TRIBUNMANADO.CO.ID,TONDANO - Desa Noongan Tiga, Kecamatan Langowan Barat, Minahasa, dikenal sebagai sentra produksi tomat.
Namun ada kendala yang dihadapi oleh petani saat panen tomat sedang tinggi, namun harganya murah.
"Biasanya tomat hanya dibawa ke pasar atau rumah makan, nah kalau harganya sedang turun, petani tidak mungkin membawa kembali tomat, karena akan rusak, terpaksa banyak dibuang," kata Denhart Walean Hukum Tua Noongan Tiga, Kamis 3 September 2026.
Baca juga: Harga Pertalite Eceran di Kotamobagu Tembus Rp 25 Ribu per Botol, Pengemudi Bentor Pilih Parkir
Sebab biasanya tomat hanya bertahan sekitar tiga hari saja, apalagi jika dipanen sudah matang.
Sehingga petani tomat membutuhkan tempat untuk mengelola tomat hasil pertanian yang melimpah tersebut.
"Petani tomat di sini membutuhkan pabrik pengolahan Tomat menjadi saos tomat, selain prosesnya cepat, juga bisa tahan lama," jelasnya.
Sehingga harga tomat bisa stabil dan petani tidak membuang tomat saat harga di pasar sedang turun.
Denhart mengatakan, di Desa Noongan Tiga ada sekitar 15 petani tomat.
Satu petani biasanya 5 sachet, dan dalam satu sachet bisa menghasilkan 100 kas.
Artinya satu petani rata-rata bisa menghasilkan 500 kas per panen. Bahkan bisa lebih tergantung banyaknya bibit yang mereka tanam
"Sekali tanam itu bisa sampai tujuh kali panen kalau bagus tumbuhnya," kata dia.
Biasnya 3-4 bulan tanaman tomat sudah bisa dipanen.
Untuk harga terendah biasa hanya Rp80 ribu per kas, namun kalau sedang tinggi bisa sampai Rp250 ribu per kas.
Kebanyakan tomat yang ditanam berjenis servo, sesuai nama di sachet bibit tomat.
Ia mengatakan, pernah ada mahasiswa yang mencoba membuat keripik tomat, rasanya enak, tapi prosesnya cukup panjang. (AMG)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini