Berpotensi Jadi Sentra Kakao Berkualitas, Aceh Tenggara Harus Miliki Indikasi Geografis
Mawaddatul Husna September 03, 2026 08:54 PM

Laporan Wartawan TribunGayo.com Asnawi Luwi | Aceh Tenggara

TRIBUNGAYO.COM, KUTACANE - Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh terbukti memiliki potensi besar sebagai produsen komoditas kakao berkualitas.

Wilayah ini dinilai sangat berpeluang berkembang menjadi sentra kakao unggulan yang dapat menembus pasar internasional, terutama jika mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis (IG).

"Sebenarnya, Aceh Tenggara memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang menjadi salah satu sentra kakao berkualitas.

Bahkan membuka peluang pasar yang lebih luas hingga internasional.

Apalagi jika ke depannya Kakao Aceh Tenggara memiliki Indikasi Geografis," ujar Pelaku Usaha Exsportir Kakao dari PT Sanghyang Ayu di Desa Lawe Dua Gabungan Kecamatan Bukit Tusam, Aceh Tenggara, Linda Yanti kepada TribunGayo.com, Kamis (3/9/2026).

Menurut Linda, pentingnya IG bukan hanya soal label, tetapi menjadi identitas dan kekayaan intelektual daerah yang dapat memberikan perlindungan serta nilai tambah ekonomi bagi produk dan masyarakat Aceh Tenggara.

"Semoga semakin banyak pihak melihat potensi kakao di Aceh Tenggara ini, bukan hanya dari harga kakao setiap harinya.

Akan tetapi dari aset dan warisan yang bisa kita bangun untuk generasi Aceh Tenggara kedepannya," ujarnya.

"Jangan terlalu cepat mengatakan kakao Aceh Tenggara adalah yang terbaik atau masuk peringkat dunia/Indonesia kalau kita sendiri belum memiliki Indikasi Geografis atau IG.

Karena IG bukan sekadar label, tetapi merupakan salah satu bentuk kekayaan intelektual suatu daerah yang melindungi identitas, reputasi, karakteristik, dan asal produk.

Kalau suatu hari IG kakao Aceh Tenggara berhasil dimiliki, itu bisa menjadi nilai tambah ekonomi dan aset intelektual daerah yang manfaatnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jadi, menurut saya, membangun dan memperjuangkan IG jauh lebih penting daripada sekadar membuat klaim tentang peringkat atau kualitas.

Kita harus punya identitas yang diakui dan dilindungi terlebih dahulu," katanya.

Harga Kakao Fermentasi Turun Rp 2.000/Kilogram

Sementara itu, Linda Yanti menjelaskan berdasarkan harga kakao dunia saat ini di US$6.435/ton, dengan asumsi premium 30 persen, harga acuannya menjadi sekitar US$8.365,50/ton atau US$8,37/kilogram.

Dengan kurs USD/IDR saat ini, benchmark tersebut berada di kisaran Rp 148.000/kilogram.

Untuk kakao fermentasi, pihaknya membagi harga berdasarkan grade dengan selisih Rp 10.000/kilogram:

  • Grade B: Rp148.000/kilogram
  • Grade A: Rp158.000/kilogram
  • Grade AA: Rp168.000/kilogram.

"Turun harga Rp 2.000 per kilogram dari basic indikator terlihat," katanya. (*)

Baca juga: Siswa SD IT Madani Aceh Tenggara Sabet Medali Emas OSN 2026 Tingkat Nasional

Baca juga: Harga Kakao Kering dan Pinang Muda di Aceh Tenggara Stabil Hari Ini 1 September 2026

Baca juga: Nasir Djamil Minta Kapolres Tuntaskan Kasus Pencemaran Nama Baik Wartawan di Aceh Tenggara

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.