Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung menyalurkan sebanyak 4.736 unit bantuan pompa air kepada kelompok tani di 15 kabupaten/kota untuk mengantisipasi krisis air pada lahan pertanian akibat musim kemarau.
Baca juga: Jaga Produksi Pangan di Tengah Krisis Air, Lampung Andalkan Ribuan Pompa
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Tubagus Muhammad Rifki, mengonfirmasi alokasi ribuan pompa tersebut disalurkan secara bertahap sejak 2024 hingga 2026 sebagai langkah strategis memitigasi risiko puso atau gagal panen.
Penurunan debit air secara signifikan di sejumlah bendungan utama, seperti Bendungan Way Jepara di Lampung Timur yang memiliki potensi layanan irigasi hingga 6.651 hektare, memaksa pengelola membatasi operasional saluran irigasi.
Selain mengandalkan penguatan sistem pompanisasi ke area persawahan, pemerintah daerah turut memberikan perlindungan polis Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) seluas 2.000 hektare demi menjamin kepastian modal kerja para petani.
Langkah penyelamatan sektor pertanian ini difokuskan di area lumbung pangan utama guna menjaga stabilitas pasokan beras serta ketahanan pangan nasional di tengah imbasan cuaca ekstrem.
Kesigapan mitigasi pompanisasi ini krusial diterapkan mengingat terik matahari dan udara panas kian menyengat hingga membuat lahan persawahan di sejumlah wilayah Lampung perlahan mengering akibat kekurangan pasokan air.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata ancaman kekeringan yang dihadapi sektor pertanian Lampung di tengah kemarau.
Penyusutan debit air secara signifikan di Bendungan Way Jepara, Lampung Timur, bahkan telah memaksa pihak pengelola menghentikan sementara operasional saluran irigasi teknis guna menghemat cadangan air.
"Daerah Irigasi Way Jepara memiliki potensi layanan lahan persawahan seluas 6.651 hektare, dengan luas area fungsional saat ini mencapai 5.192,75 hektare," ujar Tubagus Muhammad Rifki, Kamis (3/9/2026).
Kawasan yang bergantung pada irigasi ini mencakup Desa Labuhan Ratu Danau, Braja Asri, Jepara, Sumberjo, Sri Rejosari, hingga desa penyangga lainnya di Kecamatan Way Jepara.
Petugas Pintu Air Bendungan Way Jepara, Sarno, menyampaikan bahwa permukaan air terus merosot sejak awal Mei 2026 akibat minimnya asupan (inflow) dari tiga sungai utama, yaitu Sungai Jepara, Sungai Jejaway, dan Sungai Way Habar.
"Elevasi air saat ini berada di angka 29,49 meter, jauh di bawah batas normal yang mencapai 36,89 meter," jelas Sarno, Rabu (2/9/2026).
Meski operasional saluran irigasi teknis dihentikan sementara untuk cadangan pembukaan musim tanam rendeng pada 1 November mendatang, pengelola bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sepakat memprioritaskan pasokan air tersisa khusus untuk tanaman padi.
Guna mengatasi keterbatasan pasokan air dari irigasi teknis tersebut, penguatan program pompanisasi menjadi modal utama pemerintah daerah.
Tubagus merinci, dari total 4.736 unit bantuan pompa air yang disalurkan bersama Kementerian Pertanian, sebanyak 3.362 unit dialokasikan pada 2024, 1.164 unit pada 2025, dan 101 unit pada 2026.
"Kabupaten Tulangbawang menerima alokasi terbesar yakni 982 unit, disusul Lampung Timur 945 unit, Lampung Tengah 904 unit, Mesuji 353 unit, dan Lampung Selatan 254 unit," paparnya.
Selebihnya terdistribusi ke Pringsewu, Tanggamus, Lampung Barat, Pesisir Barat, Tulangbawang Barat, Metro, hingga Bandar Lampung.
Selain program pompanisasi, Pemprov Lampung mengalokasikan perlindungan AUTP seluas 2.000 hektare pada 2026 yang tersebar di Kabupaten Mesuji, Lampung Tengah, Pesawaran, Lampung Selatan, dan Lampung Timur.
Sementara untuk kebutuhan benih, ketersediaan stok swasta mencapai 1.671.022 kilogram sehingga dinilai aman untuk menopang keberlanjutan produksi pangan daerah.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)