Fenomena Unik Karhutla Berau: Pemilik Lahan Malah Menghilang saat Tim Pemadam Tiba
Dodi Esvandi September 04, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, BERAU — Ada dinamika unik sekaligus menggelitik yang dijumpai petugas pemadam kebakaran PT Yudha Wahana Abadi (YWA) saat merespons titik api di luar area perusahaan. 

Dalam berbagai operasi pemadaman di area kebun masyarakat, pemilik lahan kerap "menghilang" sesaat setelah armada pemadam tiba di lokasi.

Senior Estate Manager PT AAPA/PT YWA, Jabeglin Purba, menceritakan fenomena lapangan tersebut. 
Kebanyakan lahan masyarakat yang terbakar bermula dari sisa bara api kecil pembakaran lahan atau garapan yang ditinggalkan. 

Saat angin kencang berembus di tengah musim kemarau, api dengan cepat membesar.

"Yang unik, begitu tim kita sampai di lokasi kejadian dengan jumlah personel yang ramai—sekali bergerak bisa 60 orang—pemilik lahannya tidak lama kemudian hilang. Ketika ditanya awal sumber api, rata-rata menjawab dari luar masuk ke kebun mereka. Tapi apa pun alasannya dan meski pemiliknya melipir hilang, kami tidak peduli. Tugas utama tim adalah memadamkan api sampai tuntas, tidak boleh ada bara tersisa sebelum kami kembali ke markas," seloroh Jabeglin.

Ia menambahkan, sebagian besar pemilik lahan yang terbakar bahkan berdomisili cukup jauh dari lokasi, seperti di Tanjung Redeb atau Muara Wahau. 

Hal ini menyebabkan lahan-lahan tersebut sering tanpa pengawasan (unsupervised) saat musim kemarau panjang.

Petani mitra PT YWA di Desa Merapun, Herman, membenarkan bahwa insiden kebakaran di wilayahnya kerap dipicu oleh ketidakdisiplinan oknum yang membuka lahan tanpa menjaga perapian. 

Menurutnya, kondisi kemarau panjang tahun 2026 ini membuat vegetasi kering sangat mudah tersulut.

Baca juga: Paparan Asap Karhutla Berulang Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Paru, Ini Cara Mencegahnya

"Ada aktivitas orang bakar untuk buka lahan tapi tidak dijaga. Karena angin dan kering, apinya melompat merembet. Beruntung kami punya kemitraan dan akses cepat ke PT YWA. Begitu dipanggil, mereka siap siang malam datang membawa armada tangki. Kalau tidak ada bantuan perusahaan, kebakaran di Desa Merapun bisa meluas ke mana-mana," terang Herman.

Aksi tanggap perusahaan tanggap api ini disambut positif oleh Muspika Kecamatan Kelay. 

Camat Kelay, Muhammad Saleh, mengapresiasi langkah konkret dan kolaboratif yang ditunjukkan TAP Group di tengah maraknya titik api (hotspot) akibat fenomena cuaca ekstrem.

"Kami menyampaikan apresiasi kepada TAP Group yang sudah melaksanakan langkah antisipasi dan pemadaman. Saat ini situasi memang sudah darurat karena masuk musim El Nino. Sinergi antara perusahaan, pemerintah kecamatan, dan masyarakat melalui Kelompok Tani Peduli Api sangat kami harapkan agar penanganan karhutla berjalan efektif dan berkelanjutan," tutur Camat Kelay, Muhammad Saleh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.