Kasus ISPA di Pangkalpinang Melonjak 4 Kali Lipat, Tertinggi Dibandingkan dengan Tahun 2025
Hendra September 04, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang tercatat dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) di Kota Pangkalpinang mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2026.

Hingga minggu ke-32 tahun ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pangkalpinang mencatat 750 kasus ISPA melalui SKDR.

Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 179 kasus.

Namun, Dinkes Pangkalpinang menegaskan angka tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah warga Kota Pangkalpinang yang terserang ISPA.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Pangkalpinang, Holipah, mengatakan data SKDR juga mencakup pasien dari luar daerah yang mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan di Pangkalpinang.

"Namun data ini tidak serta-merta penduduk Kota Pangkalpinang. Ini ada penduduk di luar Kota Pangkalpinang yang berobat di sini, di Kota Pangkalpinang," kata Holipah kepada Bangkapos.com, Jumat (4/9/2026).

Menurut dia, SKDR menjadi salah satu sumber data yang penting karena laporan kasus dihimpun dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Tidak hanya puskesmas, laporan juga berasal dari rumah sakit yang menjadi unit pelapor dalam sistem tersebut.

"Data kasus ini sebenarnya yang paling baiknya sebenarnya yang ada di SKDR. Kenapa di SKDR? SKDR ini kan mencakup seluruhnya, baik itu Puskesmas maupun Rumah Sakit," ujarnya.

Holipah menjelaskan, lonjakan angka ISPA yang tercatat pada 2026 juga tidak terlepas dari bertambahnya jumlah fasilitas kesehatan yang melaporkan kasus ke dalam SKDR.

Pada 2025, terdapat 16 unit pelapor. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 24 unit pelapor pada 2026.

Artinya, semakin banyak fasilitas kesehatan yang memasukkan laporan kasus ke dalam sistem, sehingga cakupan data yang dihimpun juga menjadi lebih luas.

"Kalau dulu unit pelapor kita hanya 16 unit pelapor, sekarang 24 unit pelapor. Artinya semakin banyak yang melapor ke Pangkalpinang," jelas Holipah.

Selain faktor pelaporan, Dinkes juga melihat kondisi lingkungan dan cuaca sebagai faktor yang dapat berkaitan dengan peningkatan gangguan saluran pernapasan.

Cuaca yang ekstrem dan cenderung kering membuat debu lebih mudah beterbangan dan terpapar kepada masyarakat.

Kondisi tersebut dapat diperburuk oleh asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Untuk kenaikan kasus ini ya, selain pengaruh cuaca, juga ada pengaruh juga dengan kebakaran hutan," katanya.

Holipah mengatakan paparan asap karhutla dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama ketika kualitas udara menurun.

"Kalau karhutla, misalnya asap itu kan menyerang paru-paru. Kan nanti bisa menimbulkan sesak," ujarnya.

Meski angka kumulatif hingga minggu ke-32 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, Dinkes Pangkalpinang melihat adanya perubahan tren dalam beberapa pekan terakhir.

Dari pemantauan mingguan, 750 kasus menjadi angka tertinggi yang tercatat pada minggu ke-32 2026.

Setelah mencapai titik tersebut, jumlah kasus pada beberapa minggu berikutnya mulai menunjukkan kecenderungan menurun.

"Kalau minggu 1 sampai 32, tarikan 2025, tarikan yang sekarang juga minggu 1 sampai minggu ke-32. Kita ngambil puncak yang tertinggi, nih. Di minggu ke-32. Kalau empat minggu yang ke depannya ini udah agak turun, kan bisa dilihat trennya," kata Holipah.

Dinkes Pangkalpinang pun masih memantau perkembangan kasus ISPA melalui laporan SKDR untuk melihat apakah tren penurunan tersebut terus berlanjut.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.