TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Martin Sulle kini memasuki periode keempat sebagai Ketua RT 004 RW 010 Kelurahan Tello Baru, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.
Jika menuntaskan periode kepemimpinannya saat ini, pria kelahiran Tana Toraja, 5 Oktober 1967, tersebut akan mengabdikan hampir 20 tahun hidupnya untuk mengurus lingkungan tempat tinggalnya.
Dalam kurun waktu tersebut, Martin menyaksikan berbagai persoalan yang dihadapi warga sekaligus perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Dengan jumlah sekitar 35 kepala keluarga, kedekatannya dengan warga terbangun melalui interaksi yang berlangsung selama bertahun-tahun.
"Kalau warga yang memang menetap dan ber-KTP di sini, Alhamdulillah saya sudah kenal semua. Karena sudah hampir 20 tahun," kata Martin.
Martin mengawali tugasnya sebagai Ketua RT ketika masih aktif bekerja sebagai karyawan swasta.
Saat itu, warga mempercayakan kepadanya untuk memimpin lingkungan. Kepercayaan tersebut kemudian terus berlanjut hingga kini.
Selama menjadi Ketua RT, pelayanan administrasi menjadi salah satu tugas rutinnya.
Warga datang untuk mengurus surat pengantar, domisili, administrasi pertanahan, hingga berbagai keperluan lainnya.
Selain urusan administrasi, ia juga menangani berbagai kebutuhan warga yang berkaitan dengan persoalan sosial, seperti ketika terdapat warga yang sakit maupun meninggal dunia.
Pengalaman tersebut membuat Martin memandang posisi Ketua RT memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
"Kalau namanya RT, memang ujung tombak. Kami yang betul-betul mengetahui kondisi wilayah dan warga yang ada di situ," katanya.
Pengurus RT juga menjadi penghubung antara warga dan pemerintah ketika berbagai kegiatan dilaksanakan di lingkungan masyarakat.
Martin mengatakan, ia kerap mengumpulkan warga apabila terdapat sosialisasi atau kegiatan dari pemerintah dan instansi terkait.
Kegiatan yang pernah difasilitasi di lingkungannya antara lain sosialisasi kesehatan, hukum, kebersihan lingkungan, hingga pencegahan penyalahgunaan narkoba.
"Kalau ada kegiatan dari dinas atau pemerintah, kami yang membantu mengumpulkan warga dan memfasilitasi pelaksanaannya di lingkungan," ujarnya.
Di luar pelayanan kepada warga, Martin juga memiliki perhatian terhadap pemanfaatan lingkungan.
Hobi menanam yang telah lama dilakukannya kemudian sejalan dengan program urban farming yang digalakkan Pemerintah Kota Makassar.
Ia menjadi salah satu penggerak kegiatan urban farming di wilayah RW 010.
Martin mengembangkan Sermani Hidroponik dengan menanam sejumlah jenis sayuran.
Selada, pakcoy, kangkung, dan bayam menjadi beberapa tanaman yang pernah dibudidayakan melalui sistem tersebut.
Sementara secara konvensional, ia juga menanam cabai, tomat, terong, dan berbagai jenis tanaman lainnya.
"Kami masih terus melakukan penanaman, dan untuk jenis tanamannya menyesuaikan dengan kondisi cuaca," jelasnya.
Persoalan lingkungan lain yang kini menjadi perhatian Martin adalah pengelolaan sampah.
Ia bersama warga mulai menerapkan pemilahan sampah basah dan sampah kering dari rumah masing-masing.
Martin mengakui perubahan kebiasaan tersebut tidak berlangsung secara sekaligus.
Perbedaan pemahaman warga menjadi salah satu tantangan dalam menerapkan kebiasaan baru tersebut.
Namun, ia menilai kesadaran warga untuk memilah sampah mulai tumbuh.
"Memang masyarakat ini berbeda-beda pemahamannya. Tetapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai sadar dan mulai memilah sampah," katanya.
Ke depan, Martin ingin pengelolaan sampah di wilayahnya terus diperbaiki.
Salah satu rencana yang ingin didorong adalah mengaktifkan bank sampah yang telah ada agar dapat dikelola dengan lebih baik.
"Ke depan kami tetap berorientasi pada sampah. Bank sampah itu harus diaktifkan dan dikelola lebih baik," ujarnya.
Setelah memasuki periode keempat sebagai Ketua RT, Martin kini juga mulai memikirkan keberlanjutan kepengurusan di lingkungannya.
Ia berharap warga yang lebih muda mulai mengambil peran dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Keterlibatan generasi muda dinilai penting agar terdapat penerus yang memahami kondisi lingkungan dan siap melanjutkan kepemimpinan.
"Yang muda-muda harus mulai dilibatkan. Tidak selamanya kami yang tua-tua ini menjadi pengurus. Harus ada generasi pelanjut," katanya.
Sebelum menetap di Makassar, Martin menjalani masa kecil dan pendidikan di dua daerah.
Ia lahir di Tana Toraja dan menempuh pendidikan dasar di SD Bersubsidi Buntudatu.
Ketika orang tuanya bekerja di Kabupaten Bantaeng, Martin kemudian ikut pindah dan melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Bantaeng serta SMA Negeri 1 Bantaeng.
Pada 1986, ia datang ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan.
Martin kemudian menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen Perpajakan di STIE-STIKI Makassar.
Setelah menamatkan pendidikan, Martin kemudian bekerja sekitar 15 tahun sebagai supervisor pemasaran pada perusahaan distributor produk Unilever.
Pada 2023, ia berhenti bekerja di perusahaan tersebut dan memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga sekaligus mengabdi di lingkungan.
Dalam hidup, Martin memegang prinsip kebersamaan dan keikhlasan. Prinsip tersebut menjadi pedomannya dalam bekerja dan mengabdi di tengah masyarakat.
"Pekerjaan tersulit akan terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama dengan senyum dan keikhlasan," kata Martin.
Profil Singkat:
Nama: Martin Sulle
Jabatan: Ketua RT 004 RW 010
Kelurahan: Tello Baru
Kecamatan: Panakkukang
Tempat Tanggal Lahir: Tana Toraja, 5 Oktober 1967
Alamat: Jalan Sermani Makassar
Riwayat Pendidikan:
- S1 Manajamen Perpajakan STIE-STIKI Makassar
- SMA Negeri 1 Bantaeng
- SMP Negeri 2 Bantaeng
- SD Bersubsidi Buntudatu
Riwayat Pekerjaan:
- Karyawan Swasta
Hobi: Menanam
Jumlah Penduduk: 35 KK