Auldry Feltryn Drego (10), salah seorang peserta, mengungkapkan kegembiraannya setelah mengikuti kegiatan bersama para relawan.
“Terima kasih kaka-kaka Unika. Saya merasa terhibur, gembira, dan senang lagi hari ini karena kegiatan-kegiatan yang kaka berikan sangat menarik,” ujar Feltryn.
Keceriaan anak-anak juga menjadi perhatian Pemerintah Desa Bangka Kuleng.
Kepala Desa Marselinus Mohon, S.Pd., mengapresiasi kreativitas para relawan dalam menyusun rangkaian kegiatan yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk kembali bermain, belajar, dan berinteraksi setelah mengalami situasi sulit akibat gempa.
“Kegiatan yang dilakukan hari ini sangat memuaskan, karena trauma yang dialami anak-anak pascagempa sedikit teratasi dengan kegiatan yang sudah dilakukan hari ini. Saya mewakili masyarakat desa memberikan apresiasi kepada para relawan,” katanya.
Menurut Marselinus, banyaknya rangkaian kegiatan membuat anak-anak dapat menikmati waktu bersama sekaligus memperoleh pengalaman baru.
“Banyak sekali item kegiatan hari ini, dan anak-anak juga menikmati itu semua. Rasa trauma yang selama ini mereka alami sedikit demi sedikit terobati,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada Pater Calvin Flores Pala, SVD, yang memberikan penguatan rohani kepada anak-anak melalui doa dan berkat.
“Selamat juga buat Pater yang memberikan siraman rohaninya buat anak-anak kami di Desa Bangka Kuleng. Harapannya semoga ada jadwal lagi berkunjung ke desa kami untuk melakukan hal yang sama,” katanya.
Harapan tersebut menjadi penutup dari tanggapan Pemerintah Desa Bangka Kuleng yang menginginkan agar pendampingan terhadap masyarakat, khususnya anak-anak, dapat terus dilakukan.
Kegiatan PULIH juga mendapat apresiasi dari RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. Teol., Rektor Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng.
Apresiasi tersebut diberikan atas inisiatif dan kepedulian mahasiswa serta para relawan yang hadir mendampingi masyarakat pascabencana gempa.
Menurut Rm. Manfred, kehadiran mahasiswa menunjukkan bahwa kepedulian sosial tidak hanya diwujudkan melalui bantuan terhadap kebutuhan fisik masyarakat, tetapi juga melalui perhatian terhadap kondisi emosional, pengalaman sulit, dan harapan anak-anak serta remaja yang terdampak bencana.
“Saya sangat mengapresiasi kepedulian dan kepekaan sosial teman-teman mahasiswa. Di tengah situasi pascabencana, mahasiswa tidak hanya hadir untuk membantu kebutuhan fisik masyarakat, tetapi juga berani menyentuh luka batin, trauma, dan harapan anak-anak serta remaja yang mengalami langsung tragedi gempa,” ujarnya.
Bagi Rm. Manfred, keterlibatan mahasiswa dalam situasi tersebut merupakan bagian dari makna pendidikan yang lebih luas. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung ketika mahasiswa berhadapan dengan persoalan nyata yang dialami masyarakat.
Melalui kegiatan PULIH, mahasiswa belajar menghadirkan kepedulian, empati, solidaritas, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam proses pemulihan masyarakat.
“Inilah bentuk nyata pendidikan yang manusiawi dan kampus yang transformatif, kolaboratif, dan berdampak,” lanjutnya.
Rm. Manfred juga mengapresiasi kolaborasi yang dibangun oleh Duta Bahasa NTT, Putra Putri Budaya, Synergoi, HIM, tim peternakan, serta seluruh relawan yang terlibat.
Menurutnya, bentuk kepedulian yang diberikan tidak hanya menyasar anak-anak dan remaja, tetapi juga kehidupan masyarakat secara lebih utuh.
Pemberian vitamin untuk ternak dan bantuan lainnya menjadi bagian dari perhatian terhadap kebutuhan warga terdampak bencana.
Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan membutuhkan kerja bersama. Bantuan material penting untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara pendampingan dan ruang kebersamaan dibutuhkan agar masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, tidak merasa menghadapi masa sulit seorang diri.
Kepada para mahasiswa yang terlibat, Rm. Manfred berpesan agar pengalaman di Desa Bangka Kuleng tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan kerelawanan. Ia mendorong mahasiswa menjadikan pengalaman tersebut sebagai proses pembelajaran yang membentuk kepekaan dan tanggung jawab sosial.
“Teruslah hadir bukan hanya sebagai relawan yang datang dan pergi, tetapi sebagai sahabat yang menemani masyarakat untuk bangkit kembali. Jadikan pengalaman ini sebagai pembelajaran tentang solidaritas, empati, keberanian, dan pengabdian,” pesannya.
Secara khusus, Rm. Manfred menitipkan anak-anak dan remaja Desa Bangka Kuleng kepada para mahasiswa dan relawan. Ia berharap melalui kegiatan PULIH, anak-anak dapat perlahan berdamai dengan pengalaman yang mereka lalui, kembali tersenyum, berani bermimpi, dan percaya bahwa masa depan mereka masih panjang.
“Semoga melalui PULIH, mereka perlahan mampu berdamai dengan pengalaman traumatis, kembali tersenyum, berani bermimpi, dan percaya bahwa masa depan mereka masih sangat panjang dan penuh harapan,” ujarnya.
Pesan tersebut kemudian dipertegas Rm. Manfred melalui harapan agar pengalaman bencana tidak menjadi akhir dari perjalanan anak-anak Bangka Kuleng.
Dengan dukungan keluarga, masyarakat, relawan, dan lembaga pendidikan, anak-anak diharapkan tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan mengejar cita-cita.
“Anak-anak Bangka Kuleng tidak boleh mewarisi trauma sebagai akhir cerita. Mereka harus mewarisi harapan, keberanian, pendidikan, dan impian untuk masa depan,” tegasnya.
Harapan itu menjadi inti dari kehadiran Unika St. Paulus Ruteng dan para relawan di Desa Bangka Kuleng.
PULIH tidak hanya menjadi ruang untuk bermain, belajar, berbagi cerita, dan berdoa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa proses pemulihan dapat dimulai dari sebuah kehadiran.
Dari rumah-rumah warga hingga ruang kebersamaan anak-anak, bantuan dan pendampingan itu membawa satu pesan: mereka tidak sendirian.
Di balik gempa yang mengguncang, masih ada harapan yang harus dijaga, keberanian yang harus ditumbuhkan, serta impian yang harus dilanjutkan.
Penulis: Christian Arje Antas, Terbaik 5 Duta Bahasa NTT 2026 & Ketua Synergoi Paulus Periode 2025–2026.