PROFIL Ketua RT, Martin Sulle Pria Asal Toraja Sudah 20 Tahun Layani Warga Tello Baru
Saldy Irawan September 03, 2026 11:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Martin Sulle kini memasuki periode keempat sebagai Ketua RT 004 RW 010 Kelurahan Tello Baru, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

‎Jika menuntaskan periode kepemimpinannya saat ini, pria kelahiran Tana Toraja, 5 Oktober 1967, tersebut akan mengabdikan hampir 20 tahun hidupnya untuk mengurus lingkungan tempat tinggalnya.

‎Dalam kurun waktu tersebut, Martin menyaksikan berbagai persoalan yang dihadapi warga sekaligus perubahan yang terjadi di lingkungannya.

‎Dengan jumlah sekitar 35 kepala keluarga, kedekatannya dengan warga terbangun melalui interaksi yang berlangsung selama bertahun-tahun.

‎"Kalau warga yang memang menetap dan ber-KTP di sini, Alhamdulillah saya sudah kenal semua. Karena sudah hampir 20 tahun," kata Martin.

‎Martin mengawali tugasnya sebagai Ketua RT ketika masih aktif bekerja sebagai karyawan swasta.

‎Saat itu, warga mempercayakan kepadanya untuk memimpin lingkungan. Kepercayaan tersebut kemudian terus berlanjut hingga kini.

‎Selama menjadi Ketua RT, pelayanan administrasi menjadi salah satu tugas rutinnya.

‎Warga datang untuk mengurus surat pengantar, domisili, administrasi pertanahan, hingga berbagai keperluan lainnya.

‎Selain urusan administrasi, ia juga menangani berbagai kebutuhan warga yang berkaitan dengan persoalan sosial, seperti ketika terdapat warga yang sakit maupun meninggal dunia.

‎Pengalaman tersebut membuat Martin memandang posisi Ketua RT memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.

‎"Kalau namanya RT, memang ujung tombak. Kami yang betul-betul mengetahui kondisi wilayah dan warga yang ada di situ," katanya.

‎Pengurus RT juga menjadi penghubung antara warga dan pemerintah ketika berbagai kegiatan dilaksanakan di lingkungan masyarakat.

‎Martin mengatakan, ia kerap mengumpulkan warga apabila terdapat sosialisasi atau kegiatan dari pemerintah dan instansi terkait.

‎Kegiatan yang pernah difasilitasi di lingkungannya antara lain sosialisasi kesehatan, hukum, kebersihan lingkungan, hingga pencegahan penyalahgunaan narkoba.

‎"Kalau ada kegiatan dari dinas atau pemerintah, kami yang membantu mengumpulkan warga dan memfasilitasi pelaksanaannya di lingkungan," ujarnya.

‎Di luar pelayanan kepada warga, Martin juga memiliki perhatian terhadap pemanfaatan lingkungan.

‎Hobi menanam yang telah lama dilakukannya kemudian sejalan dengan program urban farming yang digalakkan Pemerintah Kota Makassar.

‎Ia menjadi salah satu penggerak kegiatan urban farming di wilayah RW 010.

‎Martin mengembangkan Sermani Hidroponik dengan menanam sejumlah jenis sayuran.

‎Selada, pakcoy, kangkung, dan bayam menjadi beberapa tanaman yang pernah dibudidayakan melalui sistem tersebut.

‎Sementara secara konvensional, ia juga menanam cabai, tomat, terong, dan berbagai jenis tanaman lainnya.

‎"Kami masih terus melakukan penanaman, dan untuk jenis tanamannya menyesuaikan dengan kondisi cuaca," jelasnya.

‎Persoalan lingkungan lain yang kini menjadi perhatian Martin adalah pengelolaan sampah.

‎Ia bersama warga mulai menerapkan pemilahan sampah basah dan sampah kering dari rumah masing-masing.

‎Martin mengakui perubahan kebiasaan tersebut tidak berlangsung secara sekaligus.

‎Perbedaan pemahaman warga menjadi salah satu tantangan dalam menerapkan kebiasaan baru tersebut.

‎Namun, ia menilai kesadaran warga untuk memilah sampah mulai tumbuh.

‎"Memang masyarakat ini berbeda-beda pemahamannya. Tetapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai sadar dan mulai memilah sampah," katanya.

‎Ke depan, Martin ingin pengelolaan sampah di wilayahnya terus diperbaiki.

‎Salah satu rencana yang ingin didorong adalah mengaktifkan bank sampah yang telah ada agar dapat dikelola dengan lebih baik.

‎"Ke depan kami tetap berorientasi pada sampah. Bank sampah itu harus diaktifkan dan dikelola lebih baik," ujarnya.

‎Setelah memasuki periode keempat sebagai Ketua RT, Martin kini juga mulai memikirkan keberlanjutan kepengurusan di lingkungannya.

‎Ia berharap warga yang lebih muda mulai mengambil peran dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

‎Keterlibatan generasi muda dinilai penting agar terdapat penerus yang memahami kondisi lingkungan dan siap melanjutkan kepemimpinan.

‎"Yang muda-muda harus mulai dilibatkan. Tidak selamanya kami yang tua-tua ini menjadi pengurus. Harus ada generasi pelanjut," katanya.

‎Sebelum menetap di Makassar, Martin menjalani masa kecil dan pendidikan di dua daerah.

‎Ia lahir di Tana Toraja dan menempuh pendidikan dasar di SD Bersubsidi Buntudatu.

‎Ketika orang tuanya bekerja di Kabupaten Bantaeng, Martin kemudian ikut pindah dan melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Bantaeng serta SMA Negeri 1 Bantaeng.

‎Pada 1986, ia datang ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan.

‎Martin kemudian menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen Perpajakan di STIE-STIKI Makassar.

‎Setelah menamatkan pendidikan, Martin kemudian bekerja sekitar 15 tahun sebagai supervisor pemasaran pada perusahaan distributor produk Unilever.

‎Pada 2023, ia berhenti bekerja di perusahaan tersebut dan memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga sekaligus mengabdi di lingkungan.

‎Dalam hidup, Martin memegang prinsip kebersamaan dan keikhlasan. Prinsip tersebut menjadi pedomannya dalam bekerja dan mengabdi di tengah masyarakat.

‎"Pekerjaan tersulit akan terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama dengan senyum dan keikhlasan," kata Martin.


‎Profil Singkat: 

‎Nama: Martin Sulle
‎Jabatan: Ketua RT 004 RW 010
‎Kelurahan: Tello Baru
‎Kecamatan: Panakkukang
‎Tempat Tanggal Lahir: Tana Toraja, 5 Oktober 1967
‎Alamat: Jalan Sermani Makassar
‎Riwayat Pendidikan:
‎- S1 Manajamen Perpajakan STIE-STIKI Makassar
‎- SMA Negeri 1 Bantaeng 
‎- SMP Negeri 2 Bantaeng
‎- SD Bersubsidi Buntudatu
‎Riwayat Pekerjaan:
‎- Karyawan Swasta
‎Hobi: Menanam 
‎Jumlah Penduduk: 35 KK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.