Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno mengatakan nilai-nilai Pancasila perlu menjadi panduan dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma digital yang dapat memengaruhi opini publik.

Romy dalam webinar teknologi informasi dan komunikasi bertajuk "Penguatan Ideologi Pancasila" yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis, mengatakan Indonesia menghadapi tantangan mulai dari fragmentasi sosial, intoleransi, hingga polarisasi masyarakat yang diperparah perkembangan teknologi.

"Pancasila bukan sekadar rumusan yang diletakkan dalam dokumen negara. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa, arah moral bangsa, sebagai kekuatan pemersatu masyarakat Indonesia yang sangat majemuk," kata Romy.

Menurut dia, nilai-nilai Pancasila harus hadir secara nyata di ruang digital, terlebih algoritma dan kecerdasan buatan semakin berperan dalam memengaruhi opini masyarakat.

Ia menjelaskan nilai ketuhanan di ruang digital dapat diwujudkan melalui toleransi beragama, sedangkan nilai kemanusiaan antara lain dengan tidak melakukan perundungan siber dan tidak menggunakan teknologi untuk merusak martabat manusia.

Nilai persatuan, lanjut dia, berarti tidak menyebarkan kebencian dan disinformasi yang memecah masyarakat. Sementara nilai demokrasi diwujudkan melalui dialog yang sehat, bukan sekadar mengejar popularitas di ruang digital.

Adapun nilai keadilan sosial, menurut Romy, berarti digitalisasi tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu.

"Jangan sampai digital divide menjadi bentuk baru ketimpangan sosial. Dalam Artificial Intelligence, kita pun membutuhkan orientasi etik," katanya.

Oleh karena itu, Romy mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem digital yang berkepribadian Indonesia.

Salah satu gagasan yang diusulkannya adalah pengembangan "AI Merah Putih" sebagai upaya memperkuat kedaulatan teknologi.

"Teknologi menjawab 'bagaimana' (how), tapi Pancasila harus menjawab 'mengapa' (why) dan 'untuk siapa' (for whom). Kita harus mempunyai kemampuan menjaga data dan kedaulatan informasi kita," katanya.

Selain itu, Romy menyarankan pendidikan Pancasila bagi Generasi Z dan Alpha tidak lagi menggunakan metode indoktrinasi yang kaku, tetapi bergerak menuju pendekatan partisipatif dan berbasis pengalaman nyata.

"Saya menyarankan dari hafalan menjadi pengalaman, dari 'knowledge' (pengetahuan) jadi 'behavior' (perilaku), dari slogan menjadi 'living values' (nilai hidup)," katanya.