TRIBUNMATARAMAN.COM, SURABAYA - Penurunan skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia mendorong berbagai institusi pendidikan untuk mencari strategi baru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Merespons tantangan tersebut, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menginisiasi program percontohan Gerakan Akselerasi Strategis untuk Peningkatan dan Optimalisasi Literasi (GASPOL) bagi guru Labschool UNESA.
Program pendampingan tersebut dirancang untuk memperkuat kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran literasi, numerasi, dan sains di ruang kelas.
Rangkaian GASPOL dilaksanakan dalam dua tahap.
Tahap pertama, yakni GASPOL Sains, telah dilaksanakan pada 8-9 Agustus 2026.
Baca juga: Pasar Rakyat Agustus 2026, Pemkab Trenggalek Raup Rp 9,1 Juta dari Sewa 27 Lahan Parkir
Selanjutnya, program GASPOL Membaca dan Numerasi digelar secara luring pada 28-29 Agustus 2026.
Direktur Sekolah Pascasarjana UNESA, Prof. Dr. Bambang Yulianto, membuka kegiatan bersama Direktur Labschool UNESA Prof. Dr. Sujarwanto.
Dalam pembukaan kegiatan, Bambang menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menyelesaikan persoalan pendidikan, termasuk persoalan literasi di tingkat dasar dan menengah.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan kajian dan teori, tetapi juga perlu turun langsung mendampingi para pendidik.
Sementara itu, Direktur Labschool UNESA Prof. Dr. Sujarwanto menekankan pentingnya posisi guru sebagai ujung tombak pendidikan.
Guru, menurutnya, bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir dan karakter peserta didik.
Guru disebut sebagai arsitek peradaban karena melalui tangan para pendidik, nalar dan nurani siswa dibentuk untuk menghadapi tantangan masa depan.
GASPOL Tak Sekadar Berikan Teori
Berbeda dengan pelatihan guru pada umumnya, program GASPOL tidak hanya berisi teori.
Pelatihan menghadirkan sejumlah dosen ahli dari program studi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika UNESA.
Salah satu fokus utama pelatihan adalah memperkenalkan sintaks olah nalar kepada para guru.
Sintaks tersebut terdiri dari tahapan amati, tanya, duga, bukti, simpulan, dan terapkan.
Melalui tahapan tersebut, guru didorong untuk membangun proses pembelajaran yang membuat siswa aktif mengamati persoalan, mengajukan pertanyaan, menyusun dugaan, mencari bukti, menarik kesimpulan, kemudian menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Guru Didorong Tinggalkan Hafalan dalam Pembelajaran Numerasi
Dalam sesi numerasi, para guru didorong meninggalkan pembelajaran yang hanya mengandalkan hafalan maupun hitungan abstrak.
Numerasi dikembangkan sebagai proses pembelajaran yang lebih komprehensif dengan melibatkan olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga.
Pakar Numerasi UNESA, Dr. Endah Budi Rahaju, mengatakan pendekatan tersebut diharapkan membuat matematika lebih dekat dengan kehidupan siswa.
"Melalui pendekatan ini, soal matematika tidak lagi berjarak dengan siswa karena dikontekstualisasikan dengan realita sehari-hari,'' ucapnya Jumat (4/9/2026).
Materi pembelajaran kemudian dapat dikaitkan dengan berbagai persoalan yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, siswa diajak menghitung diskon harga sepatu, membandingkan tren kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga menganalisis catatan waktu pelari nasional Lalu Muhammad Zohri di lintasan lari.
Dengan pendekatan tersebut, matematika tidak lagi sekadar angka dan rumus di buku pelajaran.
Pembelajaran numerasi diharapkan menjadi lebih kontekstual, hidup, serta relevan dengan pengalaman siswa.
Agar materi yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman teori, rangkaian pelatihan dilanjutkan dengan praktik.
Pelatihan pada Jumat dilanjutkan pada Sabtu dengan kegiatan peer-teaching.
Melalui metode tersebut, para guru berkesempatan mempraktikkan langsung strategi pembelajaran yang telah dipelajari selama program GASPOL.
Praktik tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan metode yang diberikan dapat diterapkan ketika guru kembali mengajar di kelas.
Program GASPOL diharapkan menjadi bekal baru bagi para guru Labschool UNESA.
Para pendidik diharapkan tidak hanya membawa metode pembelajaran yang lebih relevan, tetapi juga memiliki komitmen untuk memastikan setiap siswa mendapatkan hak atas pembelajaran literasi dan numerasi yang mumpuni.
Dengan demikian, upaya meningkatkan kualitas literasi dan numerasi tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran di sekolah.
(Mochammad Reval Ardhi Yudi Prayogo/Mahasiswa Pendidikan Matematika Unesa)