Dosen Umuslim Paparkan soal Banjir, Bertahan Bukan Berarti Menerima Risiko
Mursal Ismail September 03, 2026 09:03 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris I Bireuen 

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Dosen Fakultas Teknik Universitas Almuslim, Dr. Ir. Cut Azizah, S.T., M.T., Rabu (2/9/2029) mengupas hasil riset soal bencana banjir.

Pertemuan berlangsung dalam Guest Lecture Series Program Studi Arsitektur Lanskap, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Cut Azizah dalam kuliah tamu mengusung tema “Bertahan atau Pindah?

Pembelajaran dari Lanskap Rawan Banjir Bandang di Aceh” yang berlangsung secara hybrid di Studio Lantai 3, Labtek IXB SAPPK ITB dan melalui Zoom.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 70 peserta, baik secara langsung maupun daring.

Dalam paparannya, Cut Azizah membawa sejumlah pembelajaran dari hasil riset dan kegiatan lapangan di wilayah rawan banjir bandang di Aceh, terutama di DAS Tamiang dan Damaran Baru, Bener Meriah.

Baca juga: Fakultas Teknik Umuslim–SAPPK ITB Resmi Berkolaborasi, Banjir Bandang Aceh Jadi Topik Guest Lecture

Materi tidak hanya membahas banjir bandang dari perspektif hidrologi, tetapi juga menghubungkannya dengan lanskap, permukiman, bangunan, serta respons masyarakat.

Salah satu persoalan yang diangkat adalah pilihan masyarakat untuk tetap bertahan meskipun mengetahui wilayah tempat tinggalnya memiliki risiko banjir bandang.

Dipaparkan, pengalaman di Pengidam, DAS Tamiang, menunjukkan bahwa keputusan untuk bertahan berkaitan dengan rumah, kebun, pekerjaan, keluarga, kekerabatan, serta keterikatan masyarakat terhadap tempat tinggalnya.

“Bertahan bukan berarti menerima risiko. Ketika masyarakat memilih tetap tinggal, maka lanskap, permukiman, koridor sungai, dan bangunannya harus mampu beradaptasi,” ujar Cut Azizah.

Ia menjelaskan bahwa mitigasi banjir bandang tidak cukup dilakukan melalui satu tindakan.

Pendekatan perlu menghubungkan proses pada skala DAS dengan penataan koridor sungai, adaptasi permukiman, jalur evakuasi, dan hunian yang lebih sesuai dengan karakter ancaman setempat.

Baca juga: Umuslim Teken Kerja Sama dengan Poltekkes Kemenkes Aceh, Perkuat Fakultas Kedokteran

Pengalaman dari Damaran Baru, Bener Meriah, katanya, memperlihatkan pentingnya aspek sosial dalam mitigasi.

Pengetahuan lokal, kelembagaan masyarakat, kemampuan membaca tanda alam, serta tindakan bersama menjadi bagian dari upaya masyarakat menghadapi risiko banjir bandang.

Menurut Cut Azizah, pengetahuan masyarakat perlu ditempatkan bersama pengetahuan ilmiah dan perencanaan ruang.

Karena itu, pembelajaran dari Aceh dalam kuliah tersebut dirangkum melalui empat pendekatan, yaitu membaca wilayah, membaca ruang, mendengarkan masyarakat, dan merancang bersama.

Ia menegaskan bahwa pengalaman dari Aceh tidak dimaksudkan sebagai model yang dapat diterapkan sama persis di semua wilayah.

Setiap kawasan rawan banjir bandang memiliki karakter fisik, spasial, dan sosial yang berbeda sehingga strategi adaptasi dan mitigasinya juga harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

Baca juga: Umuslim Komitmen Wujudkan Kampus Inklusif dan Ramah Disabilitas

Kegiatan Guest Lecture Series ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara Fakultas Teknik Universitas Almuslim dan SAPPK ITB dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pertukaran pengetahuan.

Melalui kuliah tamu tersebut, hasil riset dan pengalaman lapangan dari Aceh diharapkan dapat memperkaya diskusi akademik mengenai bagaimana perencanaan lanskap dapat berkontribusi dalam membangun kehidupan yang lebih adaptif di wilayah rawan banjir bandang. (*)

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.