SURYA.co.id, SURABAYA – Belajar berjualan tak lagi cukup dengan mengandalkan kreativitas produk dan kemampuan menawarkan dagangan.
Sebanyak 125 kelompok mahasiswa baru Universitas Ciputra (UC) Surabaya mendapat pengalaman mengelola bisnis dengan memanfaatkan teknologi melalui Selling Day dalam rangkaian OWeek 2026.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa ditantang mengembangkan produk, memasarkannya, sekaligus mengelola transaksi secara digital.
Sistem point of sales (POS) dari Kasir Pintar digunakan untuk mendukung seluruh transaksi yang berlangsung secara cashless.
Dosen pendamping OWeek 2026, Louisa Christina Hartanto, mengatakan penerapan teknologi tersebut sengaja dilakukan agar mahasiswa baru memperoleh gambaran pengelolaan bisnis yang lebih dekat dengan praktik di dunia usaha.
Baca juga: Gen Z Hadapi Dunia Kerja, Universitas Ciputra Kenalkan Industri Sejak Pekan Pertama
"Penggunaan teknologi ini membuat mahasiswa baru berhadapan langsung dengan sistem yang lazim digunakan dalam pengelolaan bisnis, mulai dari pencatatan transaksi hingga pemantauan stok," ujar Louisa, Jumat (4/9/2026).
Sebanyak 125 tenant menghadirkan produk unggulan dari masing-masing kelompok. Pilihan produk cukup beragam, mulai makanan berat, camilan hingga minuman.
Kreativitas mahasiswa juga tampak dalam eksplorasi rasa. Sejumlah produk memadukan berbagai rempah seperti ketumbar, daun jeruk, serai, lengkuas, kunyit, jahe hingga kencur ke dalam sajian fusion.
Namun, Selling Day tidak semata-mata menjadi ajang untuk menguji kemampuan mahasiswa menciptakan produk yang menarik konsumen.
Mahasiswa juga diperkenalkan pada berbagai aspek operasional yang menjadi bagian penting dalam menjalankan bisnis, termasuk pencatatan transaksi, pengelolaan stok dan pemantauan penjualan.
Louisa mengatakan, penggunaan POS menjadi bagian dari upaya mengenalkan mahasiswa pada pola pengelolaan bisnis yang lebih terukur sejak awal masa perkuliahan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana membuat produk dan menjualnya, tetapi juga memahami bagaimana sebuah bisnis dikelola. POS system seperti yang digunakan oleh merchant besar maupun bisnis yang memiliki banyak cabang menjadi salah satu teknologi yang penting untuk mereka kenali sejak awal,” ujarnya.
Menurutnya, sistem digital juga dapat membantu mahasiswa memahami pentingnya akurasi dalam operasional bisnis.
Dengan pencatatan digital, potensi kesalahan manusia dalam mencatat transaksi dapat ditekan.
Mahasiswa juga bisa melihat laporan keuangan dan kondisi stok secara real-time.
“Dengan sistem ini, mahasiswa bisa belajar mengurangi human error dalam pencatatan transaksi. Mereka juga dapat melihat laporan keuangan dan stok secara real-time. Ini memberikan pengalaman yang berbeda karena sejak awal mereka sudah dibiasakan mengambil keputusan berdasarkan data,” tambahnya.
Pengalaman Selling Day memberikan perspektif baru bagi mahasiswa bahwa kewirausahaan tidak berhenti pada kemampuan membuat produk dan menarik pembeli.
Saat transaksi berlangsung, data penjualan langsung tercatat dalam sistem. Kondisi tersebut memungkinkan mahasiswa memantau perkembangan penjualan dan stok tanpa harus mengandalkan pencatatan manual.
Bagi mahasiswa baru, pengalaman tersebut menjadi simulasi sederhana mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membuat proses bisnis lebih efisien dan terukur.
Kuncoro Gideon Rhemano, mahasiswa baru Program Studi Ilmu Komunikasi yang mengikuti Selling Day, mengaku awalnya kelompoknya lebih banyak berfokus pada pengembangan produk.
“Awalnya kami lebih fokus memikirkan produknya, mulai dari rasa sampai bagaimana membuat orang tertarik membeli. Setelah menggunakan POS, kami jadi belajar bahwa pencatatan transaksi dan stok juga penting,” ungkapnya.
Menurut Kuncoro, sistem tersebut memudahkan kelompoknya mengetahui produk yang telah terjual sekaligus jumlah stok yang masih tersedia.
Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan kepada mahasiswa baru bahwa menjalankan bisnis membutuhkan perpaduan antara kreativitas, kemampuan membaca data dan pemanfaatan teknologi.