TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Kondisi jarak pandang di wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya masih mengalami perubahan akibat kondisi atmosfer serta pengaruh asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak mencatat jarak pandang di wilayah tersebut berada pada kisaran 1.300 meter pada Jumat, 4 September 2026, pukul 15.00 WIB.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak, Septikasari, mengatakan kondisi jarak pandang sepanjang Jumat mengalami perubahan cukup signifikan sejak pagi hingga sore.
Menurutnya, jarak pandang pada pagi hari sempat berada di angka sekitar 600 meter. Kondisi kemudian mengalami perbaikan pada siang hari dengan jarak pandang mencapai sekitar 1.600 meter.
Namun, memasuki pukul 15.00 WIB, jarak pandang kembali berada di angka sekitar 1.300 meter.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kondisi jarak pandang di Pontianak masih sangat dinamis dan dapat berubah dalam waktu singkat. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah pergerakan angin yang turut menentukan arah pergerakan dan penyebaran asap di udara.
• 15 Jam Padamkan Api Karhutla, Personel Polres Sekadau dan PT Agro Pastikan Tak Ada Bara Menyala lagi
Selain faktor angin, keberadaan titik panas serta aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar juga menjadi salah satu penyebab yang perlu diperhatikan.
"Jarak pandang tergantung angin dan terjadi peristiwa karhutla yang terjadi di sekitar. Saat ini termonitor cukup parah terjadi di Ketapang dan Kalimantan Tengah," ujar Septikasari.
BMKG juga terus memantau perkembangan titik panas yang terdeteksi di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan pada Jumat, 4 September 2026, terdapat sebanyak 2.327 titik panas yang terpantau hingga pukul 14.00 WIB.
Pada waktu tersebut, arah angin terpantau bergerak dari tenggara menuju selatan. Kondisi arah angin ini menjadi salah satu faktor penting dalam memperkirakan kemungkinan pergerakan massa udara yang membawa asap dari wilayah terdampak karhutla.
Di sisi lain, kondisi cuaca di Kota Pontianak dan sejumlah wilayah sekitarnya mulai menunjukkan perkembangan positif. BMKG memantau adanya hujan yang terjadi di wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya pada Jumat.
"Saat ini termonitor terjadi hujan di wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya," kata Septikasari.
BMKG juga memprakirakan adanya potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Kalimantan Barat. Potensi tersebut diperkirakan terdapat di Kabupaten Kapuas Hulu, Sekadau, Sanggau, serta sebagian wilayah Kabupaten Sintang.
"Lanjutnya, diperkirakan potensi awan hujan itu terjadi di wilayah Kapuas Hulu, Sekadau, Sanggau dan sebagian Kota Sintang," jelasnya.
Dengan kondisi cuaca yang masih berubah-ubah, masyarakat di wilayah yang terdampak kabut asap diimbau tetap memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara.
Perubahan arah angin maupun turunnya hujan dapat menyebabkan kondisi jarak pandang berubah dalam waktu relatif cepat.
• Cuaca Sambas di Seluruh Kecamatan 4-13 September 2026: Dominasi Kabut Asap hingga Petir
Kondisi jarak pandang menjadi perhatian penting, terutama bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan maupun pengguna kendaraan.
Ketika jarak pandang menurun, pengendara diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan kecepatan kendaraan dengan kondisi jalan serta lingkungan sekitar.
Sementara itu, perkembangan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dan daerah sekitarnya masih menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kondisi udara.
Asap yang terbawa angin dari lokasi kebakaran dapat menyebabkan jarak pandang kembali menurun apabila kondisi atmosfer mendukung terjadinya akumulasi asap.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak terus melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca, arah angin, jarak pandang, potensi hujan, serta perkembangan atmosfer untuk memberikan informasi terbaru kepada masyarakat.
(*)