Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mendorong mobilisasi mahasiswa dari konsorsium perguruan tinggi sebagai garda terdepan penanganan tuberkulosis (TBC) hingga ke tingkat desa. Pelibatan mahasiswa dinilai ampuh mengatasi keterbatasan tenaga kesehatan, terutama untuk pelacakan kasus dan edukasi masyarakat.
Kehadiran jajaran pendidikan tinggi diakui memberikan dampak besar bagi upaya penjangkauan kasus di lapangan yang selama ini terbatas.
“Kehadiran jajaran Dikti ini menambah bukan hanya angin segar, tapi darah segar bagi kami, karena saya dengan Pak Wamenkes berkunjung bukan hanya di level provinsi, kabupaten tapi sampai ke tingkat kecamatan dan desa,” ujar Wiyagus saat Rapat Koordinasi Konsorsium Perguruan Tinggi dalam Mendukung Penanganan Tuberkulosis di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Wiyagus memaparkan pemetaan target strategis nasional. Pemerintah menargetkan minimal 90 persen terduga TBC mendapatkan pemeriksaan diagnostik, pelacakan kontak erat, hingga jaminan keberhasilan pengobatan pasien secara tuntas.
Guna memastikan kolaborasi ini berjalan berkelanjutan, Wiyagus meminta seluruh pemerintah daerah (Pemda) mengalokasikan anggaran khusus penanganan TBC ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Masalah kesehatan ini kan urusan pemerintahan yang sifatnya wajib dan terkait lagi dengan pelayanan dasar, sehingga wajib hukumnya kepada pemerintah daerah masalah penanganan kesehatan tuberkulosis ini masuk dalam dokumen perencanaan baik RPJMD, RKPD, sampai ke APBD,” tegasnya.
Langkah masif lintas sektor ini diharapkan dapat mempercepat capaian target eliminasi TBC nasional dalam tenggat waktu tiga tahun mendatang, sesuai dengan arahan prioritas presiden.
"Kami Kemendagri sebagai pelaksana fungsi pembinaan dan pengawasan penyelenggaran pemerintahan daerah tidak bosan-bosan karena ini bagian dari program prioritas Bapak Presiden, yang memang tiga tahun kita ditarget harus ada eliminasi tuberkulosis,” pungkasnya.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri oleh Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, Sekjen Kemendikti Sainstek Badri Munir Sukoco, serta Deputi Kemenko PMK Sukadiono.